Ketika Tempat Baru Tak Senyaman yang Lama

Pertengahan tahun ini saya sekeluarga pindah ke rumah yang baru. Rumah lama sudah saatnya ditinggalkan karena memang dari awal rumah itu milik negara. Berhubung bapak sudah pensiun dari “dunia persilatan”, jadilah kami sudah tak punya hak tinggal di rumah itu.

Alhamdulillah sekarang sudah tinggal di rumah milik sendiri. Dan masalahnya, saya malah jadi membanding-bandingkan kenyamanannya dari rumah yang dulu. Jujur rasanya lebih nyaman tinggal di rumah lama.

Rumah yang sekarang letaknya nyempil di pemukiman padat. Nggak ada halaman atau teras, Sekalinya buka pintu langsung ke jalan gang. Tempat buat jemuran pun nggak ada, jadilah harus disiasati sedemikian rupa yang bikin ibuk kelihatan makin capek tiap kali mau jemur baju. Belum lagi dengan masalah-masalah lainnya.

Mulai dari masalah air yang berulang kali macet dan harus bapak bongkar yang biasanya butuh waktu seharian penuh. Kamar mandi yang lebih sempit dan gelap. Masalah saluran air yang kadang mengeluarkan bau tak sedap di siang hari. Juga masalah tetangga depan rumah.

Namanya di pemukiman padat, jadinya jarak antar rumah benar-benar mepet. Sebenarnya sih saya nggak terlalu mempermasalahkannya. Masalahnya adalah karena tetangga depan rumah ini doyan banget masang musik dangdut kenceng banget. Bikin berisik dan pusing dengernya.

Pernah suatu hari saya sakit demam dan dilanda sakit kepala yang nggak karuan. Pengennya bisa istirahat dengan tenang biar cepet sembuh. Eh, malah tetangga masang musik dangdut kuenceng banget (pas kebetulan mereka juga lagi renovasi rumah jadinya musiknya makin kenceng hampir seharian penuh). Duh, tersiksa banget rasanya, sakit kepala makin nyut-nyutan nggak karuan. Tadi pagi berhubung hari Minggu inginnya bisa bangun agak siangan, tapi nggak bisa karena si tetangga pasang musik dangdut kenceng banget pagi-pagi, pusing lah pala barbie ini sodarah…

Ketika tempat dan lingkungan baru nggak senyaman yang lama memang kadang bikin stres sendiri. Sepertinya saya emang kurang bersyukur banget, ya. Sudah beruntung masih bisa tinggal di rumah sendiri dan punya kamar sendiri, tapi masih aja ngeluh ini itu. Padahal perjuangan bapak sama ibuk akhirnya bisa pindah ke rumah sendiri ini juga nggak gampang. Betapa capeknya mereka beberapa bulan terakhir ini ngurus ini itu. Pindahan rumah juga dilakukan pas bulan puasa dan capeknya mereka pasti luar biasa dibandingkan yang saya rasakan. Dan saya masih aja ngeluh? Hiks.

Perasaan masih membanding-bandingkan yang dulu dengan yang sekarang memang masih ada. Bikin capek pikiran sendiri sih memang. Tapi ya sudahlah. Mungkin saya juga memang harus lebih  banyak belajar untuk mensyukuri semuanya which is still not easy.

Hmm, tapi pindah di rumah yang sekarang juga ada sisi bagusnya. Bagusnya jarak rumah ke kantor jadi lebih deket. Dan sinyal internet juga lebih oke, hehe.

Nyaman atau tidak nyaman, saya yang harus bisa lebih berusaha untuk menyesuaikan diri nih kayaknya dengan semua yang baru.

Rasa nyaman itu kita sendiri lah yang menciptakannya, bener nggak sih?

 

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

6 thoughts on “Ketika Tempat Baru Tak Senyaman yang Lama”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s