Bertumbuh

gambar dari sini

Belum, yang kulakukan sekarang hanya menjanjikan sesuatu yang niscaya akan datang. Setiap kali orang melintasi rumah kacaku dan melihatku sibuk sendiri merawat biji-biji perak yang kutanam, mereka selalu mencibir. Meski aku tidak bisa mendengar ucapan mereka dari dalam rumah kaca ini, aku bisa melihat raut muka mereka yang memandang remeh ke arahku. Hal itu sangat menyakitkan, Mutiara.

“Iya, aku sangat paham akan hal itu. Sudah lebih dari ratusan kali kau gagal menumbuhkan tunas dari biji-biji perak itu. Jika aku bisa, aku sudah menyuruhmu untuk kembali pulang saja. Di sana, di rumah kaca itu, kau hanya seperti badut yang menjadi objek olokan manusia-manusia ini. Pulanglah.”

Tidak, sebelum aku berhasil. Aku yakin bisa menumbuhkan biji-biji perak ini. Jangan lagi kau menyuruhku pulang, Mutiara. Biarkanlah aku di sini beberapa waktu lagi. Sabarlah, tunas itu pasti akan muncul. Bukankah proses kelahiranmu juga tak lain adalah serangkaian proses sabar?

Kau cantik, kau berharga. Ah, aku tak akan pernah lupa cerita indahmu itu. Kau dulunya hanya sebutir pasir. Namun, lihat kau sekarang. Kau berkilau, kau bersinar. Setiap orang tak bisa melepaskan pandangannya darimu. Kau layak diperebutkan.

“Tetapi mereka tak tahu bahwa ada rasa sakit yang harus kutahan selama puluhan tahun sebelum aku menjadi diriku yang sekarang ini. Aku bahkan telah membuat kerang yang melindungiku kesakitan, bahkan ia mencoba mengusirku dengan getah yang ada di perutnya. Saat itu, tempat tinggalku sendiri bahkan tak menginginkan kehadiranku. Mereka ingin mengusirku. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Aku terperangkap di dalamnya. Berusaha tak mendengar apa-apa, berusaha menerima perlakuan keras pelindungku kepadaku. Bertahun-tahun lamanya, aku tersiksa. Namun, aku bertekad aku tak akan membuatnya sia-sia.”

Kenapa kau bisa bertahan di sana selama bertahun-tahun, Mutiara?

Karena aku tahu, ada titik saat aku akan bersinar. Ada waktu yang akan menjawab, dan ada sesuatu yang bisa kujadikan kata maaf pada sang kerang atas penderitannya selama ini. Aku tak akan sia-sia.

Kau benar, Mutiara. Jadi, janganlah kau menyuruhku untuk pulang. Aku akan terus bertahan di sini. Kegagalan memang menjadi hantu yang terus membayangiku di malam-malam hening. Keputusasaan terus berdenging di telingaku setiap kali lelah mendera. Bayangan hitam masih terus menggelayuti kelopak mataku. Tetapi, aku masih memiliki kehidupan saat ini, aku bertahan karena Pemilik Kehidupan menyuruhku untuk berbuat sesuatu untuk kehidupan ini. Dan, inilah yang bisa kuperbuat saat ini, aku akan berjuang.

“Kuhargai semangatmu. Terkadang ada rasa kerinduan untuk berhenti yang nyaris melumpuhkan impian dan harapan. Saat seolah-olah ada tangan yang mencengkeram dadamu dari dalam dirimu sendiri, itulah saat yang berarti kau harus menebalkan tekadmu. Semakin dicengkeram kuat, semangatmu justru akan semakin berkobar.”

Terima kasih, Mutiara. Kau selalu menjadi yang terbaik. Hanya kau yang selalu berhasil membuatku kembali bersemangat.

“Bukan, bukan aku. Tetapi dirimu sendiri. Kau lah yang memutuskan akan ke mana dan berbuat apa di detik waktu yang berikutnya. Aku bukan siapa-siapa. Kau tahu betul tadinya aku hanyalah sebutir debu yang membuat pelindungku kesakitan selama bertahun-tahun. Kau masih punya kehidupan. Maaf, jika tadi aku sempat menyuruhmu pulang.”

Mutiara, tahukah kau sesuatu? Meskipun saat ini aku belum bisa menumbuhkan tunas dari biji-biji perak yang kutanam, aku sudah tahu seribu satu cara yang seharusnya tidak dilakukan orang ketika mereka ingin menanam biji-biji ini.

“Kau  hebat. Selalu hebat seperti biasanya. Bolehkah aku tanya sesuatu? Bagaimana kau bisa seyakin itu? Maksudku, bagaimana kau bisa yakin bisa menumbuhkan tunas dari biji-biji perak itu?”

Itu mudah saja, Mutiara. Biji-biji perak ini terlahir karena ada yang melahirkan dan menumbuhkan mereka sebelumnya. Aku hanya perlu berusaha dan menarik Tangan Penumbuh ke dalam biji-biji ini. Aku hanya perlu mencoba, Mutiara.

“Kau hebat. Selalu hebat seperti biasanya.”

 

 

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

4 thoughts on “Bertumbuh”

  1. Karena aku tahu, ada titik saat aku akan bersinar. Ada waktu yang akan menjawab, dan ada sesuatu yang bisa kujadikan kata maaf pada sang kerang atas penderitannya selama ini. Aku tak akan sia-sia.”

    selalu, kenapa saya selalu bia semangat habis baca tulisan teteh? makasih teh.

    1. bukan hanya cermin untuk diriku sendiri, semoga bisa juga jadi cermin untuk orang lain. menguatkan diri? hmmm, bisa jadi, bukankah setiap orang punya caranya sendiri untuk menguatkan dirinya juga🙂

      wew, dirimu meninggalkan cukup banyak komen di sini, om… hehehe. thank you for dropping by and leaving your comments here😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s