Rumah Kotak

Sumber gambar dari SINI.

Bapak menyebut rumah ini rumah kotak. Bukan karena bentuknya yang benar-benar kubus. Hanya saja karena ya memang rumah kami bentuknya sungguh simpel, berukuran  7 x 9 meter tanpa teras juga tanpa halaman belakang apalagi halaman depan. Buka pintu depan, voila selamat datang ke “lalu lintas” jalan gang yang sempit seperti gang kelinci.

Bahkan hanya berjarak sekitar 2 meter di depan rumah sudah rumah tetangga. Kiri kanan rumah juga langsung mepet tembok rumah tetangga kami. Rumah kotak kami tak punya pintu belakang. Buat apa juga? Karena di belakang ada semacam peternakan ayam dan rumah tetangga yang lain.

Belum genap satu tahun saya sekeluarga pindah ke sini tapi sudah banyak cerita yang kami dapatkan. Ada yang bikin jengkel tapi ada juga yang kocak. Hm, mulai cerita dari yang mana dulu ya?

Saat Harus Angkat Kaki dari Rumah Milik Negara

Agak berat ketika tahun lalu akhirnya saya sekeluarga harus pindah dari rumah yang sudah kami tempati sekitar 24 tahun. Tapi memang sudah saatnya. Rumah yang kami tempati waktu itu adalah milik negara. Saat Bapak pensiun, ya kami pun harus pindah.

Masih teringat jelas saat itu bulan puasa. Bapak dapat panggilan dari kantornya dan diberi instruksi untuk segera pindah. Mau tak mau dengan semuanya yang serba mendadak, kami pun pindahan. Padahal rumah baru kami saat itu belum sepenuhnya jadi. Tak ada acara khusus saat pindahan, hanya acara syukuran sederhana dengan membagikan nasi kotak ke para tetangga baru.

Rumah Nyempil di Gang Sempit

“Sekarang, rumahnya bejubel
Oh, padat penghuninya
Anak-anak segudang
Grudak gruduk kaya kelinci…”

Cuplikan lagu Gang Kelinci itu sungguh pas menggambarkan lingkungan baru saya di sini. Rumah di perkampungan ini sungguh berjubel. Rumah saya pun nyempil di salah satu sudut gang yang bisa dibilang seperti gang kelinci. Anak-anak tetangga berisiknya minta ampun. Lari-larian, tataluan, sampai main mercon tepat di depan rumah. Bikin kepala pecah nggak sih? Hari Minggu saat mau tidur siang (kesempatan yang sangat langka setelah seminggu kerja) malah berakhir ngomel-ngomel sendiri karena stres mendengarkan mereka ributnya nggak karuan. Mau marahin mereka takut dilabrak orang tuanya. Didiemin juga bikin kepala makin puyeng. Itu baru anak-anak ya. Belum lagi orang tua mereka.

Jadi nih, ibu-ibu di sini hobi banget menggosip. Mulai soal sinetron sampai ngomongin tetangga mereka sendiri. Kalau sudah kumpul, huwooo mereka bisa heboh sendiri dengan volume suara yang sungguh meledak-meledak. Itu baru soal kebiasaan menggosip. Belum lagi dengan kebiasaan menyetel musik. Tetangga depan rumah hobi dangdutan. Tetangga di sudut gang hobi tayuban. Sering sekali pagi-pagi saya kebangun gara-gara musik mereka yang menggelegar dan rasanya bikin misuh-misuh. Ibu di rumah sampai nggak merasa aneh lagi kalau melihat wajah saya yang langsung bete dan kusut saat bangun pagi gara-gara suara dangdut atau tayub.

Rumah yang saling berdempetan membuat kami mudah sekali secara tidak langsung tahu “urusan dapur tetangga”. Si istri yang bertengkar dengan suaminya yang malah kelayapan setelah pulang kerja. Si ibu yang lagi perang dingin dengan putrinya sendiri. Ibu mertua yang mengomeli menantunya. Bocah yang diomeli ibunya karena main terus dan nggak mau belajar. Tangisan si krucil yang rewel. Pertengkaran soal uang, hutang, dan bikin pusiang orang yang mendengarnya. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala mendengar itu semua.

Saking Dekatnya dengan Para Tetangga, Semua Dianggap “Rumah Sendiri”

Agak kurang nyaman ketika para tetangga begitu santainya menganggap rumah orang lain seperti rumah sendiri. Meski memang dekat, tapi ya mbok kalau mau bertamu ketuk pintu dulu. Ini nggak, sebagian besar malah langsung membuka pintu dan nyelonong masuk. Ibu pun sering wanti-wanti untuk selalu mengunci rumah. Nggak enak kan kalau tetangga langsung masuk ketika yang punya rumah lagi mandi?

Tapi ada untungnya juga ada tetangga yang dekat kanan-kiri. Pernah suatu hari, ada seekor ular masuk ke rumah. Ibu yang saat itu di rumah sendirian sama Adik langsung panik dan keluar rumah. Beruntung ada sejumlah tetangga yang lagi berkumpul di depan rumah. Mereka pun langsung membantu Ibu mengeluarkan ular yang akhirnya tewas itu dari rumah. Entah apa jadinya kalau tak ada tetangga di dekat rumah, Ibu yang fobia sama ular itu bisa-bisa pingsan di tempat.

Tetangga memang saudara yang paling dekat saat di rumah. Meski sebal dan kadang dibuat jengkel, mereka akan selalu jadi orang pertama yang akan kita minta bantuan saat punya masalah di rumah.

