Kenapa Perempuan Kerja?

Iya, kenapa? Hehe, tiba-tiba aja muncul pertanyaan itu di kepala. Saya dulu pernah ngerasa kalau perempuan itu nggak usah repot-repot kerja toh nantinya kalau udah menikah juga ada suami yang ngasih nafkah. Tapi semakin ke sini saya mikir kalau kerja itu bukan semata soal nyari uang aja.

Sumber gambar: ThinkStockPhotos
Sumber gambar: ThinkStockPhotos

Saya keinget seorang ibu yang sering naik satu angkot yang sama saat saya pulang kerja. Dari obrolannya dengan penumpang lain (ini karena saya nggak bisa nggak nguping kalo ada orang ngobrol di deket saya, hehe), dia kerja menjaga toko dan merawat rumah dari seorang kerabatnya. Sebulan dia digaji satu juta rupiah. Dan itu tanpa ada hari libur. Tanggal merah pun masih masuk. Putranya yang masih bayi juga selalu diajaknya bekerja. Tapi dari yang saya tangkep, dia nggak terlihat capek atau ngeluh. Selain karena kerabatnya itu memang memperlakukannya dengan baik, ia juga tetep dapet makan gratis dan biaya transportasi pun ditanggung (lalu saya iri, kapan ya kantor bisa ngasih tambahan uang transport buat saya *ini ngimpi).

“Kalau kerja sendiri lebih enak. Nggak perlu mengandalkan gaji suami aja. Mau apa-apa juga bisa beli sendiri,” kira-kira begitu katanya. “Kalau nunggu suami, suka lama,” imbuhnya.

Di waktu yang berbeda, saya pun sering kebarengan sama seorang nenek. Dari obrolannya dengan penumpang lain (oke, saya memang tukang nguping), nenek ini sampai menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari rumahnya ke pasar yang dituju. Saat sore sampai di pasar, ia akan ke tempat jualannya dan menginap di pasar itu sampai keesokan harinya. Apa yang ia jual? Dari yang saya tahu, ia jual jajanan tradisional. Di usia yang sudah senja itu, ia lebih memilih untuk bekerja. Mungkin kesibukan itulah yang bisa menghiburnya, karena setiap kali saya satu angkot dengannya, ia selalu pergi sendiri dengan membawa sejumlah tas kresek berisi barang dagangan.

Sometimes, I think  that being busy always successfully keeps me sane.

Seorang sahabat yang bekerja jadi guru juga, meskipun sering ngomel-ngomel dengan “kekacauan” pekerjaannya, ia masih tetap saja bertahan untuk bekerja. Dia ngerasa bakal gampang bosan kalau nggak ngapa-ngapain dan hanya diem aja di rumah.

Teman yang lain, meski ia berharap punya suami kaya “pengusaha tambang”, ia nantinya akan tetap memilih untuk bekerja kalau sudah menikah. Ia ingin tetap bisa mandiri, meskipun hanya menjalankan usaha kecil, ia nggak mau cuma diem aja. Sekarang pun, saya salut dengannya yang bisa kerja siang dan malam di tempat yang berbeda-beda, belum lagi dengan pekerjaan sampingannya sebagai penulis lepas.

Lalu, bagaimana dengan saya sendiri? Kenapa saya memilih untuk bekerja?

Sumber gambar: ThinkStockPhotos
Sumber gambar: ThinkStockPhotos

…karena saya pingin  punya banyak uang dan jalan-jalan keliling dunia, ohohoho (tapi mikir lagi dengan kerjaan yang sekarang, kapan saya ada waktu (dan uang) buat keliling dunia? hehe, my dream is too big thus I have to work much harder for it).

Ah, saya kerja karena saya ingin bisa punya banyak karya. Saya ingin kemampuan saya ini nggak sia-sia. Rasanya sayang banget kalau apa yang pernah saya pelajari cuma dipendem sendiri. Selain itu, karena saya emang punya banyak mimpi besar. Kadang ngerasa, “Emang bisa ya ngewujudin mimpi itu? Apa nggak berlebihan aku punya mimpi itu?” Tapi ya mau gimana lagi. Mimpi itulah nantinya yang bakal ‘maksa’ saya buat bangkit lagi kalau jatuh, semangat lagi kalau baru dapet masalah, dan bikin saya tetap jalan ke depan meski habis kena luka.

Kerja kalau diniatin buat ibadah juga bakal jadi pahala kan? *getok kepala sendiri karena masih sering ngeluh dan uring-uringan kalau pas bete karena kerjaan*

So, why do you work?

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

9 thoughts on “Kenapa Perempuan Kerja?”

  1. True, kerja klo diawali bismillah dan disudahi alhamdulillah serta dgn niat yg ikhlas akan dapat pahala. Tapi klo dari sisi duniawi, I work for the sake of money. Hahahaaa. Aktualisasi diri itu alasan kedua. Emang sih akan ada pasangan yang membiayai, tapi selama kita bisa cari uang sendiri asal direstui kenapa gak?😀

  2. “Sometimes, I think that being busy always successfully keeps me sane.” True. So true. Saya sudah mulai bekerja sejak umur 18 tahun (sekarang saya hampir 20 tahun) It keeps me sane, i have a bipolar disorder. And sometimes it confuses me, my swing personality i mean. Hahaha. Kadang saya merasa hidup ini begitu berat karena saya harus bekerja demi bisa kuliah karena jujur saja, orang tua saya tidak sanggup kalau harus membiayai kuliah saya sepenuhnya, jadi saya bekerja sebagai seorang staff keuangan di salah satu perusahaan forwarding di kota saya. Namun kadang saya sangat bersyukur karena sekarang saya tidak perlu lagi menyandarkan diri saya pada orang lain bahkan saya tidak meminta sepeserpun untuk biaya kuliah sekarang, Alhamdulillah.. Namun, seperti remaja pada umumnya, saya juga sempat berpikir, aaah… pasti enak kalau saya bisa bebas main kesana sini, nongkrong disana sini layaknya remaja lainnya. Aaaah… hidup ini memang membingungkan. Hahaha…

    1. wah keren sudah kerja di usia remaja. saya aja baru bener-bener kerja pas udah lulus kuliah & kadang masih kagok aja sama dunia kerja. kalau udah punya pengalaman kerja lama pastinya nanti bisa lebih mudah survive. salut buat kamu, terus semangat🙂

  3. Kenapa saya bekerja? Karena setiap manusia perlu aktualisasi diri😀 it is not about the money per se, walaupun jujur aja keuangan keluarga jauh membaik ketika saya ikutan “ngebajak di sawah”. Suami meminta saya bekerja dengan alasan “Supaya otak kamu tetep jalan. Supaya kamu tetep produktif, gak tidur2an di rumah sambil nonton film atau bacain news feed di FB.” – sekarang suami yang semangat banget kalau aku harus ke luar kota untuk pameran . Sampai ngebantuin jaga anak segala dan dia juga makin semangat nyari job. Lhooooo … ternyata butuh penyemangat tho dia, butuh “saingan” hahahaha (padahal kami gak pernah bersaing soal penghasilan)😀

    1. iya mbak setuju banget krn manusia butuh aktualisasi diri dan otak juga bisa tetep jalan🙂 wah, senangnya punya suami yang suportif banget… *moga2 nanti jodohku juga bisa selalu ngedukung tetap produktif kerja, hehe*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s