Begini Rasanya Jadi Penerjemah Lepas

Mumpung ada kesempatan, diambil saja!

Sekitar akhir September 2013 lalu, seseorang yang dulu menjadi atasan saya sewaktu kerja di Bandung mengirim sebuah pesan via What’s App. Saat itu saya pikir tumben, pasti ini ada apa-apanya, hehehe. Setelah menanyakan kabar, beliau menawari saya untuk menerjemahkan sesuatu. “Gampang kok, ada sekitar 400an halaman, dua bulan bisa selesai lah.” Tanpa pikir panjang, saya pun mengiyakan. Awalnya saya pikir, bukunya berbentuk PDF dan dikirim via email. Ternyata bukan. Jadi bukunya difotokopi terlebih dahulu baru dikirimkan ke saya.

Setelah buku yang dimaksud sampai di rumah, saya buka-buka halamannya. Langsung nggliyeng! Hehe, tulisannya kecil-kecil. Belum mulai nerjemahin, udah puyeng duluan ini. Mungkin lain kali saya harus memastikan dulu penampakan halaman yang akan diterjemahkan, jadi bisa lebih agak perhitungan buat menentukan tarif, eeaaa… masih penerjemah amatir aja udah belagu.

it's time to work!!!
it’s time to work!!!

Sebenarnya yang saya terjemahkan ini adalah seperti sekumpulan glosarium. Sebenarnya juga tidak terlalu susah, tetapi karena jam terbang saya yang masih amat sangat sedikit sekali, menerjemahkan satu kalimat bisa bermenit-menit lamanya. Ya pelan-pelan, ditelateni satu per satu.

Sebelumnya saya memang sudah menerjemahkan sebuah buku, tetapi dikerjakan keroyokan dengan dua kawan saya. Dan buku itu tidak diterbitkan karena hanya untuk konsumsi lembaga tertentu. Saat dapat pekerjaan menerjemahkan yang ini, saya sempat berpikir untuk kembali mengerjakannya secara keroyokan dengan kawan saya. Tapi, entah kenapa saya ingin mencoba menantang diri sendiri. Jadi, saya putuskan untuk mengerjakannya sendiri! Hoho.

'alat' tempur :D
‘alat’ tempur😀

Pertengahan Oktober saya mulai mencicil halaman per halaman. Karena saya juga masih ada pekerjaan lain, jadi harus bisa membagi waktu. Beberapa kali harus lembur, bahkan baru tidur selepas Subuh. Sempat juga jari-jari tangan rasanya kram dan kaku, akhirnya harus mengistirahatkan tangan selama beberapa hari.

Ada masa-masanya ketika rasanya sudah benar-benar stuck dan ingin menyerah saja. Nggak kebayang sebelumnya kalau menerjemahkan berat juga ternyata, hehe (atau mungkin ini karena saya saja yang masih pemula ya). Sempat frustrasi beberapa kali karena merasa membenci hasil terjemahan sendiri. Namun, ada juga saatnya senyum-senyum sendiri mengagumi hasil terjemahan yang ternyata langsung enak dibaca pas sekali diterjemahkan (pede kebablasan).

“Kalau gini aja udah nyerah, gimana nanti? Katanya pengen jadi profesional? Katanya pengen bisa lebih banyak berkarya? Katanya ingin bisa memaksimalkan kemampuan? Kalau gini aja udah nyerah, gimana nanti?” Kalimat itu seringkali saya ‘putar’ di otak saya agar bisa terus menyemangati diri.

tiap pagi (bahkan hingga pagi lagi) nggak jauh-jauh dari sini
tiap pagi (bahkan kadang hingga pagi lagi) nggak jauh-jauh dari sini

Sampai suatu hari, saya ambruk, jatuh sakit. Semalaman sakit demam dan beberapa hari berikutnya harus menerima kenyataan untuk mengistirahatkan diri untuk sementara waktu. “Mungkin karena kebanyakan begadang,” kata ibu saya. Dan, saya pun mulai lebih disiplin mengatur waktu. Setidaknya maksimal jam 12 malam saya sudah harus tidur.

Berat itu hanya di awal. Setelah itu… dinikmati saja prosesnya.

Saat sudah sampai di sepertiga buku terakhir, saya mulai kembali semangat. Sedikit lagi. Sedikit lagi. Ada rasa senang yang aneh ketika tahu sudah sampai di garis finish, hehe. Tepat tanggal 1 Januari 2014, selesai sudah terjemahan saya. Perlu evaluasi lagi nih karena molor dari deadline yang diberikan.

sesekali minum capuccino hangat
sesekali minum capuccino hangat

Apa saya kapok menjadi penerjemah lepas? Ouw, tentu saja tidak! Saya malah penasaran ingin bisa menerjemahkan novel suatu saat nanti. Pastinya, ingin bisa lebih banyak berkarya lagi. Dan, tentunya harus banyak belajar lagi. Akhir-akhir ini saya malah seperti jadi slow reader karena ingin meresapi tiap kata dari semua yang saya baca. Karena dari pengalaman menerjemahkan (yang tak seberapa ini) menguasai bahasa sasaran amat sangat penting. Diksi dan kosakata bahasa Indonesia saya pun masih belum sempurna.

