Mau Kerja yang Seperti Apa?

Topik tentang pekerjaan ini jadi makin sering saya obrolkan dengan beberapa sahabat saya. Ketika ada waktu luang, terkadang saya menyempatkan diri untuk makan bareng atau sekadar jalan-jalan santai dengan sahabat saya, ya tujuannya sih supaya bisa mengeluarkan semua uneg-uneg dan berbagai macam keluh kesah yang menggundahkan dan menggalaukan hati (uhuk!).

Gambar dari sini.

Mungkin pengalaman saya di dunia kerja belum banyak. Ketika baru wisuda tahun 2011 lalu, saya sudah diterima bekerja di sebuah penerbitan di Bandung. Hanya saja setelah enam bulan bekerja di sana, saya putuskan untuk resign karena berbagai macam hal dan sebagainya. Kemudian saya putuskan untuk coba mendapatkan beasiswa, saat itu salah satu keputusan saya untuk resign dari kerja kantoran memang ingin fokus buat beasiswa. Oke, coba apply beasiswa dan ketika tinggal satu langkah, rupanya belum rezeki saya saat itu. Akhirnya, saya pun bertahan dengan jadi freelancer dalam kurun waktu awal 2012 sampai akhir 2013. Karena merasa nggak ada progress, kepikiran lagi buat balik kerja kantoran.

Awal tahun 2014 mulai coba kirim lamaran pekerjaan lagi. Baik yang di dalam kota maupun di luar kota. Dan ternyata rezekinya malah di dalam kota sendiri, dan awal Maret lalu akhirnya balik lagi jadi karyawan kantoran. Sempat agak susah lagi menentukan ritme kerja. Yang biasanya jadwal kerja lebih fleksibel karena bisa dikerjain di rumah (dan bisa bebas bobo siang kapan saja, hehe), jadi harus menyesuaikan jam kantor lagi. Agak sulit sih di awalnya, tapi ya lama-lama jadi terbiasa juga.

Gambar dari sini.

Saya kembali kenal orang-orang baru, sembari berharap dapat lebih banyak pengalaman dan nggak terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja. Konflik dan masalah? Ya ada juga sih, namanya juga kerja bareng banyak orang. Ada yang memutuskan resign, ada juga yang terpaksa resign. Ngomongin tentang resign, untuk saat ini saya belum ada pikiran untuk resign. Pertimbangannya sih banyak, selain karena saya anak sulung dengan bapak yang udah pensiun dan adek yang masih kuliah, saya juga sadar bahwa bukan saatnya lagi saya memutuskan sesuatu hanya karena alasan personal. Misalnya saja hanya karena nggak suka dengan si A, saya langsung memutuskan untuk resign dari kantor. Tapi bukan berarti juga saya akan menghabiskan usia saya dengan kerja jadi karyawan selamanya (bayang-bayang tentang punya studio kerja sendiri itu masih menggelayut manja di otak, hihihi). Mungkin ini juga tentang prioritas hidup, saat saya sudah tak boleh lagi mementingkan kebahagiaan pribadi, saat saya semakin sadar bahwa kebahagiaan keluarga itu bisa jauh lebih penting dari kebahagiaan saya sendiri.

Gambar dari sini.

Lalu muncul berbagai obrolan dengan sahabat saya yang lain, yang juga bekerja sebagai karyawan. Tentang gaji. Tentang tunjangan. Tentang fasilitas kerja. Tentang kenyamanan dengan rekan kerja yang lain. Dan juga tentang pilihan untuk tetap berkarier di kantor atau tidak. Saya dan dia sebenarnya hampir memiliki keinginan yang sama tentang konsep kerja impian: kerja dari rumah, punya ruang khusus untuk kerja di rumah, tetap bisa merawat rumah dengan baik, dekat dengan keluarga, lalu biarkan sang suami yang bekerja di kantor (ini ceritanya saya dan sahabat saya ini masih menggalaukan topik jo-to-the-doh  alias jodoh, uhuk uhuk!). Mungkin obrolan-obrolan itu tadi muncul karena ada rasa tidak puas dengan pekerjaan yang dimiliki sekarang, khususnya sih tentang gaji, hehe. Atau bisa juga karena masih takut juga untuk keluar dari zona nyaman (terlebih karena belum merasa settled).

“Konsep” pekerjaan impian yang sangat saya inginkan sebenarnya sih nggak muluk-muluk ya. Mengerjakan sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. Orang-orang bisa bahagia dengan apa yang saya kerjakan (khususnya yang membahagiakan Ibuk dan Bapak). Bisa menggunakan kemampuan yang dimiliki. Bisa berkarya sebanyak-banyaknya. Dan, ya, tak bisa saya pungkiri juga, bisa mendapatkan hasil jerih payah yang sesuai (dan ini tak melulu soal gaji saja). Yang pasti juga bisa melakukan pekerjaan yang nggak melanggar perintah-Nya. Itu saja sih, nggak terlalu muluk-muluk kan ya? (nyari pembelaan, hehe).

*wah, lama nggak ngeblog, sekalinya nulis panjang malah terkesan curhat banget ya😀

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

5 thoughts on “Mau Kerja yang Seperti Apa?”

  1. saya juga sempat berpikir demikian. Tahun-tahun awal kerja itu memang susah, saya sendiri baru 19 tahun lulusan smk dan sekarang tengah menjalani (kerja sambil kuliah, kuliah saya selepas maghrib). Awalnya sulit membagi waktu dan nyuri-nyuri kesempatan buat istirahat.
    Saya juga bukan tipikal cewek yang doyan sama rutinitas, baru setahun setengah merasakan kerja kantoran aja rasanya udah kepikiran ‘kapan saya punya waktu yang fleksibel? Kapan saya bisa minimal buka usaha rumahan/jadi penulis/EO juga kayaknya asik’
    Tapi saya terus berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk saya mendisiplinkan diri, untuk mengumpulkan modal dan belajar banyak dari tempat saya berada sekarang sebelum menjejakkan kaki sendiri dan merentangkan sayap.

    semoga apa yang kita cita-citakan terkabul. Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s