Kelud 2014

“Haduh, kok panas buanget, ya!” kata Fahan dengan wajah yang penuh keringat, usai les di rumah saya pada hari Rabu malam (12/2).
“Itu Kelud habis ini mau meletus, nanti kalian ngungsi, lho,” jawab saya sekenanya.
“Iya kah?”
“Iya, hayo gimana nanti kalau ngungsi? Hehehe,” saya makin usil mecandai anak-anak.
Saya sendiri sebenarnya sudah menaruh curiga dengan beberapa hari terakhir yang terasa lebih gerah dari biasanya. Jangan-jangan Gunung Kelud memang sebentar lagi akan meletus?

Hari Kamis malam (13/2) sekitar pukul 22.00, saya melihat berita yang mengabarkan bahwa status Gunung Kelud sudah naik menjadi Awas.
“Kalau sudah status Awas gitu, berarti?”
“Ya, tinggal ‘dor’nya,” jawab bapak. Bapak pun bercerita tentang meletusnya Gunung Kelud pada tahun 1990 lalu. Saat itu saya masih bayi, kata Bapak saat itu langit kota Malang berubah gelap dan turun hujan abu. Matahari tidak kelihatan sama sekali.

Saya masih asyik menonton televisi malam itu, hingga saya membuka akun Facebook dan baru tahu kalau Gunung Kelud baru saja meletus sekitar pukul 22.50. Samar-samar terdengar bunyi gemuruh. Ketika saya keluar rumah dan melihat ke arah barat, terlihat ada cahaya merah jingga menyala yang meletup-letup, sesekali terlihat petir membelah langit malam. Meskipun tidak terlihat jelas, saya cukup ngeri membayangkan bagaimana orang-orang yang tinggal tak jauh dari sana, apakah mereka sudah mendapatkan tempat yang aman?

gambar dari sini

Seorang sahabat yang tinggal di Yogyakarta juga mengabarkan bahwa ia mendengar bunyi gemuruh dan udara yang semakin gerah di sana. Wah, terdengar sampai Yogya juga? Saya membayangkan keesokan paginya akan turun hujan abu vulkanik dan matahari terkalahkan oleh pekatnya material abu. Dari berita yang saya tonton di televisi, kerikil juga menghujani daerah di sekitar Gunung Kelud malam itu. “Diameter kerikil sekitar 1 sampai 3 centimeter,” salah satu reporter menyampaikan.

Keesokan paginya, saya cukup tertegun (sekaligus bersyukur?). Hujan abu secara kasat mata tidak terlihat jelas. Tipis saja. Matahari juga masih terang benderang. Daerah kota Batu dan kota Malang tampaknya masih baik-baik saja. Namun, ketika saya menonton televisi, daerah Solo dan Yogyakarta benar-benar menjadi (seperti kata sahabat saya) monokrom. Kabarnya hujan abu Gunung Kelud kali ini lebih parah dibandingkan hujan abu Gunung Merapi sekitar empat tahun yang lalu. Abu vulkanik juga dirasakan hingga Jawa Barat.

“Mungkin karena terhalang Gunung Panderman, jadinya di sini (di Batu dan Malang daerah kota) nggak terlalu parah,” kata Bapak berhipotesis.

Seorang sahabat saya mengirim pesan via What’s App. Ia menawarkan diri untuk menjadi “kurir” bala bantuan yang mau disalurkan ke posko pengungsian. Saya pun menyampaikan ke Ibu, dan kami mengumpulkan sedikit yang bisa kami kumpulkan untuk dikirim ke posko pengungsian. Hari Minggu siang (16/2), ia datang ke rumah untuk mengambil sedikit bantuan yang bisa kami kumpulkan.

“Waktu para pengungsi datang pertama kali, kasihan banget. Badan mereka penuh debu. Ada juga anak yang terpisah dari ibunya dan berontak ingin kembali buat cari ibunya. Untung saja, nggak lama kemudian si ibu datang dengan rombongan yang lain,” tutur sahabat saya.
“Aku sebenarnya pengen jadi sukarelawan, tapi nggak tahu caranya, hehe,” katanya lagi. Akhirnya dia berinisiatif sendiri untuk menghubungi beberapa teman dan menawarkan diri untuk mengirimkan bantuan ke posko pengungsian. Ah, itu kan sudah jadi sukarelawan namanya, sobat.

“Ikut a (mengirim bantuan ke posko pengungsian)?” tawarnya.
“Hmm, tapi pekerjaanku belum beres (maklum saya terkejar deadline).” Saya sempat menimbang-nimbang sejenak. “Iya deh, aku ikut.”

Gedung Kesenian Kota Batu yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Gambar dari sini.

Kami pun langsung meluncur ke posko pengungsian di Gedung Kesenian Kota Batu. Di sana ramai sekali. Ada sukarelawan, ada petugas yang sibuk kesana kemari, para pengungsi yang sedang beristirahat di dalam gedung, dan ada juga pertunjukan seni pencak silat. Anak-anak ramai memenuhi tribun untuk menonton seni pencak silat. Saya dan sahabat saya sempat ikut duduk beberapa menit untuk melihat seni pencak silat tersebut. Yang menonton tidak hanya para pengungsi tetapi juga warga sekitar, hehe.

Melupakan bencana sejenak. Gambar dari sini
Bencana akan segera berakhir.

Sore harinya, saya ikut ke rumah sahabat saya. Ibunya baru saja memasak kolak berisi ubi manis dua panci besar. Saya hanya membantu sebisanya memasukkan kolak ke dalam kantong plastik. Kolak itu kemudian dibagikan ke sejumlah rumah di sekitar tempat tinggal sahabat saya yang juga menjadi tempat penampungan sejumlah pengungsi.
“Kok, bisa sampai mengungsi di sini (daerah Oro-Oro Ombo, Batu) juga?” tanya saya.
“Ya, ada yang membawa ke sini. Terus dicarikan rumah yang bisa menampung mereka,” jawab sahabat saya sambil menyetir motornya, usai mengantarkan kolak ke salah satu rumah.

…adalah hikmah.

Semoga keadaan segera membaik, semoga semua segera kembali normal, semoga yang tersisa dari semua adalah hikmah.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

13 thoughts on “Kelud 2014”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s