Satu Syaratnya: Berkorban

Selamat merayakan hari raya Idul Adha 1434 H🙂
Semoga semakin banyak berkah yang bisa kita dapat, semakin banyak pelajaran yang bisa kita renungi, dan semakin banyak hal bermanfaat yang bisa kita lakukan.

Kisah tentang Nabi Ibrahim AS sudah saya dengar sejak saya duduk di bangku SD. Pengorbanan, mungkin itu salah satu hikmah terbesar dari kisah Nabi Ibrahim. Agar pengorbanan itu tidak terasa menjadi beban, harus ada keikhlasan. Berkorban tanpa keikhlasan, mana bisa tenang hati ini. Ah, tahu apa saya tentang pengorbanan. Memangnya apa saja yang sudah saya korbankan? Apa saja pengorbanan yang sudah saya lakukan agar bisa lebih bermanfaat untuk orang lain?

Keberhasilan besar tak akan pernah ada tanpa pengorbanan.

Untuk mencapai sebuah titik keberhasilan, ada ratusan anak tangga yang harus dilalui. Agar bisa meraih buah paling manis, kadang kita harus memanjat hingga ke puncak paling atas sebuah pohon. Jika ingin bisa mendapatkan sebuah cahaya terang yang jauh di sana, kita harus rela berpeluh untuk berlari menuju cahaya itu sebelum kembali tertelan bumi.

Berat. Berkorban itu berat. Tapi mungkin keikhlasan akan membuatnya jauh lebih ringan.

Merelakan sesuatu yang sangat kita sukai. Mengendalikan diri agar bisa selalu disiplin untuk menyelesaikan sesuatu. Memenuhi setiap janji-janji  kecil yang kita buat. Menempuh jalan baru yang sebelumnya amat sangat kita hindari. Waktu yang dulu bisa kita isi dengan hal-hal yang paling kita sukai harus digunakan untuk melakukan sesuatu yang “serius” karena sebuah tujuan.

Mungkin salah satu syarat agar bisa ikhlas adalah berhenti bertanya bagaimana caranya bisa ikhlas. Ya, mungkin saja begitu.

Bagaimana saya bisa ikhlas? Saya sudah melakukan ini dan itu, apa itu belum bisa disebut dengan ikhlas? Saya sudah berjalan sejauh ini, bertahan hingga titik ini, apa ini juga belum bisa disebut ikhlas? Saya melakukannya dengan hati, apa ini belum bisa juga dikatakan ikhlas? Tunggu, apakah pertanyaan-pertanyaan saya ini malah menunjukkan ketidak ikhlasan saya?

Semuanya tentang niat.

Segala sesuatu bergantung pada niat. Seberapa besar dan kuat niat kita untuk bisa mencapai sesuatu itu. Berkorban memang tidak mudah. Namun hal tidak mudah itu harus kita jalani agar bisa meraih tujuan-tujuan besar dalam hidup. Menyertakan nama-Nya dalam setiap pengorbanan yang kita buat bisa jadi membuat kita ikhlas melewati setiap anak tangga, menapakkan kaki selangkah demi langkah, agar bisa menjadi seseorang yang memberikan manfaat untuk orang  banyak.

Apakah kata “berkorban” terlalu berat, terlalu membebani? Ya? Tidak?

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

2 thoughts on “Satu Syaratnya: Berkorban”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s