Jual Ginjal untuk Kuliah

“Kalau jadi kuliah di sana, kamu mungkin sekarang juga harus jual ginjal, dek,” itulah yang kurang lebih saya katakan semalam kepada adek saya usai melihat sebuah Headline News.

Melangitnya uang SPP tentu saja sangat mencekik, apalagi bagi mahasiswa-mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi. Aksi mahasiswa yang ramai-ramai menjual ginjal ini merupakan bentuk protes para mahasiswa dengan semakin tingginya uang kuliah. Di Malang, ada beberapa universitas negeri yang memang cukup terkenal (termasuk ehm kampus saya dulu, hehe). Tak heran kota Malang termasuk salah satu kota pelajar yang ada di Indonesia.

Banyak anak lulusan SMA sederajat yang langsung mengincar universitas negeri di Malang untuk melanjutkan kuliahnya, termasuk adek saya. Adek saya lulusan sebuah SMK Negeri di Malang, ia awalnya ingin sekali masuk ke Fak. Teknik, tepatnya mengambil jurusan Teknik Informatika. Namun, setelah mengikuti beberapa tes, dia gagal saudara-saudara, termasuk ketika ia ingin masuk ke Fak. Teknik di Universitas Brawijaya lewat jalur SBMPTN. Akhirnya dia banting setir dan memilih jurusan Manajemen. Dia mengikuti dua tes mandiri, di Univ. Brawijaya (UB) dan Univ. Negeri Malang (UM).

Hari pengumuman tiba. Adek saya diterima di jurusan Manajemen UM, selang beberapa hari  kemudian ternyata dia juga dinyatakan lolos masuk di jurusan Manajemen UB. Dengan beberapa pertimbangan, ia memutuskan masuk di UM. Salah satu pertimbangannya adalah, tak lain tak bukan, uang. Saat itu adek saya mencari informasi tentang biaya kuliah di UB, dan untuk jurusan Manajemen saja kalau tidak salah harus merogoh kocek minimal 30juta di awal pembayaran. Untuk jurusan teknik, bisa jauh lebih mahal lagi. Apalagi sekarang sistem UKT (Uang Kuliah Tunggal) dan di UB, setiap maba harus membayar 2 kali UKT di awal masuk. Bahkan kabarnya yang sudah mendapat beasiswa Bidik Misi pun tetap harus membayar 1juta rupiah per bulannya.

Saya pun kadang mecandai adek saya, “Iya, kalau kamu jadi masuk di UB, itu sepeda sama laptop harus dijual. Nanti waktu kuliah, nggak bawa apa-apa.”
“Kalau kamu dulunya jadi lolos di UB atau jadi milih ngambil Manajemen di UB, sekarang mungkin kamu harus jual ginjal juga, hehe.”

Adek saya sendiri harus sampai mengikuti tes dan seleksi (kalau tidak salah) sampai 7 kali untuk masuk perguruan tinggi  negeri. Awalnya dia “ngotot” pengen masuk jurusan TI, tapi karena dasar kemampuan IPAnya kurang (karena untuk masuk jurusan TI, materi yang diujikan memang Sains), dia agak kelimpungan juga. Apalagi, karena dia sekolah di kejuruan, yang katanya “masih di-anak-tirikan” ketika bersaing untuk masuk kuliah. Sempat kepikiran untuk masuk ke perguruan swasta, tapi lagi-lagi mikir tentang biaya, takutnya ntar ada banyak ‘biaya tak terduga’ jika kuliah di kampus swasta.

gambar dari sini

Saat ini memang adek saya tak perlu harus menjual ginjal untuk kuliah. Jadi dek harus rajin-rajin nanti kuliahnya, kalau perlu lulus lebih awal, jangan lama-lama, kan lumayan nanti nggak perlu keluar uang SPP banyak-banyak lagi, hoho. “Kalian kuliah jangan lama-lama, kalau bisa cukup 3,5 tahun atau malah 3 tahun saja,” kata adek saya mengulang ucapan dari dekan (atau wakil dekan) ketika ia mengikuti PKPT (Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi) di UM kemarin.

Uang kuliah makin mahal, sampai aksi demo pun ramai-ramai menjual ginjal. Sekarang biaya kuliah adek saya bisa dibilang sepuluh kali lipat lebih mahal dari jaman saya kuliah dulu. Dengan adanya sistem UKT, satu mahasiswa dengan mahasiswa lain bisa mendapat UKT yang berbeda, dan adek saya mendapat UKT di golongan/kategori yang termahal, hehe. Karena memang saat daftar ulang, maba diharuskan mengunggah slip gaji ortu, Kartu Keluarga, hingga keterangan tempat tinggal. Mungkin karena pertimbangan bapak saya termasuk pegawai negeri dan tanggungan untuk membiayai pendidikan hanya tinggal adek saya saja, jadilah dia mendapat UKT yang paling mahal.

“Nanti waktu kuliah, cari beasiswa. Deketin dosen biar bisa dapet rekomendasi kalau butuh rekomendasi untuk dapat beasiswa. Gabung di kegiatan kampus, tapi harus aktif, nggak usah banyak kegiatan nggak apa-apa. Rajin dan aktif bikin PKM, nanti kalau PKM-nya lolos bisa dapat dana buat ngelaksanain proposalnya,” saya kembali sok bijak ngasih petuah ke adek saya, hihi.

Tiba-tiba ada rasa sesal, kenapa dulu waktu kuliah saya malas-malasan, padahal saat itu bisa dibilang saya tidak membayar uang SPP sama sekali karena dapat rejeki dari Allah lewat sebuah beasiswa. Melihat sekarang uang kuliah makin mahal, saya jadi merasa dulu sangat zalim tidak memanfaatkan uang beasiswa dengan baik.

Semoga ginjal tak harus ditukarkan dengan selembar ijazah, semoga sistem pendidikan di Indonesia tak harus “membunuh” generasi penerusnya. Semoga…

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

8 thoughts on “Jual Ginjal untuk Kuliah”

  1. miris banget deh liat kampusku ini yang sekarang jadi mendewakan uang di atas segalanya. Bahkan mahasiswa yang ditampung tahun ini pun melebihi kapasitas gedung, apalagi kalo bukan karena uang.

    Biaya kuliah disana sekarang berpuluh-puluh kali lipat dari jamanku dulu…

  2. adek saya jg ga jd kuliah di kampusku dulu gara” UKTnya mahal banget, padahal udah keterima jalur undangan..😦 udah bwt surat ngga mampu juga cuma diturunin 500rb, masih ttep mahal..😦 kampusku matre banget sih sekarang, sungguh mengecewakan!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s