Serba Serbi Tarawih

Huwaaa… Puasa kali ini sudah masuk di sepuluh hari terakhir ya? Rasanya kok waktu udah wuzzz aja ya (alias cepet banget), kayaknya baru kemarin masih males-malesan bangun sahur karena masih hari-hari pertama puasa (emang sekarang udah nggak males lagi gitu? *tanya pada diri sendiri), eh sekarang udah mau habis aja nih  bulan Ramadhan-nya. Semoga bisa lebih baik lagi  ibadahnya dan bisa makin baik lagi setelah bulan Ramadhan berakhir, aamiin.

Selama bulan puasa, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya ikut shalat tarawih di sebuah masjid di  kampung sebelah. Alhamdulillah bulan ini saya selalu bisa berangkat bareng ibu (tahun sebelumnya saya masih sering berangkat sendiri karena ibu harus masuk kerja shift malam). Ada beragam serba-serbi tarawih yang saya alami, khususnya pada beberapa hari terakhir.

“Booked” Shaf
Jadi ya di masjid tempat saya biasa shalat tarawih ini, ada beberapa shaf yang penghuninya tidak berubah. Di barisan paling depan pojok kiri ada seorang ibu rujak (karena dulunya terkenal sebagai penjual rujak) yang selalu sudah stand by di sana sebelum adzan Isya’. Beliau sih tampaknya ikut shalat maghrib juga di sana, jadi ya shafnya sudah ia tempati duluan sebelum orang lain. Kalau ibu saya, shaf favoritnya di barisan kedua paling kiri, entah kenapa ibu suka di tempat itu, meski sudah ditawari untuk maju di shaf depan, ibu tetap keukeuh di spot favoritnya itu. Saya sendiri termasuk selalu berada di shaf yang sama setiap shalat tarawih, hehe, lha gimana, setiap kali saya datang, spot itu (yang ada di shaf pertama) selalu kosong, jadi ya saya isi.

Selalu Pulang Setiap Bulan Puasa
Namanya Bu Syamsul. Beliau tinggal tak jauh dari masjid. Dulu bersama almarhum suaminya, ia membuka toko di pinggir jalan. Sejak suaminya meninggal, ia tinggal di (kalau tidak salah) Bogor bersama koleganya. Namun, setiap bulan puasa ia pulang ke sini. Kata ibu sih karena Pak Syamsul memberi amanah pada Bu Syamsul untuk selalu memberikan makan buka untuk orang-orang di masjid ini. Jadi, Bu Syamsul selalu pulang ketika bulan puasa dan memenuhi amanah dari sang suami: memberi makan buka untuk orang-orang masjid selama bulan puasa.

Ini Rakaat Ke-Berapa?
20 rakaat shalat tarawih dan 3 rakaat shalat witir. Beberapa saat lalu, sang imam sempat lupa, sudah sampai ke rakaat berapakah shalat tarawihnya. Di rakaat ke-20 shalat tarawih setelah salam, sempat ada jeda, hening beberapa detik. Kemudian terdengar sang imam tanya ke makmum yang di belakangnya, “Wis mari ta (sudah selesai?),” yang kalau dijabarkan, “Ini tuh sudah rakaat tarawih yang terakhir ya?” dan suara imam itu… terdengar melalui mikrofon.

Ngiiiing…
Paling nggak nyaman deh pas lagi shalat berjamaah, ada masalah di sound.  Sempat waktu shalat, mikrofonnya trouble dan terdengar bunyi “Ngiiiiing…” sampai bacaan imamnya nggak jelas terdengar, hadeuh. Trus ada lagi anak kecil yang suka lari-lari saat shalat. Anak kecil itu tampaknya mendekati mikrofon sang imam, dan “berhalo-halo”lah ia melalui mikrofon itu, bagus sekali perilakumu, nak.

gambar dari sini

Itu Motor Bapak?
Kalau ke masjid, saya dan ibu berangkat dengan jalan kaki. Adek ke masjid lain bersama teman-temannya, sedangkan bapak ke masjid yang sama dengan saya dan ibu tapi selalu datang terakhir dan bertugas mengunci rumah. Biasanya bapak akan naik sepeda motor ke masjid. Jadi kemarin waktu pulang dari masjid, saya dan ibu sempat saling tanya, “Itu motor bapak bukan?” tanya ibu ketika melihat ada satu sepeda motor ‘mojok sendirian’. “Kayaknya bukan,” jawab saya. Saya tidak bisa melihat jelas plat nomornya karena gelap, jadi saya tak bisa memastikan itu motor bapak apa bukan. Nah, waktu di tengah jalan, bapak terlihat balik arah ke masjid dengan tergesa-gesa.