Hikmah (cieee…hikmah) yang didapat dari pengalaman menjadi penerjemah lepas untuk pertama kalinya, antara lain:
1. Pentingnya disiplin waktu! Disiplin! Disiplin!
2. Tidak terlalu memaksakan diri. Kalau sudah capek, istirahat. Kesehatan itu aset yang amat sangat penting. Banyak-banyak minum air putih juga penting (pake banget). Kalau capek ngetik sambil duduk, ya ngetik sambil berdiri, hehe.
3. Perlu menyegarkan otak berkali-kali. Otak sudah
buthek dan diajak nerjemah, hasilnya malah makin berantakan.
4. Pentingnya teman curhat. Hehe, ini juga salah satu hal yang krusial, biar nggak merasa merana seorang diri sewaktu dikejar-kejar
deadline.
5. Kopi tak selamanya bisa membuat saya terlepas dari rasa kantuk, hehe.

Setelah terjemahan ini selesai, apa rencana selanjutnya? Belajar lagi dan cari kerjaan terjemahan lagi! Haseeek!

pada akhirnya beralih ke teh hijau (menggantikan kopi)
pada akhirnya beralih ke teh hijau (menggantikan kopi)

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

21 thoughts on “Begini Rasanya Jadi Penerjemah Lepas”

  1. ku dulu terjemahin buku untuk tesis sendirian, selama setahun, rutin baca 10 halaman setiap hari.. tebel aja boh.. akhirnya “paham” juga buku itu.. demi tesis.. iya sakit diawalawal.. kuncinya konsisten dan disiplin.. godaan ada aja..

  2. Leganya kalo kerjaan terjemahan udah selesai. Aku dulu pernah nyoba daftar jadi penterjemah komik, dikasih sampel terjemahan komik korea tapi aku gagal, telat kirim hasil terjemahan sesuai deadline gara-gara udah sibuk di kantor, sampe rumah udah kecapekan ngerjain terjemahan komik, hiks..

    1. saya dulu pernah dua kali ikut tes terjemahan novel, tapi dua-duanya berhasil gagal semuanya, hehe. kalau udah selesei lega banget, tapi pas awal2 mulai beraaatnya minta ampun🙂

  3. Hahahha paragraf pertamanya bikin aku inget sama kejadian setahun lalu, dimana aku ditawari jadi penerjemah lepas juga. Metal banget menyetujui pekerjaan itu tapi akhirnya senang karena banyak pelajaran yang bisa diambil. Kosakata kita pun nambah🙂
    Satu hal yang aku tekanin ke diri sendiri kalau lagi dapat side job: ingat daya tahan tubuh. Kalau capek ya udah langsung istirahat. Gak mau maksain diri😀

    1. iya, saya masih perlu banyak belajar ini🙂
      ada masukan atau saran kah mbak tentang kira2 buku apa aja yang perlu dibaca dan yang bisa meningkatkan kemampuan menerjemah?

      1. Aku terus terang bukan lulusan bidang penerjemahan, jadi kalau ditanya buku apa yang bisa jadi acuan, aku juga kurang paham. Tapi aku pernah nulis tentang referensi buat penerjemah di sini:
        http://lamfaro.com/2012/01/31/buku-referensi-penerjemah-karya-anak-negeri/

        Semuanya aku udah baca dikit-dikit, dan setiap buku ngasih ilmu baru buatku. Tapi keunggulan buku yang diterbitkan Bahtera adalah sifatnya yang praktis karena memuat pengalaman para penerjemah yang udah lama menggeluti bidang itu.

        Aku sendiri pertama kali belajar menerjemahkan justru dari membandingkan buku terjemahan yang kusukai dengan teks aslinya. Misalnya aku suka banget “Memoir of Geisha”, aku cari buku aslinya, lalu aku bandingkan kalimat-kalimat yang menurutku sulit, terus kadang kucatet. Kerajinan ya… hehe…

        Eh, maaf ternyata panjang, Endah. Tapi sukses ya. Tetap semangat jadi penerjemah🙂

      2. hihihi, sama seperti saya mbak, kadang suka nyatet kalimat2 yang udah diterjemahin dari buku asli dan terjemahan. saya sendiri bukan lulusan khusus penerjemahan, nggak patah arang buat terus belajar🙂

        terima kasih atas masukan & juga semangatnya😀

  4. ehm, dan seperti biasanyasaya termotivasi..
    tapi kali ini dalam, bentuk lain : ada kerjaan beginian buat saya ga teh?😀

  5. wkakakka dikejar singa mati ya Dek
    beberapa kali dapat order terjemahan, untungnya cuma 8-10 halaman, tapi ya itu. Deadlinenya cuma 24-36 jam.
    Cuma bisa kerja pas si baby tidur, jadilah begadang ampe jam 2 pagi.

    1. hehehe, iya mbak singanya lumayan gede kali ini😀
      saya udah kapok begadang lewat di atas jam 12 malem, ‘ambruknya’ ini yang nggak ngenakin hihihi

  6. waaa baru baca hari ini nih😀
    sebenernya kantorku (selalu) cari penerjemah freelance, tapi repot juga kayaknya kalo gak sama2 di jogja, coz harus ditraining CAT tools dulu… hehe…
    tapi ikut seneng deh akhirnya selesai juga😀
    selamat!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s