Mati Ketika Bernapas

Bisakah kau melihat ujung itu?

Sebuah ujung yang begitu misteri. Bahkan, banyak yang pura-pura tak pernah menganggapnya ada, apakah kau juga begitu? Namun, suka tidak suka semua—kita—akan sampai pada ujung itu. Bukan, bukan, ujung itu bukanlah sebuah akhir. Justru di ujung itulah kita—aku—akan melanjutkan perjalanan, perjalanan yang memiliki teka-teki melebihi jumlah bintang-bintang di semesta.

Akan dibawa ke mana kita dari ujung itu? Tanyakan pada mereka yang sudah sampai pada ujung itu! Bagaimana? Mereka yang sudah sampai pada ujung itu tak akan bisa menjawab pertanyaan dari sesiapa yang belum sampai pada ujung itu. Bukan ujung itu yang menakutkan, tetapi misteri yang ada di balik ujung itu.

Kau—aku—masih muda, apakah ujung itu masih jauh? Apakah waktu untuk menjangkau ujung itu masih panjang? Ah, tapi sebenarnya aku bisa mati ketika bernapas.

gambar dari sini

Sebuah berita baru saja kuterima, berita tentang kepergian seorang kawan. Aku tak mengenalnya cukup dekat, bahkan aku hanya pernah bertemu dengannya sekali. Lebih tepatnya kami pernah berada dalam satu kelompok di sebuah forum nasional. Saat itu kami harus menampilkan sebuah pertunjukan sederhana. Pembacaan puisi, itulah yang akhirnya kami lakukan. Tentu saja bukan aku yang membaca puisi, tetapi ia lah yang membaca puisi (bahkan ia sendiri yang membuatnya dalam hitungan menit). Masih jelas dalam ingatanku betapa ia benar-benar menyatu dengan puisi itu, seolah separuh nyawanya ada dalam barisan kalimat-kalimat yang dibacanya.

Berita yang baru kuterima cukup mengejutkan sekaligus membuatku iri. Dengan dunia yang selalu tersambung dengan jejaring sosial, sebuah berita bisa tersebar dengan mudahnya. Dalam kabar yang kuterima, ia berpulang karena kecelakaan. Ah, sebenarnya ia berpulang ketika sedang menunaikan sebuah tugas mulia—saat akan mengirimkan  bantuan untuk korban bencana banjir di Subang. Halaman Facebook-nya pun dipenuhi oleh ucapan belasungkawa dari rekan-rekan setanah air yang mengenalnya. Apakah kau bisa membacanya, kawan? Semua bersaksi betapa ia seseorang yang sangat baik dan berdedikasi tinggi berbuat sesuatu untuk orang banyak. Orang yang mulia akan mencapai ujung itu dengan mulia, dan pasti akan mendapat tempat yang mulai di sisi Sang Maha Mulia. Aku iri.

Semua yang  bernyawa pasti akan mati. Aku bisa mati ketika bernapas. Dan aku tak tahu akan sedang apa ketika aku sudah mencapai ujung itu. Bisa saja sekarang? Sekarang? Sebentar lagi? Entahlah. Aku tak berani menebak-nebak. Aku bisa mati ketika bernapas.

Jika tidak ingin mati, seharusnya tak pernah ada nyawa. Namun, aku tak tahu—tak ingat?—mengapa aku “rela” diberi nyawa. Apakah karena aku harus melakukan sesuatu? Jika iya, apakah aku sudah melakukan sesuatu itu, yang bisa menjadi bekalku untuk melanjutkan perjalanan setelah mencapai ujung itu? Yang aku tahu sekarang, aku bisa mati ketika bernapas.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

4 thoughts on “Mati Ketika Bernapas”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s