Yogyakarta 3H3M (1)

Sekitar dua minggu yang lalu, saya kembali mengunjungi Yogyakarta. Tadinya ingin pergi sendiri saja ke sana, tetapi akhirnya saya mengajak seseorang yang sudah lama ingin mengunjungi Yogya. Saya akhirnya bisa berlibur selama kurang lebih 3 hari 3 malam (3H3M) bersama ibu saya di sana, alhamdulillah.

Kali ini, saya akan berbagi informasi dan pengalaman tentang kendaraan yang saya gunakan dari/ke Malang ke/dari Yogyakarta dan selama di Yogyakarta.

Malioboro Ekspres (Molek)
Iya, saya sangat suka bepergian dengan kereta. Dan, salah satu kereta yang belum pernah saya naiki adalan si Molek ini. Kalau tidak salah kereta ini baru beroperasi tahun 2012 lalu, jadi masih tergolong sangat baru. Selama bulan September 2013, PT KAI menyediakan tiket promo kereta. Sayangnya, saya terlambat mengetahui informasi ini. Tiket kereta promo Malang-Yogyakarta yang hanya 30ribu rupiah itu sudah habis semua ketika saya mengecek di tanggal 7 September. Jadilah, saya membeli tiket kereta ekonomi AC seharga 90ribu rupiah.

Molek Kelas Ekonomi AC
Molek Kelas Ekonomi AC

Saya memesan tiket kereta melalui Tiket.com. Salah satu kemudahan yang diberikan ketika memesan kereta lewat situs itu adalah kita bisa memilih tempat duduk sendiri, tentu saja asalkan tempat tersebut masih kosong. Untuk pembayarannya, saya menggunakan transfer via ATM. Saya langsung membeli tiket pulang pergi. Harga 4 tiket (masing-masing 90ribu rupiah) ditambah harga administrasi menjadi 390ribu rupiah. Setelah pembayaran selesai dilakukan, saya mendapat email tentang kupon yang harus ditukarkan di stasiun untuk mendapatkan tiket.

Untuk pertama kalinya, saya merasakan naik kereta ekonomi AC. Hehe, sebelum-sebelumnya kan kereta kelas ekonomi tak dilengkapi AC. Kondisi kereta cukup bersih, toiletnya pun ya lumayan lah jauh lebih bersih daripada beberapa toilet gerbong kereta lain yang pernah saya naiki. Berbeda dari pengalaman naik kereta ekonomi sebelumnya, tak ada pedagang asongan atau pengamen yang “meramaikan” gerbong. Ah, entah kenapa jadi kangen dengan suasana keriuhan para pedagang asongan dan pengamen di dalam gerbong kereta seperti yang pernah saya rasakan beberapa kali.

TransJogja dan Becak
Kalau di Malang, kemana-mana bisa dengan mudah karena ada angkot yang selalu setia (tsah!). Selama di Yogya, saya memanfaatkan transportasi publik TransJogja dan pastinya becak Yogya. Tarif untuk menaiki TransJogja 3ribu rupiah saja. TransJogja ini lebih kecil daripada TransJakarta. Ukuran bus TransJogja hampir mirip seperti bus Puspa Indah (bus yang dulu selama SMP-SMA sering mengantarkan saya pergi ke sekolah tiap pagi).

Dari Malioboro ke Candi Prambanan, kami menaiki TransJogja 1A. Ini kali kedua saya ke Prambanan naik TransJogja, jadi sudah tidak terlalu asing lagi dengan jalan-jalan yang kami lewati. Untuk halte TransJogja, ya memang tak sebesar halte TransJakarta. Di jam-jam sibuk, halte sangat penuh dan berdesakan.

salah satu becak yang dilengkapi mesin
salah satu becak yang dilengkapi mesin

Saat ini, beberapa becak di Yogya sudah dilengkapi dengan mesin. Jadi, ketika si tukang becak capek, dia tinggal menyalakan mesin tersebut dan tak perlu mengayuh lagi. Tapi saya dan ibu saya memilih untuk naik becak yang tak bermesin. Nggak kerasa feel-nya kalau naik becak bermesin, nanti jadi mirip kayak naik ojek, hehe. Saya berusahan menawar tiap kali naik becak, tapi ibu sepertinya tak mendukung usaha saya menawar tarif, hehe, “Kasihan dan ya sesekali berbagi rejeki. Mudah-mudahan nanti rejeki kita dibanyakin lagi,” kata ibu saya.

