Satu Kata itu Menulis

“Kira-kira apa tujuanmu menulis?”
Seorang kawan tiba-tiba menanyakan hal itu. Saya sempat terhenyak. Tujuan saya menulis?
Agak bingung (entah kenapa) harus menjawab seperti apa, sampai saya sempat sedikit mengalihkan pembicaraan, “Mau jawaban serius apa becandaan? Hehe.”
“Yang apa adanya,” katanya lagi.

Baiklah.

gambari dari sini

“Hmmm… biar otakku nggak meledak. Kalau semua-muanya disimpen di otak, ntar otak jadi overload. Jadi mending ditulis aja. Selebihnya sih karena udah cinta.”

Entah mengapa dari beribu alasan yang ada, saya memilih jawaban itu. Saya pun menanyakan hal yang sama kepadanya.

“Menulis bagiku seperti berzikir, Ndah… ketika aku menulis, aku berpikir, dan ketika berpikir aku banyak merenung tentang apa dan mengapa yang merujukku pada kekuasaan-NYA… Kalau tujuan di nulis sih aku pingin bagi inspirasi. Selama bermanfaat bagi orang lain meski hanya satu yang baca itu udah sikap yang baik kan hehe.”

Pertanyaan “apa tujuanmu menulis” pun saya tanyakan kepada seorang sahabat saya yang juga mencintai dunia kepenulisan, dan tercetuslah dua kata darinya, “Self-healing.” Saya jadi teringat bahwa Eyang Habibie menulis buku “Habibie dan Ainun” karena setelah berkonsultasi dengan profesor dokter langganan keluarga, beliau terkena psikosomatis malignant (tenggelam dalam kesedihan) setelah kepulangan sang istri. Dan, untuk mengatasi hal tersebut, sang dokter memberikan empat alternatif. Alternatif keempat adalah menulis, dan Eyang Habibie memilih alternatif keempat itu.

Menulis? Tujuan? Apa tujuan saya sebenarnya? Entah kenapa pertanyaan itu kembali mengusik. Saya kembali ingat dengan berbagai hal yang berkaitan dengan menulis. Sewaktu SMA, saya pernah dapat keringanan bebas SPP karena cukup aktif di kegiatan Karya Ilmiah Remaja. Sewaktu kuliah, saya berkesempatan mengikuti forum nasional dan internasional juga karena menulis dan mulai mengoleksi buku-buku. Sekarang, saya bisa menghidupi diri, salah satunya, dengan menulis juga (dan menerjemahkan meski masih pemula). Kalau ditarik garis besarnya, saya menulis karena hal itu bermanfaat buat saya. Itu saja kah?

gambar dari sini

Suatu hari saya mengirim sebuah email ke salah seorang “guru”. Saya menanyakan kira-kira buku apa (siapa) sajakah yang bisa jadi acuan atau panduan agar bisa menjadi seorang penulis atau penerjemah yang profesional. Membuat karya yang baik juga perlu referensi atau rujukan yang baik juga dong ya. Jawaban beliau:

