Hujan Pertama

“Hujan.”
Apa?
“Hujan. Aku mau hujan. Tadi kamu tanya kado apa yang paling ingin aku dapatkan di hari ulang tahunku. Ini jawabanku, aku mau hujan.”
Oh! Hmm, kenapa kamu ingin hujan?
“Aku rindu.”
Maksudnya?
“Aku rindu suara rintikannya. Aku ingin kembali mencium tanah basah sehabis hujan. Sudah lama rasanya tidak merasakan hawa syahdu hujan menyentuh pori-pori kulit. Ah iya, aku juga ingin merasakan satu per satu tetesan air hujan menyentuh ujung-ujung jariku.”
Sepertinya bukan hanya kamu yang ingin turun hujan. Banyak orang yang juga sedang menantikan hujan.
“Iya aku tahu, selain itu memang sudah lama sekali tidak turun hujan. Beberapa hari terakhir orang-orang sering mengeluh hawa yang semakin panas.”
Nanti kalau turun hujan, orang-orang juga pasti ada yang mengeluh, yang tidak bisa bepergian lah, yang jemurannya tidak kering lah.
“Ha, manusia memang makhluk pengeluh.”
Kau tiba-tiba tergelak. Baiklah, baiklah. Lalu, apa yang akan kau lakukan jika hujan pertama turun di hari ulang tahunmu?

gambar dari sini

“Kau ingin tahu?”
Aku mengangguk. Jika tidak ingin tahu, kenapa aku harus menanyakannya bukan?
“Ini  yang akan aku lakukan. Aku akan masuk ke dalam kamarku, membuka tirai jendela lebar-lebar. Lalu menikmati melodinya dari dalam kamarku. Mungkin aku juga akan sambil menikmati segelas coklat hangat, ah atau mungkin juga secangkir kopi, nanti biar aku lihat persediaannya di dapur. Menyentuh embun lembut yang menempel di jendela kamarku. Menebarkan harapan dan doa-doa di setiap tetes air yang jatuh ke bumi. Yang aku lakukan jika hujan turun adalah menikmatinya, sesederhana itu.”
Harapan? Doa-doa? Tentang apa?
“Apa saja. Aku punya banyak sekali doa, sah saja kan seorang manusia memiliki banyak doa dan harapan.”
Iya, iya. Aku bukan pawang hujan apalagi dewa hujan, mungkin aku tak bisa membantumu untuk bisa menurunkan hujan di hari ulang tahunmu.
“Kau hanya perlu yakin, kau tak perlu harus jadi dewa untuk mendapatkan sesuatu.”
Baiklah, baiklah.

gambar dari sini

Hei, turun hujan. Akhirnya keinginanmu terkabul. Aku sedang menunggumu di sini tapi aku yakin kau pasti tak datang kali ini. Seperti yang kau katakan tempo hari, jika hujan pertama datang di hari ulang tahunmu kau akan menikmatinya dari balik jendela kamar. Kau pasti sekarang sedang menikmati segelas coklat panas (atau mungkin secangkir kopi?) dari dalam kamarmu.

Orang-orang berlarian agar tidak basah kuyup karena hujan. Banyak orang yang menepi dan berteduh, mungkin mereka berharap agar hujan segera reda dan mereka bisa segera pulang. Kendaraan melaju lebih cepat dari biasanya. Ah, aku bisa mencium aroma tanah basah karena hujan pertama. Rupanya aku juga merindukan hal yang sama seperti yang kau rindukan.

gambar dari sini

Hujan pertama kali ini sangat deras. Kuharap kau tidak malah jadi ketakutan karenanya. Angin bertiup semakin keras. Beberapa orang yang berteduh semakin merapat mencari tempat terbaik agar tak terkena tempias air hujan yang semakin menggila. Bagaimana pun juga hujan ini akan reda sebentar lagi. Kuharap kau masih terus berdoa berharap semua keinginanmu jadi nyata meskipun hujan sudah reda.

gambar dari sini

“Maaf aku tidak bisa datang. Ya, kau pasti tahu karena sekarang hujan. Kuharap kau tidak telanjur menungguku terlalu lama.”
Sebuah pesan singkat kuterima darimu. Sayangnya, aku sudah telanjur menunggu terlalu lama di sini, ha! Tak apa.
“Aku sangat senang hujan turun kali ini. Kuharap banyak orang lain juga yang  bahagia karena turunnya hujan pertama ini. Melodi hujan yang sudah sangat kurindukan kini bisa kudengar langsung, meski memang anginnya sedikit mengerikan barusan. Bagaimana denganmu? Kau bisa mendengar melodi yang sama yang kudengar dari sini?”
Sebuah pesan kedua darimu kuterima tak lama setelah pesan pertama. Isinya cukup panjang. Iya aku bisa mendengar melodinya, tetapi mungkin tak sama karena kau tidak bersamaku saat ini.
Kuselipkan kembali sebuah kotak yang sejak tadi kugenggam ke dalam saku mantelku, tadinya ini ingin aku berikan padamu saat ini. Tapi, rupanya kau sudah mendapat kado terbesarmu…

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

10 thoughts on “Hujan Pertama”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s