Dari alun-alun utara ke alun-alun selatan dan balik ke penginapan di Sosrowijayan, kami membayar 35ribu rupiah ke bapak tukang becak. Dari Taman Sari ke Stasiun Tugu, kami mengeluarkan uang 30ribu untuk becak. Quite expensive though. Tapi karena saat itu tukang becak tersebut benar-benar mengayuh (bukan becak bermesin) dan sudah cukup tua, jadi ya sekali lagi hitung-hitung buat sedekah.

Ada pengalaman yang tak mengenakkan ketika naik becak. Ya, anggap saja saat itu saya pilih tukang becak. Saat itu saya maunya diantar membeli bakpia, ke Taman Sari terus langsung ke Stasiun Tugu. Si tukang becak bilang tarifnya15ribu rupiah, tapi ternyata dia bilang nggak mau nunggu di Taman Sari dan lanjut nganter ke Stasiun Tugu. Saya sempat akan membatalkan. Eh, terus si tukang becak pun setuju tapi dengan tarif 20ribu. Ok, deal!

Mampir dulu untuk membeli Bakpia, saya mintanya ke Bakpia 25 eh diantar ke toko yang lain. Saya yang “sudah disuruh turun” masih keukeuh nggak mau turun karena yang saya mau beli kan Bakpia 25. Si tukang becak sempat terlihat kesal sambil bilang kalau harga bakpia di toko itu lebih murah bla, bla, bla. Saya pun tetap menolak, akhirnya si tukang becak mengantar ke toko Bakpia 25. Ah, padahal saya kan ingin ke pabriknya langsung. “Itu jauh, mbak,” kata si tukang becak, ya sudahlah.

Kami pun diantar ke Taman Sari. Saya sebelumnya sudah pernah ke sini, tapi ibu belum pernah. Si tukang becak mengantarkan kami, dan langsung bilang, “Sudah mbak bayar 5ribu saja nggak apa-apa, saya ini tadi bolak-balik ditelpon buat segera balik.” What? Kesal pastinya karena saat itu kami membawa barang yang lumayan berat, dan tadi kan sudah setuju untuk menunggu. Telpon? Lha wong dari tadi si tukang becak ini anteng-anteng aja dan nggak menerima satu telepon pun selama perjalanan. Muka saya langsung berlipat-lipat kesal ketika turun dan menurunkan semua barang. Setelah ibu membayar 5ribu rupiah, saya langsung melengos tanpa mengucapkan terima kasih ke si tukang becak (hehe, jahat yack).

Hmm, mungkin strateginya harus diubah ketika naik becak. Seharusnya membeli bakpianya terakhir saja, karena si tukang becak akan mendapat komisi ketika kita membeli bakpia. Pantas saja si tukang becak tadi mau hanya dibayar 5ribu rupiah, karena saat itu kami sudah belanja bakpia dan oleh-oleh terlebih dahulu yang otomatis si tukang becak sudah dapat komisi duluan. Udah dapat komisi, eh ngacir ninggalin gitu aja. Ya, harus lebih jeli dan pintar-pintar memilih tukang becak di Yogyakarta.

Malioboro Ekspress Pagi dan Malam
Kereta si Molek ini berangkat dari Malang pukul 08.00 dan sampai di Stasiun Tugu pukul 15.20. Kalau dari Yogyakarta, kereta ini berangkat sekitar pukul 22.00 dari Stasiun Tugu dan sampai pukul 05.30 di Stasiun Kota Baru Malang. Kalau siang, naik kereta ini sangat nyaman karena tidak terlalu gerah. Kalau malam, cukup dingin juga.

Angkot di Yogya
Bagi saya yang kemana-mana sering pakai angkot, jadi tiba-tiba merindukan keberadaan angkot selama di Yogya, hehe. Setelah mengunjungi kota ini beberapa kali, saya belum pernah melihat keberadaan angkot. Di Yogya ada angkot nggak ya?

…bersambung🙂

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

14 thoughts on “Yogyakarta 3H3M (1)”

  1. kebetulan lagi, saya dalam waktu dekat pengen ke jogja,..
    dan baru hari ini, teman saya dari Jogja main ke Bandung, dan cerita kalo dia ga tega ama bapak-bapak tukang becak…

    welcome back teteh

  2. klo di kota jogja nya, kagak ada angkot kak, beda sama di malang, angkotnya ratusan #eeaa :)))

    jd kenapa kagak kontak2 klo ke jogja, kali aj bisa nemuin dan motoin, jd gak self timer, tarif murah kok #eh😀

    senang2 sama ibuk ni ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s