Di Bandara, Bayar Asuransi Tambahan Lagi?

Ini pengalaman pertama saya berangkat dari bandara Lombok menuju Surabaya. Baru pertama kali, tapi sudah mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan. Tapi nggak apa-apa lah, hitung-hitung buat pengalaman juga.

Jadi ceritanya, tanggal 31 Mei 2015, saya dan seorang teman saya mau balik ke Surabaya naik pesawat terbang dari Bandara Lombok. Setelah check ini, kami langsung menuju boarding room. Sampai di belokan menuju gate 3,4 (kalau tak salah), tiba-tiba kami dipanggil oleh mas-mas, sebut saja Mas X. Dia berada di semacam counter bersama dengan dua orang mbak-mbak, sebuat saja Mbak Y dan Mbak Z.

Kami ditanya akan pergi ke mana. Terus tiba-tiba disuruh bayar asuransi tambahan. Si Mas X terlihat begitu meyakinkan kalau bayar asuransi tambahan senilai 25 ribu itu wajib. Si Mbak Y juga bilang, “Nanti ada bukti kuitansinya, kok.” Si Mbak Y ini agak jutek gitu.

Bandara Lombok
Bandara Lombok

Teman saya yang sudah beberapa kali naik pesawat langsung heran. Selama ini ia tak pernah diwajibkan bayar asuransi tambahan lagi di bandara. Mimik wajahnya langsung kusut, kok bayar lagi sih. Sementara saya yang baru pertama kali terbang dari Lombok, dengan dodolnya, cuma nurutin aja. Saya pikir ini emang udah aturannya bayar asuransi tambahan.

Lalu saya dan teman saya menuju ke boarding room. Teman saya pun tanya ke petugasnya, “Pak, bayar asuransi tambahan itu wajib, ya?” Si petugas menjawab, “Kalau itu terserah, mau bayar ya boleh, nggak juga boleh.” Teman saya ini makin terlihat jengkel, “Wah, tadi dibilangnya wajib si Mas X.” “Laporin aja mbak kalau kayak gitu,” si petugas kasih saran.

Setelah masuk ke boarding room, baru saja duduk, teman saya memutuskan untuk ngelabrak si Mas X. Sementara saya menunggu di dalam boarding room. Beberapa menit kemudian, teman saya akhirnya kembali dengan mendapatkan uangnya lagi. “Gimana?” tanya saya. “Uangnya aku minta lagi,” jawabnya dengan ekspresi yang masih terlihat bersungut-sungut sekaligus lega. Saya akhirnya gantian yang keluar dari boarding room dan balik ke counter tadi.

Waktu saya balik ke counter, “Mbak, ini mau ngembalikan asuransinya.” Saya disambut oleh si Mbak Y, dia langsung ngambil boarding pass saya dan melepaskan kuitansi yang tadi distapler. Si Mbak Y ini sama sekali tak bicara apa-apa, dia pun nggak menatap saya sama sekali. Sementara si Mas X, dia malah duduk di bawah di balik counter sambil menunduk, tanpa suara. Setelah kuitansi dilepas, saya langsung bilang terima kasih dan ditanggapi dingin saja. Hadeuh!

Setelah kembali ke boarding room, teman saya pun menceritakan detailnya. Kurang lebih dia cerita, “Aku tadi bilang ‘mas nipu ya?’ Tambahan asuransinya nggak wajib, kok tadi bilangnya wajib. Terus si masnya menyanggah, ‘Tadi saya bilang nggak wajib kok,’ Aku ya bilang lagi, lha tadi waktu ditanya wajib nggaknya, masnya juga diam aja. ‘Terus gimana?’ Aku bilang lagi, ‘Saya mau uang saya kembali’,” teman saya terlihat begitu jengkel dengan sikap petugas asuransi tersebut.

“Aduh, masnya sakit hati nggak ya, waktu kutuduh nipu,” teman saya juga bilang kalau tadi dia deg-degan juga waktu ngelabrak, hehe. Dia bilang kalau udah dari awal ngerasa ada yang salah. Ada yang nggak beres gitu, jadinya dia nekat juga waktu mutusin buat ngelabrak. Saya salut deh sama teman saya yang satu ini. Emang kita perlu banget do something kalau ada sesuatu yang dirasa nggak beres atau kesannya malah diakali. Pelajaran banget ini buat saya.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s