Ada Kamar Tidur “Sekelas Apartemen” di Rumah Ini

Beberapa waktu yang lalu, sejumlah sahabat saya datang berkunjung untuk pertama kalinya ke rumah. Saat mereka masuk ke kamar saya, mereka langsung berkomentar, “Wah, kayak apartemen aja.” Komentar itu keluar ketika mereka melihat ada kulkas di dalam kamar tidur saya (entah apa juga hubungannya kulkas di dalam kamar dan apartemen). Hehe, bukan bermaksud egois dengan punya “kulkas pribadi” di dalam kamar. Hanya saja memang nggak ada sudut kosong untuk menaruh kulkas dan colokan listrik yang masih tersedia ada di kamar saya.

Dari tiga kamar tidur yang ada di rumah ini, kamar tidur saya lah yang paling luas. Semua perabot besar dan penting ditaruh di kamar saya. Termasuk kulkas, komputer, lemari, dan juga rak buku. Meski kamar saya yang paling luas tapi paling banyak perabotnya. Meski begitu, justru ruang kamar tidur inilah yang paling nyaman untuk saya.

Rumah Sederhana untuk Kebahagiaan Kami Sekeluarga yang Sederhana

Ada satu cita-cita yang kemudian terbersit saat baru pindah ke rumah kotak ini. Ingin rasanya membelikan rumah yang lebih luas untuk Ibu dan Bapak. Rumah dengan halaman luas dan juga tempat jemuran sendiri. Di rumah ini, Ibu harus menumpang menjemur baju di halaman orang lain. Dalam keadaan darurat, jemuran itu harus digantung di langit-langit rumah dan kering dengan diangin-anginkan. Bapak setelah pensiun ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bercocok tanam. Andai di rumah ini ada kebun atau halaman, Bapak pasti nggak perlu harus pergi ke ladang yang jauh untuk menyalurkan kecintaannya ini.

Impian dan cita-cita itu selalu ada. Tapi yang lebih penting saat ini adalah mensyukuri semua yang sudah tersedia.

Sering saya mendengar rekan sejawat Bapak  yang setelah pensiun belum mendapat rumah yang layak. Ada yang malah tertipu saat membeli rumah. Di sini, di rumah kotak ini, kami sekeluarga sungguh bersyukur punya tempat berteduh. Tidak kepanasan saat terik. Tidak juga kedinginan saat hujan lebat mengguyur. Yang penting lagi rumah kali ini milik sendiri, bukan lagi milik negara seperti rumah yang sebelumnya.

Selain itu, dengan tinggal di rumah ini, saya jadi lebih dekat untuk ke kantor. Kalau dulu harus dua kali naik angkot untuk sampai ke kantor, sekarang cukup sekali saja. Swalayan yang terkenal dengan harga produknya yang lebih ekonomis pun cuma sepelemparan batu dari rumah. Mau belanja gampang. Untuk beli sayur mayur dan bahan makanan sehari-hari juga nggak susah, tinggal buka pintu dan jalan kaki dua langkah sampai sudah ke tetangga depan rumah yang selalu buka lapak sayur tiap pagi. Adik saya pun akhirnya punya kamar tidur pribadi setelah bertahun-tahun tidur di sudut ruang tamu di rumah yang lama. Sungguh, dalam hal-hal sederhana ternyata ada banyak keberuntungan yang bisa disyukuri.

Meski rumah ini bentuknya (terlalu) simpel dan nyempil di gang sempit, saya sungguh sangat bersyukur punya kamar yang sangat nyaman. Terlebih lagi masih bisa berkumpul dengan Bapak, Ibu, dan Adik di sini.

Kebahagiaan di rumah itu sesederhana ketika pulang kantor sudah dibuatkan mie rebus yang masih mengepul hangat. Rasa bahagia itu sesimpel saat masih bisa iseng merecoki Ibu yang masak di dapur atau bereksperimen membuat kue yang sering gagal bareng Adik. Bahkan bahagia itu ketika masih bisa bergosip dengan Ibu, Bapak, dan Adik tentang si tetangga anu yang ribet sendiri soal anu.

Meski di rumah ini tak ada ruang makan khusus, kami sekeluarga tetap bisa makan bersama sambil nonton televisi. Meski ruangan terbatas, kebersamaan tetap bisa terjaga. Bahkan mungkin karena rumah nggak terlalu luas inilah yang justru makin mendekatkan kami semua kali ya?

Membuat tulisan ini, saya kembali diingatkan untuk lebih banyak bersyukur. Jujur saya masih sering mengeluh soal pindah di rumah yang belum genap kami tempati selama setahun ini. Ada saja hal yang membuat saya sering komplain dan merasa kurang. Masih sering saya membanding-bandingkan rumah kotak ini dengan rumah di kompleks perumahan lain atau rumah milik tetangga yang di mata saya jauh lebih bagus. Sungguh saya merasa jadi orang yang tak tahu diri saat saya sebenarnya jauh lebih beruntung dibandingkan orang lain.

Tiap orang pasti punya rumahnya masing-masing. Besar, kecil, megah, sederhana, semua itu sebenarnya bukan ukuran kebahagiaan. Melainkan dengan siapa kita melewatkan waktu bersama saat di rumah. Juga pastinya bagaimana cara kita untuk mensyukuri semua yang sudah kita punya.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

5 thoughts on “Rumah Kotak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s