Mengejar (Karir) Impian

Baru-baru ini seorang teman yang bekerja di Jakarta mengirim sebuah pesan via What’s App. Dia mengeluarkan uneg-unegnya tentang kerjaannya yang sekarang. Ia bilang bahwa kerjaan sekarang tidak sesuai passion, rutinitas yang sama itu-itu saja, dan finansial yang menurutnya belum sepenuhnya setimpal. Apa saran saya? Hehe, saya sih menyarankan untuk cari pekerjaan baru.

gambar dari sini

Salah satu momen terberat dari hidup saya adalah ketika saya  baru lulus kuliah. Bingung, lebih tepatnya. Saat itu saya benar-benar tak ada pandangan akan bekerja di mana. Gelar yang saya peroleh adalah Sarjana Pendidikan, dan ya dengan gelar itu, orang tua berharap saya bisa jadi guru atau dosen. Tapi, hati ini lebih condong untuk bisa bekerja di dunia perbukuan.

Pekerjaan pertama yang saya dapat adalah sebagai in-house editor di sebuah penerbitan di Bandung. Bekerja di “dapurnya buku” menjadi sebuah pengalaman yang pastinya sangat berkesan. Namun, setelah enam bulan, saya memutuskan untuk berhenti bekerja di sana. Bagi sebagian orang saat itu, tampaknya ini adalah keputusan yang bodoh, sudah dapat pekerjaan kok dilepas gitu aja. Tapi, sebuah impian yang lebih besar terlalu sulit untuk diabaikan (tsah!)

Saya kemudian bekerja menjadi seorang penulis konten. Salah satu hal yang menyenangkan dari pekerjaan ini adalah saya tidak perlu ngantor karena pekerjaan dikirim via surel. Dikerjakan di mana saja dan dikirimkan sebelum tenggat waktu. Selain itu, saya juga nyambi jadi penyunting lepas, penerjemah lepas, dan memberi les bahasa Inggris. Sesekali saya memang merindukan bekerja di  kantor, suasana lembur dengan teman-teman kantor, hingga outing dengan teman-teman kantor. Ah, segala sesuatu tergantung pilihan kita.

Kalau ditanya apa karir impian saya?
Hmm, mungkin karir yang bisa memberikan ruang lebih lapang untuk saya bisa berkarya, dan kebutuhan finansial yang mencukupi. Hehe, terlalu muluk kah?

gambar dari sini

Saya pun mencoba untuk mengingat kembali keinginan pertama kali saya ketika baru lulus kuliah. Saat itu saya ingin punya usaha sendiri, becoming my own boss. Saya kembali teringat dengan salah satu pemiliki biro penerjemahan yang dulu pernah order artikel untuk  blognya. Biro penerjemahannya saat ini sudah sangat besar, bahkan dari tulisannya saya tahu bahwa dengan bekerja sebagai penerjemah, ia bisa membeli rumah tunai. Menggiurkan? Sangat! Hehe. Tapi, saya tahu di balik itu ada usaha yang sangat keras. Di awal-awal membangun usaha pasti ada jatuh bangunnya, ada berkali-kali kegagalan, pertanyaanya sekarang adalah apakah saya siap untuk itu? Heu, keraguan dan takut meninggalkan zona nyaman masih saja nempel di otak.

Saat ini memang saya sedang benar-benar berada di titik jenuh. Dan, ya rupanya tidak hanya saya saja berada di titik jenuh ini (buktinya ada teman yang juga curhat mengenai masalah yang sama hehe). Bekerja hanya semata-mata untuk mendapat uang, bagi saya, rasanya hambar dan tak bernyawa. Apalagi saya ini tipikal orang yang gampang bosan, hoho. Mudah sekali jenuh jika harus melakukan sesuatu yang sama secara terus menerus. Tapi ada satu hal yang tak pernah membuat saya bosan, yaitu belajar bahasa. Dan, pekerjaan yang berkaitan dengan bahasa adalah yang tak jauh-jauh dari dunia penulisan, penyuntingan, dan penerjemahan. Hmm, mungkin saya harus lebih serius lagi di bidang-bidang tersebut. Eh, saya juga suka segala sesuatu yang berbau visual (meskipun tidak bisa menggambar).

