Kembali ke Dunia Mereka

Saya bukan orang yang bisa sangat penyabar, apalagi jika berhadapan dengan anak-anak. Hehe, nggak kebayang kalau saya ngajar anak TK atau SD setiap hari, mungkin saya bakal uring-uringan tiap hari karena susahnya mengatur mereka semua. Memberi les buat anak-anak sekitar kompleks rumah saja kadang bikin otak mendidih, hihi iya saya terlalu lebay.

Kalau saya lagi baik hati dan nggak keluar tanduk, saya sangat senang mecandai mereka dan mendengar celotehan-celotehan mereka. Salah satu anak yang paling besar namanya Johan kelas 6 SD sudah punya pacar di sekolahnya. Pacarnya ini anak kelas 4, dan kadang kalau lagi les suka bawa hp dan sms-an sama pacarnya ini.

“Heee… Ini masih kecil kok udah pacaran, nanti cepet tua loh,” kata saya suatu hari.
Yang dicandai cuma meringis saja. Teman-temannya yang lain seperti Igo, Bayu, dan Fahan juga sering menggodanya dengan menyebut nama-nama pacarnya. Kalau sudah saling menggoda, hadeuh ribut nggak karuan.

Kadang saya bisa amat sangat jahat ke anak-anak. Suatu kali Igo sedang mengerjakan PR Matematika, saya coba ajari tetapi dia tampak malas-malasan, dan parahnya dia belum bisa hitung-hitungan dasar padahal sudah kelas 6. Dia tampak seperti akan menangis ketika “tanduk saya keluar” hehe, saking gemesnya saya kok ya nggak bisa-bisa.

Mereka kadang juga suka “curhat”, tentang ayah mereka yang kadang kasar di rumah, tentang teman-teman mereka di sekolah, tentang guru-guru mereka di sekolah, tentang acara-acara desa yang mereka ikuti, dan sebagainya. Anak-anak itu kadang begitu polos, tetapi menyebalkan juga hehe. Saya dulu waktu kecil dulu kayaknya nggak pernah semenyebalkan mereka (eh?).

Mengajari mereka seperti membawa saya kembali ke dunia yang dulu pernah saya “huni”. Beruntungnya saya dulu di era 90an masih banyak lagu anak-anak dan acara-acara televisi yang “anak-anak banget” seperti Cilukba!, Pesta Ceria, Tralala Trilili, dan sebagainya. Dulu saya di sekolah sering banget main lompat tali, bola bekel, dsb bersama teman-teman sekolah di jam istirahat. Anak-anak sekarang jadi memiliki kecenderungan untuk saling mengunggulkan ponsel yang mereka miliki. Saya suka gemas jika di jam belajar les, mereka sibuk dengan ponsel mereka.

the krucils
“the krucils” ketika ikut karnaval desa

Anak-anak itu memang seperti selembar kertas putih. Mereka kadang sangat lugu dan polos, menanyakan hal-hal yang kadang saya sendiri bingung harus menjelaskan. Seperti anak-anak kelas 6, mereka sudah mendapat pelajaran tentang organ reproduksi, mereka suka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kadang cukup bingung untuk saya menjawabnya, hehe. Seperti, “Mbak, laki-laki itu bisa menstruasi nggak?”

Saya pernah membuatkan soal IPA untuk Fian yang duduk di kelas 3 SD. “Orang yang kekurangan vitamin B, bisa terkena penyakit…” (saya ambil soal itu dari LKSnya), jawaban yang ditulisnya bukanlah “beri-beri” tetapi “mati”. Hehe, iya sih iya kalau kekurangan vitamin dan nggak dapat penanganan segera bisa berakibat kematian, tapi kan tapi…

Pendidikan anak memang berawal dari keluarga. Beberapa anak les terbiasa dengan PR yang dikerjakan oleh orang tuanya. Mereka jadi tak terbiasa dengan “berusaha mencari jawaban” sendiri karena terlalu bergantung pada hal-hal berbau instan. Saya suka marah-marah kalau mereka tanya sesuatu yang sebenarnya jawabannya sudah bisa ditemukan di buku mereka. Hehe, saya ini kok pemarah sekali ya.

Ketika berada bersama anak-anak, saya merasa benar-benar menjadi diri saya. Ketika saya kesal, saya bisa langsung marah. Ketika saya senang, saya bisa ikut tertawa terbahak-bahak bersama mereka atau malah mengusili mereka. Entah sudah berapa kali saya memarahi mereka ketika les bersama di rumah, tapi ya mereka nggak kapok juga hehe, saya ini dianggap apa sebenarnya.

Dunia mereka memang penuh warna.

Suatu hari, ketika anak-anak ribut saling mengolok-olok dan menggoda karena masing-masing punya pacar atau setidaknya gebetan, saya jadi emosi juga. Hmm, tapi sepertinya emosi ini bukan karena ributnya mereka tapi karena kenapa mereka sudah punya pacar di usia segitu, sedangkan saya? *blaarr kok jadi curcol* hahaha.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

6 thoughts on “Kembali ke Dunia Mereka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s