Obrolan di Kopiteko

Karena setiap orang memiliki cerita yang hanya bisa dibagi dengan orang-orang tertentu…

Setelah sekian lama, akhirnya saya dan kedua sahabat saya memutuskan untuk bertemu hari Minggu kemarin. Agenda hari itu adalah sekalian mampir makan siang di Kopiteko, Batu. Lokasinya cukup strategis, yaitu tepat di seberang Lippo Plaza Batu.

Terakhir kami bertemu untuk berkumpul (aka ngrumpi) adalah beberapa bulan lalu di momen lebaran. Hehe, cukup lama juga. Setiap orang punya kesibukan masing-masing, dan lagi yang single hanya tinggal kita saja. Jadilah, cukup sulit untuk  bisa bertemu dan ngobrol-ngobrol. Dulu, kalau berkumpul bisa cukup ramai, tapi sekarang tinggal tiga orang yang setidaknya masih merasa perlu untuk bertemu dan berbagi cerita from heart to heart, hihihi.

Minggu siang yang cukup mendung saat itu, suasana Kopiteko masih terbilang tidak terlalu ramai. Saya memesan Mi Tarik Ayam dan Cokelat Panas saat itu. Oh, sama sushi juga, hehe. Kedua sahabat saya memesan Mi Tarik juga tetapi berbeda rasa. Untuk ukuran rasa, saya rasa cukup memuaskan. Mi Tarik Ayam yang saya pesan, rasa kaldu ayamnya mantaps! Hehe. Cokelat Panas dan sushi yang saya pesan juga sangat berterima di lidah saya, tsah! Harga? Hmm, harganya mulai dari belasan hingga puluhan ribu.

menu saya di hari Minggu nan mendung
menu pilihan saya di hari Minggu nan mendung

Kalau para perempuan sudah berkumpul, apa yang dilakukan? Ya, pastilah nggak jauh-jauh dari yang namanya curhat, ngedumel, ngeluarin uneg-uneg, sampai ngomongin orang, eh? Saat itu mungkin saya yang paling banyak menjadi pendengar. Salah satu sahabat saya punya segudang cerita tentang kegiatan dan masalahnya di sekolah. Ia bekerja sebagai seorang guru, dan rupanya ada banyak hal yang mengganggunya di lingkungan kerja dan lingkaran jejaring profesionalnya. Sahabat saya yang kedua juga memiliki banyak cerita tentang masalahnya dengan lingkaran pertemanannya yang lain, kesalahpahaman, dsb. Saya lebih banyak khusyuk mendengarkan mereka dan sesekali memberi saran atau masukan, hehe.

Mungkin ada beribu alasan, mengapa hanya ada satu mulut sedangkan ada dua telinga. Salah satunya: karena setiap manusia ingin lebih banyak didengar bukan lebih  banyak dihakimi, mungkin saja.

Karena dari lingkaran sahabat saya yang awet sejak jaman SMP sudah banyak yang menikah, jadi salah satu topik obrolan kami bertiga saat itu adalah… yak, jodoh! hahaha! Untuk kami bertiga, topik ini masih menjadi hal yang amat sangat sering sekali dibincangkan. Dekat dengan siapa? Bagaimana kabar si ini dan itu? Begitulah. Menggalau kah? Bukan, tetapi sedang menguak misteri (apa coba?) hehe.

Sometimes, we need more time to realize a matter. Obviously, it’s not something easy to do. But, well, we just have to go forward and do more meaningful things for ourselves, other people, and our life. Simply because we don’t have the second chance to experience this life.

“Oh iya, bagaimana di si itu?” tanya saya ke salah satu sahabat saya.
“Aku belum ngasih tau kamu ya? Hmm, dia baru saja lamaran. Pagi-pagi dia kirim sms dan memberi kabar itu. Dan, ya sudah, aku balas saja semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah,” jawabnya sambil tersenyum.
Jadi ingat dengan obrolan dengan seorang sahabat lain beberapa waktu lalu. Ya, kurang lebih sama “kasusnya”. Seseorang yang dulu pernah sangat dekat ternyata pada akhirnya bukanlah jodohnya. It must not be a pleasant experience, but we have to keep  moving forward, girls!

my best (single) friends :D
my best (single) friends😀

Setelah cukup lama mengobrol, kedua teman saya mampir ke rumah saya. Sekalian maen dan membawa pulang beberapa buah mangga yang masih tersisa di pohon mangga depan rumah saya, hehe. Baru beberapa menit sampai di rumah, hujan mengguyur dengan derasnya. Saya dan kedua sahabat saya melanjutkan obrolan di teras sempit rumah sambil makan buah mangga.

Thank you for being with me, girls. It was such a wonderful (although cloudy) Sunday for me. Each of us will surely find that happiness🙂

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

7 thoughts on “Obrolan di Kopiteko”

  1. “Mungkin ada beribu alasan, mengapa hanya ada satu mulut sedangkan ada dua telinga. Salah satunya: karena setiap manusia ingin lebih banyak didengar bukan lebih banyak dihakimi, mungkin saja.”
    Saya suka kutipan ini mbak, iyap benar salah satunya ini alasannya telinga dua dan mulut satu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s