Padang Cakrawala

Kulihat sayap kelabumu terurai berderai. Tertunduk kau sendiri di sebuah padang rumput hijau. Anak-anak kecil bekerjaran bermain layang-layang pelangi. Pendar siluet senja mereka berbayang di kedua matamu yang mengembun.

 

gambar dari sini

Yang kau lihat itu aku.

“Kejar mimpimu!” “Jangan pernah menyerah!” Ya, kau sudah berusaha. Lalu, kenapa?

Kenapa aku harus menjadi aku. Kenapa aku berada di dalam diriku? Terkadang ingin rasanya aku berada di tubuh orang lain, merasakan detak jantung yang mereka miliki. Berupaya untuk mendapatkan yang selama ini belum pernah kudapatkan. Aku lelah berada di dalam diriku, terperangkap dalam aku.

Kau merasa tak pernah beruntung. Bahkan, ketika kau sudah tinggal selangkah lagi untuk meraih sebuah mimpi besar itu, saat kau hanya tinggal sejengkal meraih matahari itu, kau dicengkeram oleh sebuah tangan kekar bercakar tajam. Ditarik jauh dan dihempaskan ke dalam jurang gelap, seorang diri. Senyum yang sudah merekah di wajahmu, bahkan di wajah orang-orang yang menyayangimu kembali meredup. Satu-satunya yang tersisa hanyalah sepasang sayap yang sudah kehilangan cahayanya.

Kau mengecil, berusaha sembunyi. Kau terkurung.

Perasaan itu adalah aku.

Mudah saja bagi mereka untuk bangkit kembali setelah gagal. Namun, kau tak mempunyai cukup nyali dan keberanian untuk bisa kembali berdiri. Rasa sakit itu masih membekas, perasaan takut itu masih menyelubungi. Kau tak mau terluka—atau kau hanya tak siap berusaha lagi?

Siapa bilang gagal itu tidak menyakitkan? Percayalah padaku, kegagalan membuatmu menyedihkan. Atau haruskah aku berpura-pura? Berpura-pura kembali bangkit dari kesedihan mendalam, meskipun rautan luka masih terasa pedih di ulu hati? Ah, kehidupan tak pernah berhenti membuatku lelah.

Seorang ibu memanggil seorang anak bertopi jingga yang sedang bermain layang-layang.

“Nak, kau harus pulang sekarang, besok kita main lagi.”

“Tapi aku masih ingin bermain, Bu,” rajuknya.

“Tuan Matahari harus istirahat sekarang, kau pun juga harus istirahat. Besok, kau boleh bermain lagi.”

“Benarkah aku masih boleh bermain lagi  besok?” mata bulatnya berseri-seri.

“Tentu saja!” jawab sang ibu mantap.

“Besok kau pasti bisa menerbangkan layang-layang pelangi jauh lebih tinggi lagi.”

“Jauh lebih tinggi dari Tuan Matahari?”

“Kenapa tidak?”

Kini tinggal lah kau dengan sang cakrawala—yang sebentar lagi akan meninabobokan sang pencahaya.

Cakrawala itu tampaknya akan menelan matahari bulat-bulat, apakah ia akan menelanku juga? Membuatku menghilang dari kehidupanku sendiri?

Tuan Pemilik Cakrawala, bolehkah aku mati sekarang? Saat ini juga?

Tuan Pemilik Cakrawala, seharusnya dari awal Kau tak perlu menciptakanku. Aku tak berguna di sini. Kehidupan akan sama saja dengan ada atau tidak adanya aku. Kurasa kau salah memilih ciptaan. Sayapku tak sekuat sinar matahari. Bawa aku pergi dari kehidupan dan semua omong kosong tentang impian sekarang juga. Aku lelah.

Sayap kelabu itu perlahan berkelip. Rona jingga cakrawala terpantul menjadi ukiran semburat emas yang meneduhkan mata melalui kedua sayapnya. Perasaan hangat menyusup perlahan melewati sel-sel darahmu.

Ada apa ini? Apakah aku akan benar-benar mati sekarang?

Anak bertopi  jingga tiba-tiba menghampirimu, memberimu sesuatu dengan tangan kirinya. “Ini, untukmu. Besok kita akan menerbangkan layang-layang ini bersama. Besok kau masih akan datang ke padang cakrawala ini, kan? Ibuku bilang, besok aku bisa menerbangkan layang-layang jauh lebih tinggi. Kau juga pasti bisa kan?”

Kau ulurkan tanganmu menerima sebuah layang-layang pelangi darinya. “Terima kasih. Hmm, boleh aku bertanya sesuatu?”

Anak itu mengangguk, “Tentu saja.”

“Itu, ada apa dengan tanganmu itu?”

“Oh ini. Beberapa waktu lalu aku kecelakaan, dan yah, tangan kananku harus diamputasi. Tapi, hei, aku masih jago bermain layang-layang,” senyumannya mengaburkan lukamu. “Sudah ya, aku harus pulang sekarang. Sampai jumpa besok!”

Kau pun bangkit, desau angin padang rumput kembali menyejukkan hatimu. Aku masih bisa bernapas, apakah ini artinya aku masih bisa bertahan?

Kau tahu jawabannya, lebih dari siapapun.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

2 thoughts on “Padang Cakrawala”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s