Dear Endah,
 
Saya sarankan mulai membaca karya2 ini
 
1. Pramoedya Ananta Toer, terutama Tetralogi (ada emoat karya)
2. Mangunwijaya
3. Umar Kayam
4. Putuwijaya
5. Budi Darma
6. Iwan Simatupang
7. Ahmad Tohari
8. Seno Gumira
9. Ayu Utami
10. Mochtar Lubis
11. AS Laksana
12. Linda Kristanti
13. Armijn Pane
14. Asrul Sani
Setelah menerima balasan email itu, saya mendadak pening. Hehe, nama-nama itu memang sudah sering saya dengar, tetapi karya-karya mereka belum pernah benar-benar saya baca. Begitu banyak hal yang tidak saya tahu.
gambar dari sini
Di kolom “cita-cita” album kenangan SMP, saya menuliskan “penulis”. Sewaktu lulus SMA, saya putuskan  masuk jurusan bahasa di bangku kuliah (meski saya menyukai Matematika dan berada di jurusan IPA waktu SMA), hanya karena… hmm, karena? Karena suka menulis?
  • Scribo Ergo Sum, aku menulis maka aku ada. Kata-kata itu saya kenal pertama kali saat mengikuti diklat UKM Penulis sewaktu kuliah dulu (hanya ikut diklat, tapi nggak aktif di kegiatannya, hehe). Ada lagi Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada. Kata-kata dari seorang filsuf aliran rasionalisme ini Rene Descartes, mungkin bisa cukup mewakili mengapa banyak manusia yang terdorong untuk menulis. Pada hakikatnya manusia adalah res cogitas (pemikiran), jadi tak heran manusia sering meragukan banyak hal dan karenanya ia menulis untuk setidaknya bisa mengurangi keraguan itu.
  • Selain itu, ada juga istilah manusia internal. Yaitu, manusia yang beranggapan bahwa dirinyalah yang harus mengatur keadaan, selalu melihat dulu apa yang salah dalam dirinya, bukan lantas menyalahkan keadaan. Mungkin ini juga yang membuat manusia lebih suka menulis, untuk mengatur dirinya sendiri. Saya sendiri merasa menulis sudah menjadi kehidupan saya itu sendiri. Mungkin ada juga pengaruh dari kenyataan bahwa saya seorang introvert (At first I thought I was cursed of being an introvert person, but now I’m blessed and proud of being one) yang lebih mudah menyampaikan sesuatu lewat tulisan, seperti Virginia Woolf, J.D. Salinger, T.S. Elliot, Emily Dickinson, J.K Rowling atau Susan Cain. Introvert beda sama inferior apalagi pemalu lho ya.
gambar dari sini
  • Seperti kata Socrates (yang konon katanya ia adalah seorang filsuf yang tidak pernah menulis apapun–koreksi bila saya salah) bahwa orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu. Jadi saya orang bijaksana dong ya, karena banyak nggak tahunya, hehehe (ge-er selangit). Saya sendiri menilai seseorang dengan apa yang ditulis dan apa yang ia baca. Tapi saya tidak pernah berani menyalah-benarkan tulisan seseorang begitu saja. Setiap orang punya gaya tulisan masing-masing. Ya, karena setiap orang diciptakan berbeda-beda kan ya. Pikiran satu individu beda dong sama pikiran individu lain.
Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah. -Imam Al-Ghazali
…maka menulislah. Saya menulis… karena mungkin inilah salah satu cara saya bisa (sebut saja) berkarya. Saya kan nggak jago ngegambar, jadi ya nulis aja, mungkin sederhananya seperti itu. Saya punya dua tangan yang alhamdulillah normal, jadi saya berusaha untuk membuat sesuatu yang bermanfaat dengan kedua tangan ini. Saya sendiri mudah “jatuh cinta” dengan seseorang yang berkarya dengan kedua tangannya, entah itu menulis, menggambar, membatik,  membuat kerajinan, pokoknya mereka yang selalu berkarya. Teringat lagi cerita seorang dosen tentang seseorang yang menulis dengan hanya kedipan mata kirinya saja. Dan, bukunya sukses menginspirasi banyak orang dan bahkan sudah dibuat filmnya juga.
Hidup itu seni menjadi. Menjadi hamba Tuhan, sekaligus menjadi penguasa alam. Kita awal mulanya makhluk rohani yang kemudian diberi jasad fisik oleh Tuhan dengan tugas menghamba kepada Dia dan menjadi khalifah untuk kebaikan alam semesta. Kalau kedua peran ini bisa kita jalankan, aku yakin manusia dalam puncak bahagia. Berbakti dan bermanfaat. Hamba tapi khalifah. (Rantau Satu Muara, hal. 139)
  • Di bidang antropologi, manusia juga dikenal sebagai homo loquens (manusia berbahasa), jadi kenapa suka menulis? mungkin karena memang manusia sudah terlahir dengan itu. Hanya tinggal bagaimana bisa memanfaatkannya.
  • Saya menulis karena memang saya mencintainya. Does it explain everything?
  • Tidak semua orang menyukai tulisan saya dan saya pun tidak selalu bisa menyukai tulisan setiap orang. Kadang saya memang meniru gaya tulisan orang lain atau mengikuti teori-teori kepenulisan. Tapi, kadang saya nulis hal-hal acak dan tak mengikuti teori apapun (seperti tulisan ini contohnya, hehe) hanya karena menurut saya menulis itu bisa membebaskan. Dan, saya rasa itu hal yang amat sangat wajar. Seperti saya yang lebih suka jingga daripada kuning, tetapi saya tak bisa memungkiri bahwa pelangi itu sangat indah.
  • Cita-cita untuk bisa menulis buku lagi itu masih ada, terakhir menulis buku adalah tahun 2012 akhir lalu. Kadang saya merasa “tidak rela” meninggal sebelum bisa menulis buku (hehe agak sedikit absurd kah ini?), bukan hanya buku yang bisa menjadi best seller tetapi yang bisa memberikan manfaat untuk banyak orang. I’m still trying to make it true.
gambar dari sini
Huwooo, rupanya cukup  panjang juga tulisan kali ini, hehe. Monggo… kalau ada yang mau berbagi tentang tujuan menulis, atau punya unek-unek sendiri tentang satu kata ini–menulis?

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

19 thoughts on “Satu Kata itu Menulis”

  1. MANUSIA INTERNAL its explain who i am…
    woahaha itulah kenapa saya suka berdiskusi… kita bisa mengenal orang melalu jawaban dan pemikiranya🙂 nice ndah…

  2. Aku nulis itu soalnya bagiku termasuk cara pelampiasan emosi.. :))
    Tapi tergantung media juga kalo medianya pensil/pulpen+kertas mungkin sekadar pelampiasan emosi, penuangan pikiran.
    Tapi kalo nulis di media sosial misalkan twitter… ya selain pelampiasan emosi, penuangan pikiran… sebenarnya ngajak diskusi juga, karena mungkin ada yg beda sudut pandang. seru rasanya. :))

  3. Nama-nama spt Kang Abik, Asma Nadia, Bunda Helvy, Buya Hamka … tidak disebut dalam email “guru” mu ya🙂
    Mungkin saja beliau terlewat. Kalau saya cenderung lebih menyukai karya-karya mereka dan sebagian yg disebutkan dalam email di atas (sebagian lainnya tidak suka), karena lebih membangun jiwa sifatnya.
    Membaca karya sastra itu perlu waktu lama, ada investasi waktu, sayang kalau tidak bisa mengambil manfaat darinya yang bersifat membangun jiwa.
    Apa yang kita tulis biasanya banyak dipengaruhi oleh hal apa saja yang telah kita baca. Itu kalau niat kita menulis adalah ingin bermanfaat bagi orang lain.
    Indikator “bermanfaat” bagi saya adalah mampu mendorong pembaca untuk melakukan perubahan menuju hal-hal yang lebih baik. Bukan menjadi pribadi yang pembenci.
    Indikatornya mbak Endah bisa jadi beda, sesuai dengan passionmu dan tujuanmu menulis.

    1. saya sendiri sewaktu sma & kuliah cukup sering baca karya2 kang abik, mbak asma & bunda helvy🙂

      saya sangat setuju, indikator bermanfaat itu salah satunya bisa mendorong orang lain untuk bisa melakukan perubahan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. terima kasih atas sharingnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s