Kalap Buku, Perlukah Alasan?

Entah apakah ini bisa dibilang sebagai sebuah kebiasaan. Ada saat-saat tertentu di mana rasanya saya sudah kehilangan “akal sehat” ketika berada di toko buku. Berapapun uang yang ada di dalam dompet bisa ludes hanya dengan kunjungan sekali saja ke toko buku. Seperti awal Januari lalu.

Selama beberapa bulan terakhir di tahun 2013 lalu, saya sudah mengurangi intensitas pergi ke toko buku. Kalau pun membeli buku, paling hanya membeli satu buku saja. Namun, setelah sekitar 3 bulan terakhir di tahun 2013 saya harus rela “dipingit” di rumah, saya malah ingin bisa “balas dendam”. Caranya? Dengan belanja buku, hehe. Jadi saya menetapkan satu hari di mana saya bisa terlepas dari segala macam kerjaan dan bisa menghabiskan waktu seharian di toko buku.

Sebelum pergi ke toko buku, saya sempat membuat daftar kira-kira buku apa saja yang akan saya beli di toko buku nantinya. Entah kenapa saya merasa seperti seorang pembaca yang mainstream, paling suka baca buku-buku yang dicap best seller. Mungkin lebih karena ada rasa penasaran, buku ini kok bisa best seller sih? apa istimewanya?

hasil 'mbobol' atm tgl 2 Januari lalu, hehe
hasil ‘mbobol’ atm tgl 2 Januari lalu, hehe

Kenapa sih suka beli buku banyak banget? Ngabisin uang aja! Toh, kalau sudah selesai baca, ya sudah bukunya nggak kepake lagi. Mungkin hal-hal seperti itu yang sering dipikirkan oleh orang-orang di sekitar saya. Saya sendiri kadang juga bingung kenapa saya rela “membobol” ATM untuk membeli sejumlah buku yang harga totalnya setara dengan beberapa potong baju bermerk, hehe.

Sepertinya ini adalah beberapa alasan kenapa saya suka hilang kontrol kalau sudah berada di toko buku🙂

1. Ada misi balas dendam. Hahaha, ini asli serius. Dulu waktu kecil rasanya suka iri lihat temen-temen bisa punya buku-buku bergambar yang bagus-bagus. Waktu SMP, berhasil nabung buat beli satu buku rasanya senengnya minta ampun. Waktu kuliah, alhamdulillah karena dapat rejeki selama 4 tahun kuliah itu, jadi bisa beli banyak  buku tanpa membuat orang tua bangkrut. Kebiasaan kalap buku sepertinya dimulai ketika kuliah itu, ya sepertinya begitu.

2. Pastinya karena ada uang. Hehe, kalau nggak ada uang, wah, nggak berani deh mampir-mampir ke toko buku. Nanti ujung-ujungnya malah bikin sakit hati karena nggak bisa beli buku-buku yang menggoda itu.

3. Dapat rekomendasi dari teman. Iya, saya paling mudah terpengaruh. Kalau ada temen yang bilang buku ini bagus, itu bukunya keren, saya langsung cari informasi tentang buku itu. Dan, mulai menimbang-nimbang, beli buku itu nggak ya. Biasanya kalau nyasar ke blog orang dan baca ulasan tentang sebuah buku yang kelihatan cukup menarik, saya pun bisa dengan mudahnya tergoda untuk membaca buku itu, hehe.

4. …karena udah jatuh cinta sama penulisnya. Contohnya? Itu saya  beli The Cuckoo’s Calling karena penulisnya adalah J. K. Rowling. Meskipun sempat kurang menyukai karyanya yang sebelumnya, Casual Vacancy (meski tetap menggilai Harry Potter), saya jadi penasaran dengan karya terbarunya karena berbeda dari sebelum-sebelumnya. 

5. Karena suka dengan buku itu sendiri. Sepertinya ini tak perlu alasan yang mendetail lagi😀

6. Sarana refreshing. Setiap orang pasti punya tempat-tempat tertentu yang bisa membuat suasana hati (mood) jauh lebih baik. Buat saya, salah satu tempat yang bisa membuat mood saya membaik ya toko buku.

7. Tuntutan “impian”. Karena saya ingin jadi penulis dan penerjemah profesional. Hehe. Nggak jadi penyunting profesional juga? Hmm, iya itu juga sih, hihihi. Ingin bisa lebih banyak berkarya lagi. Dan buat bisa berkarya yang baik dan nggak sembarangan, harus punya amunisi dong ya. Amunisinya ya apalagi kalau bukan buku dan buku dan buku.

8. Karena cinta, uhuk! Hehehe, ya udah lah kalau udah cinta mah, apa-apa dibelain dan di-iya-in. Kadang buku-buku cantik nan genit itu terlalu sayang kalau dibiarin aja di toko buku, mending dibawa pulang  *mulai random*😀

Alasan terakhir adalah untuk investasi masa depan dan harta yang bisa diwariskan ke anak cucu. Hehe, keren nggak tuh alasannya?

Hmm… sebenarnya alasan-alasan itu hanyalah sebuah pembelaan karena telah menghabiskan sejumlah uang, ah… uang mah masih bisa dicari kan ya? *lagi-lagi pembelaan*

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

37 thoughts on “Kalap Buku, Perlukah Alasan?”

  1. untuk mengurangi pengeluaran tapi tetep dapet buku, nanti setelah baca, bikin resensinya aja. terus diikutkan ke resensi pilihan via twitternya gramed. setiap minggu ada peluang untuk menang resensi pilihan dan dapet satu buku yang kamu pengin kok🙂
    *eh, udah tau info ini atau belum?*

      1. iya sama2. kemarin lalu aku dapet Titik Nol karena menang resensipilihan. Lumayan banget kan, secara buku2 Agustinus Wibowo itu selalu diatas 80k X)

    1. Pulang itu yang nulis Leila Chudori, pemenang Khatulistiwa Literary Award tahun 2013 lalu kalau nggak salah, hehe ini masih baru baca yang awal-awal, novel yang indonesia banget nih kayaknya soalnya berlatar belakang sejarah dan politik😀

  2. Heehee.. aku jadi ingat pernah bilang ke teman waktu datang ke kostku yang intinya “bukuku ada beberapa, tapi banyak yang belum kubaca”, lalu temenku bilang “masalah baca itu bisa kapan saja, yang penting sudah punya”.😀

    awakmu duwe akun goodreads pisan a, ndah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s