Jauh Sebelum Kita Melihat Dunia

gambar dari sini

01.01

Kau terbangun lagi. Mimpi buruk lagi?

Ada puluhan tangan yang mencekikku dari dalam. Ada ratusan jarum tertancap di kepalaku. Dan, ya mimpi buruk itu datang lagi. Untuk kesekian kalinya, mimpi itu datang lagi.

Aku sangat tahu apa yang kau rasakan, kawanku. Aku juga pernah merasakannya.

Kau bohong. Kau sama sekali tak mengerti. Ini berbeda. Kau tahu bagaimana sakitnya ditertawai karena kegagalan yang kau perbuat? Apakah sebaiknya aku buat mimpi buruk itu menjadi nyata?

01.21

Kau berani? Benar-benar punya nyali untuk membuat mimpi buruk itu menjadi nyata?

Hanya mimpi itu yang tersisa kini. Tak ada lagi mimpi indah atau dongeng yang melenakan seperti dahulu. Mimpi buruk ini sudah menjadi satu-satunya kenyataan yang menerima keberadaanku.

Coba kau pikir lagi. Coba kau gali lagi mimpi-mimpi terbesarmu. Ada semangat di sana, ada dirimu yang sebenarnya di dalamnya. Cobalah lagi.

Berhentilah berkata seperti itu! Aku muak! Aku sudah mendengar kata-kata itu ribuan kali. Telingaku sakit. Mereka bilang aku harus bangkit ketika terjatuh, aku harus tetap melangkah meski gagal, aku masih punya kesempatan untuk mencoba lagi. Tapi apa? Aku akhirnya hanya berpura-pura kuat, seolah-olah aku berjiwa baja yang bisa menangkis semua kegagalan yang mereka bilang kerikil-kerikil kecil kehidupan. Mereka semua bohong! Dan kini kau pun membohongiku!

01.41

Maafkan aku.

Ah, kau memang berhak menangis saat ini. Jika air mata itu membuatmu lega, membuat gumpalan sesak di dadamu mencair, keluarkan air mata itu.

Isakan itu semakin kuat, tapi kau redam suaranya. Kau tak ingin membangunkan siapapun meskipun diam-diam kau berharap ada seseorang yang mendatangimu dan memeluk tubuhmu yang menggigil saat ini. Sayangnya, hanya kau dan dirimu yang ada saat ini, yang nyata saat ini. Kau menangis saat malam, saat hanya ada keheningan dan dirimu. Jangan-jangan justru dirimu sendirilah yang membuatmu menangis—yang paling kau takuti?

Ya, semua membuatku takut. Bahkan, aku sendiri takut menghadapi kehidupanku sendiri. Kau tahu, dunia tidak lagi peduli aku terjatuh atau tidak. Kehidupan tak lagi menyemangatiku untuk terus bergerak. Bahkan mimpiku sendiri mengejekku, impianku sendiri meremehkanku.

Dunia memang tak mempedulikanmu. Tetapi dirimu peduli, jantungmu peduli.

01.51

Coba raba detak jantung yang masih kau rasakan sekarang. Ikuti iramanya. Mungkin kau mendengarnya seperti dentuman drum, bam bam bam! Namun, beberapa orang mendengar detak jantungnya seperti melodi biola, alunan piano, bahkan ada yang bilang mereka bisa mendengarkan suara matahari di sana. Aneh memang, tetapi itulah pengakuan mereka. Semangat itu sudah ada di dalam dirimu, sudah tertanam di sana, jauh sebelum kau melihat dunia.

Ia terus menjalankan tugas yang diberikan Sang Maha. Betapapun marah atau sedihnya dirimu, ia masih akan terus berdetak. Ia tak akan berhenti sebelum waktunya—masanya untuk berhenti. Jantungmu mungkin tak tahu sampai kapan ia harus terus berdetak mengalirkan darah di dalam tubuhmu. Yang ia tahu hanyalah untuk terus memberikan semangat untukmu. Dekatkan lagi suara detak jantung itu, rasakan denyut jantungnya.

Ia sudah berjanji untuk tetap ada bersamamu. Selalu mengiringi setiap langkahmu. Jangan permalukan dirimu di depan jantungmu sendiri. Sang Peniup Ruh tak sekalipun meremehkan ciptaan-Nya.

Mimpi burukmu itu memang menyeramkan. Meminum racun, roh tercerabut, dan melayang-layang di atas jasadmu yang mengenaskan itu? Jika kau melakukannya, kau telah mengkhianati jantungmu sendiri, terlebih kau mengkhianati Pemiliki Jiwamu sendiri.

02.21

Aku lelah.

Tetapi kau selalu bisa mengobati lelahmu. Rendahkan dirimu saat ini, basahi wajahmu dengan air suci. Masih belum terlambat. Kau mungkin tak tahu apakah masih ada kesempatan untukmu. Tapi berkawanlah dengan ketidaktahuan itu.

Bumi ini siap menerima kening yang kau sentuhkan padanya. Penggenggam Jiwamu juga tak akan pernah sekalipun meninggalkanmu. Semangat itu sudah tertanam di dalam dirimu, jauh sebelum kau melihat dunia. Jangan kau khianati.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

9 thoughts on “Jauh Sebelum Kita Melihat Dunia”

  1. “Kau mungkin tak tahu apakah masih ada kesempatan untukmu. Tapi berkawanlah dengan ketidaktahuan itu.”

    gila..saya suka banget bagian ini..

    1. hahaha, kalau galau bisa dibikin produktif, kenapa nggak. betul ngga, om?
      tulisan ini sempet diikutin lomba pake tema tertentu, jadilah kayak gini😀
      itu-itu wp-mu ngga’ aktif ya, om?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s