Suatu Sore Ketika Seangkot dengan Seorang Bapak Tunanetra

Saya sama sekali tak mengenal sosok bapak tunanetra ini. Hanya saja perjumpaan dengannya sore itu membuat perasaan saya campur aduk.

Sore itu, sepulang kantor, seperti biasa saya naik angkot. Namun ada yang berbeda saat itu, saya kebarengan dengan seorang bapak tunanetra. Kami naik dari lokasi yang sama. Saya dan beliau sama-sama mengambil duduk di pojokan, dengan kata lain posisi saya dengan si bapak saling berhadapan.

“Mbak, ini uangnya benar 2ribuan kan?” tanyanya sambil memperlihatkan dua lembar uang 2ribuan. (Ongkos naik angkot sekarang memang 4ribu). “Iya, pak,” jawab seorang penumpang di sebelah saya. Bapak tersebut lalu melipat uang itu, sepertinya memang disiapkan khusus untuk membayar ongkos angkot.

Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sejumlah lembaran uang 5ribuan yang dilipat rapi. “Mbak, bisa tukar dengan 10ribuan?” tanya si bapak yang duduk tepat di hadapan saya sambil menyodorkan 6 lembar uang lima ribuan. Karena inget di dompet ada beberapa lembar uang pecahan 10ribuan, saya jawab, “Bisa, pak.” “Biar nggak gampang hilang ini uangnya,” katanya lagi, mungkin ia bermaksud ‘meringkas’ uangnya biar gampang disimpan.

Saya sodorkan 3 lembar uang 10ribuan. “Dihitung dulu mbak uangnya,” kata si bapak sambil memberikan uang pecahan 5ribuannya. “Iya, pas 30 ribu ya, pak,” saya hitung memang pas 30 ribu. “Makasih ya, mbak.” Si bapak itu langsung meraba 3 lembar 10ribuan yg saya berikan. Dengan indera peraba, ia coba memastikan kalau nominal uangnya memang benar dengan meraba permukaan uang itu.

Lalu dengan hati-hati, ia ambil dompet dari tasnya, melipat rapi lembaran uang itu, memasukkan dompet lagi ke dalam tas, menutup resleting tas, lalu menggantungkan tali tas melewati lehernya. Kemudian ia kembali membuat nyaman dirinya duduk di pojokan angkot.

Bapak itu pun duduk tenang dengan tas bergambar Hello Kitty menggantung di lehernya. Semakin lama angkot semakin penuh, bangku ekstra tengah paling belakang pun terisi. Si bapak terlihat agak kesusahan mengatur duduknya. Akhirnya ia mencondongkan tubuhnya ke kanan, sedikit mepet ke mbak penumpang sebelahnya. Tangannya (entah sengaja atau tidak) agak menempel ke tas si mbak sebelahnya itu. Si mbak terlihat kesal, ia merasa kurang nyaman dan sejumlah penumpang lain memasang wajah sinis. Si bapak itu dikira mau mencopet.

“Pak, jangan mepet-mepet, kasihan mbaknya terjepit,” seorang penumpang akhirnya bersuara. Si bapak itu langsung memiringkan tubuhnya ke kiri, menjauh dari si mbak tersebut. Namun, pandangan sinis penumpang lain masih saja tertuju padanya. Saya pun membatin, apa iya si bapak ini mau mencopet, saya tadi lihat dia sudah memiliki sejumlah uang di dompetnya, bahkan uangnya itu dilipat dengan begitu rapi.

Di tengah perjalanan, bapak tersebut sempat mengeluarkan ponselnya. Ia memepetkan telinganya ke ponsel itu lalu memencet beberapa tombol. Dan ia tersambung dengan seseorang di ujung telepon. Dalam obrolan singkat via telepon itu, ia mengabarkan kalau dirinya saat itu sudah pulang dan sedang berada di dalam angkot.

Si bapak yang sedang menggunakan ponselnya.
Si bapak yang sedang menggunakan ponselnya.

Entah kenapa perasaan saya campur aduk. Antara kasihan tapi juga salut. Kasihan karena mungkin ia tak tahu kalau beberapa penumpang di sekitarnya memasang wajah sinis dan berusaha untuk menjauhinya. Salut karena si bapak bisa bepergian seorang diri meski mungkin butuh usaha yang lebih keras dari orang lain. Tak terbayang jika ada anggota keluarga atau kerabat saya yang seperti beliau.

Hingga ketika angkot berhenti di terminal akhir, mata saya masih saja penasaran ke mana bapak itu akan pergi. Dari obrolannya dengan sopir, ia seperti sudah sangat familiar dengan tempat-tempat yang akan dilaluinya, ia pun sudah tahu dengan pasti mau diturunkan di sebelah mana dengan ancer-ancer yang sangat jelas. Saya tak sempat bertanya atau mengobrol dengannya karena situasi angkot saat itu sangat penuh dan untuk bergerak pun susah. Saya yakin ia tak akan tersesat atau nyasar. Selain karena tampaknya sudah sering bepergian dengan angkot, ia juga punya ponsel. Ya, semoga beliau sampai di tempat tujuan dengan selamat dan sehat walafiat :))

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

3 thoughts on “Suatu Sore Ketika Seangkot dengan Seorang Bapak Tunanetra”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s