Terlalu pilih-pilih cari pekerjaan? Mungkin iya. Setiap pekerjaan pasti ada enak dan nggak enaknya. Tapi, tapi, tapi saya mau pekerjaan yang enak semua (lha?) hahaha! Dengan pekerjaan saya saat ini, orang tua sering  bingung jika ditanya “Anaknya sekarang kerja di mana?” Saya sendiri juga bingung kalau ditanya sekarang kerja di mana. Saya kerja di mana-mana, saya pun bisa kerja cukup dari kamar tidur. Jadi, kerja di mana?

gambar dari sini

Mungkin saat ini saya harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan (karir) impian. Saya memang tidak bisa menuntut semua orang untuk mendukung pilihan karir dan impian saya, tapi saya harus sadar bahwa saya  masih bisa berjuang untuk menunjukkan bahwa saya mampu menjadi orang yang berguna dengan jalur karir dan impian yang saya pilih. Hanya kadang pertanyaannya adalah siapkah untuk berhadapan dengan segala masalah dan tantangan yang ada nantinya…

Ha, postingan ini terlalu kental dengan unsur curhat rupanya😀

Jadi, apa (karir) impian kalian?

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

17 thoughts on “Mengejar (Karir) Impian”

  1. Kyaaaaa aku juga lagi jenuh mba dikantor.
    Ditanya mau kerja apa?
    Saya juga bingung jawabnya. Saya pengen yang enak dan senang senang ajah.
    Tapi apa yah??
    Mau jadi pengusaha tapi juga bingung mau dibidang apa?
    Yak saya lagi diperiode Job Galau’ers..

    God Help me… T_T

    1. hihihi, iya saya juga pengennya dapet kerjaan yg seneng semuanya dan ngga ada stresnya, tapi dasar saya orangnya gampang bosen kadang bingung juga kerjaan apa yang paling cocok *makin bingung hehe*

  2. Follow your heart..
    Belajar bahasa asing itu ga ngebosenin, kalo lg suntuk tinggal ngoceh pake bahasa asing langsung plong.
    Karir impianku pengen jadi part time korean translator dan part time pns haha

  3. aku pernah baca tweet seseorang: “saya belajar sejarah karena suka. kerja di majalah sejarah juga karena suka. jadi sekarang tiap hari mengerjakan hobi yang berujung dengan gajian di akhir bulan”
    senang kalau kerja sesuai dengan passion

  4. Aku juga lagi mencapai titik jenuh di kantor. Pengennya sih jadi psikolog anak yang bisa buka praktek, tapi belum kesampaian karena harus S2 dulu. Semoga ada jalan yah. Kamu juga semangat endah!🙂

  5. saya baru resign dari…

    hahahaha, saya kalo curhat ginian bisa ampe pagi dan menghabiskan berbakul bakul kopi

    mudah-mudahan, kita semua, terutama saya, kuat akan pilihan pilihan yang sudah kita buat..

    amiin

    1. hihihi. mungkin sebaiknya jgn resign cepet2 ya, kan tuh media yg gede, tapi ya mau gimana lagi kalau udah bikin keputusan, jadi emang harus bisa yakin buat bisa jalan lagi ke depannya

  6. hai mbak & salam kenal, izin langsung berceloteh di sini ya🙂 (dan maaf kalo sedikit ‘berbau’ curcol).
    saia pengen komen di postingan yg ini karena sedikit banyak mirip2 kisah saia hehe…

    dulu waktu masih kuliah, saia bahkan sempet yakin bahwa my dream job was to be a movie subtitler, and that i will have that job. saia suka nonton film, dan translating is one of the many things i love. tapi, setelah lulus kuliah, keinginan utk cari kerja itu ‘tertunda’ krn kuliah lagi. masa2 kuliah lagi sedikit banyak membawa perubahan pd my dream job. rasanya saia jd lebih realistis, tp masih agak idealis juga: saia pengen dapet kerja yg saia sukai. saia gak pengen kerja tiap weekdays, tp yg ditunggu cuma weekend & gajian aja hehe.. alhamdulillah, sekarang saia ‘kecantol’ di suatu in-house translating job, tapi berapa lama sy akan bertahan di sini, only God knows🙂 rasa2nya saia sedang mencoba menjawab pertanyaan, “siapkah untuk berhadapan dengan segala masalah dan tantangan yang ada nantinya…”

    wooo panjang ya hehe…🙂

    1. halo mbak, salam kenal kembali, terima kasih atas sharing pengalamannya🙂
      wah, penerjemah juga ya? saya sekarang lagi ada kerjaan nerjemahin juga nih yg lumayan menguras otak dan tenaga, mungkin bisa berbagai pengalaman juga nantinya.
      saya sendiri sedang belajar lagi semuanya untuk benar-benar memantapkan pilihan dan sukses dengan cara2 yang paling saya sukai, memang akan sulit tapi ya insyaAllah pasti bisa😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s