Kampanye Indonesia Menulis di Malang

Menulis itu pekerjaan profesi.
-Willy Pramudya

Berawal dari sebuah pesan yang dikirim via What’s App oleh salah satu teman kuliah saya. Ia mengabari bahwa akan ada acara Kampanye Indonesia Menulis yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Hotel Solaris, Malang. Tadinya acara ini akan diselenggarakan pada tanggal 22 November 2013, ternyata diundur jadi tanggal 25 November 2013. Sip! Saya pun ikut mendaftar, gratis ini acaranya, hehe.

Kampanye Indonesia Menulis di Hotel Solaris
Kampanye Indonesia Menulis di Hotel Solaris

Sekitar pukul 09.10 saya sudah tiba di Hotel Solaris. Teman saya belum datang, saya sempat celingak-celinguk sendirian. Di dalam ruangan, sudah cukup banyak peserta yang datang. Acara dimulai sekitar pukul 09.30. Diawali dengan sambutan dan presentasi tentang Ekonomi Kreatif di Indonesia. Oh ya, acara ini mengangkat topik “Dalam Rangka Pelaku Kreatif yang Memperoleh Peningkatan Kemampuan Produksi dan Kreasi Karya Berbasis Media.”

Ada beberapa informasi yang akhirnya saya tahu. Beberapa diantaranya antara lain: 1) Kebudayaan merupakan akar Ekonomi Kreatif; 2) Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual yang dibagi menjadi dua yaitu Kepemilikan Komunal dan Kepemilikan Individual; 3) Karya intelektual terdiri dari karya tradisional dan non-tradisional; 4) Budaya ada dan sah-sah saja untuk dipelajari oleh  banyak orang dengan warna kelokalaan yang mungkin berbeda-beda.

Dua pemateri berikutnya yang memberikan materi tentang kepenulisan adalah FX Rudi Gunawan dan Willy Pramudya. Beberapa hal yang disampaikan antara lain berkaitan dengan peran penulis dalam kemajuan peradaban, budaya sebagai akar menulis, menulis sebagai bagian dari kehidupan dan kebudayaan, dan pastinya beberapa teori menulis.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

Ada satu hal  yang saya catat ketika masuk ke pembahasan dalam membuat karya fiksi, yaitu tentang karakter.
Karakter harus ditampilkan selogis mungkin (dengan urutan logis). Saat itu peserta disuruh untuk membuat tulisan dengan mengambil karakter Pak Willy. Salah satu peserta membuat sebuah cerita yang karakternya adalah seorang penulis. Si karakter ini digambarkan masih menulis dengan menggunakan komputer yang masih belum canggih, tetapi anehnya si karakter diceritakan sering pergi ke klab malam untuk bersenang-senang dan royalti yang didapatnya juga sudah mencapai ratusan juta. Logis kah? Kalau sudah kaya kenapa masih juga pakai komputer yang usang, kok nggak beli aja yang  baru?
Show don’t tell. Sebenarnya saya sudah mendengar teori menulis ini berulang kali, hehe. Tetapi baru bener-bener ngeh di acara ini. Jadi, karakter harus ditunjukkan bukan dengan kesan. Misalkan, si A ini orangnya mudah gugup. Tetapi sebaiknya ditampilkan dengan merujuk pada gestur yang dilakukan, jadi daripada menulis si A ini orangnya mudah gugup, kita tulis saja, misalnya, setiap satu menit sekali si A menyeka butir-butir keringat di pelipisnya.

Saya juga baru tahu ada istilah Homo Faber. Hehe, ketahuan kalau pengetahuan saya masih seklumit.Secara garis besar, homo faber artinya manusia dapat membuat alat-alat dan mempergunakannya atau disebut sebagai manusia kerja dengan salah satu tindakan atau wujud budayanya berupa barang buatan manusia (artefak).

Di sesi tanya jawab, para peserta lebih banyak menanyakan masalah yang mereka hadapi ketika menulis dan juga tentang karir menjadi penulis. Ada juga yang menanyakan tentang cara-cara agar tulisan bisa menembus media nasional. Ada juga yang merasakan dilema memilih penulis sebagai profesi utama, ya karena masalaha kesejahteraan, dan juga ya karena pandangan orang-orang sekitar yang masih belum benar-benar paham profesi seorang penulis.

inmen2

Meskipun saya hanya punya secuil pengalaman bekerja di “dapur buku”, setidaknya saya sudah punya gambaran bagaimana sebuah buku “dimasak” hingga “siap dihidangkan”, hehe. Alasan saya ikut acara ini sebenarnya karena ingin menggali kembali semangat buat terus berkarya sekaligus bertemu dengan seorang sahabat saya sewaktu kuliah yang sudah beberapa tahun tidak bertemu (kesannya lama sekali ya?). Usai acara, saya ikut mengerubungi Pak Willy. Beliau sangat bersemangat dalam menyebarkan virus menulis. Salah satu pernyataan yang diucapkan beliau tentang modal dasar untuk menjadi penulis yang baik adalah menguasai gramatikal dan leksikal bahasa *kembali ubek-ubek buku tentang linguistik*.

Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi untuk bisa menjadi penulis yang baik adalah PRODUKTIVITAS. Penulis itu bukan masalah bakat dan bukan bergantung pada mood. Agar bisa disebut penulis ya harus nulis dan berkarya. Seperti yang diungkapkan oleh Bang Rudi, “Penulis profesional tidak boleh bergantung pada mood. Salah satu alasan kenapa banyak penulis yang juga berprofesi sebagai jurnalis adalah karena mereka sudah terbiasa dengan deadline.”

Acara yang berlangsung sejak pukul 09.30 hingga 17.00 ini cukup mengisi bahan bakar saya untuk terbakar kembali membuat karya yang jauh lebih baik. Penulis adalah voice of the voiceless.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

14 thoughts on “Kampanye Indonesia Menulis di Malang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s