Lhaaa… Ternyata tadi memang benar motor bapak. Bapak lupa kalau beliau bawa motor ke masjid. Berangkatnya naik motor, pulang jalan kaki, haiyah. Rupanya tadi bapak diajak mengobrol oleh seorang kenalannya di sepanjang jalan, saking asyiknya ngobrol jadi lupa deh kalau ada motor yang ditinggal. Saya dan ibu jadi tertawa terbahak-bahak sampai rumah.

Bapak pernah juga sehabis shalat tarawih langsung ke tempat parkiran motor. Bapak memasukkan kunci kontak motor di salah satu sepeda motor, eh, tapi kok nggak bisa. Lalu datanglah orang lain, “Pak, itu motor saya.” Lha? Haha, rupanya bapak salah pilih motor. Habisnya emang mirip sih motornya, apalagi kalau gelap-gelapan gitu.

Itu Ulet Udah Mati apa Belum Ya?
Suatu hari sehabis shalat tarawih, ibu cerita kalau ada ulet bulu kecil yang nempel di dekat sajadahnya. Waktu lagi shalat, ibu malah penasaran, dalam hati berkata “Itu ulet udah mati apa belum ya? Nanti kalau nempel di sajadah, gatel nggak?” Hehe, konsen nggak tuh shalatnya. Si ulet nempel di kain pembatas jamaah, pas kainnya goyang-goyang, si ulet jatuh, ibu ngomong lagi dalam hati pas shalat, “Eh, itu uletnya jatuh, tapi kok nggak gerak, apa emang udah mati beneran?” Zzzz…

Dikira Komandan
Kali ini tentang adek saya. Dia selalu shalat tarawih bersama teman-temannya di masjid dalam komplek asrama tentara. Usai shalat tarawih, dia sering disapa hormat oleh tentara yang berpapasan setiap kali pulang shalat di sana, “Malam!”. Adek saya pun iya-iya aja disapa seperti itu. Temannya yang bernama Dimas malah pernah disapa oleh tentara lain yang berpapasan dengannya, “Malam, Ndan (dari kata Komandan .red)!” Si Dimas bengong dan balik tanya ke adek saya, “Emang wajahku udah tua ya kok dipanggil komandan?” Hehe, ya maklum karena malam (gelap), jadi nggak tahu deh mana yang tentara mana yang bukan. Berhubung adek saya ini postur badannya cukup tinggi, jadi banyak  yang mengira adek saya ini tentara.

So, punya pengalaman unik selama tarawih?😀

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

4 thoughts on “Serba Serbi Tarawih”

  1. Haha. Bapaknya lupa sama motornya sendiri😀
    Kalau aku tahun dulu pernah tuh imamnya shalat isya sampai 6 rakaat. Makmum bingung semua. Bahkan ada yang akhirnya salam duluan

    1. hihihi iya mbak, malah bapak pernah ke rumah tetangga berangkat naik motor, eh pas pulang jalan kaki, “Lho pak motornya mana?” “Oh iya, lupa ditinggal.”😀
      Wah, sampe 6 rakaat, hehe nambah jatah rakaatnya.

  2. aku cuma minggu pertama aja sholat tarawih di mesjidnya😀 dan waktu sholat yang paling ganggu itu kalo ada anak2 kecil pada berisik. waktu itu tepat di belakang shafku, ada 4 anak kicik2, kutaksir usianya 6-7 tahun gitu kayanya. trus mereka nyanyi2 kuenceeeeng sekali dg lirik yang rada ajaib : “satu, sepatu. dua, kecewa. tiga, mentega. empat, jangan lompat”. trus teriak2 kalo ada temennya yang lompat zzzz -__-

    agak gengges tapi lagunya keinget2 mulu sama aku😆

    1. anak kecil kalau nggak dikontrol emang bener2 deh pengen dijitakin satu2 hehe. beberapa saat lalu ada juga anak kecil yang dg riang gembiranya lari di depan shaf (nginjekin sajadah) dari ujung ke ujung ketika orang2 pada shalat berdiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s