Sendiri di Kondangan

Sebuah undangan kembali datang. Kali ini undangan pernikahan dari seorang kawan SMA. Dulu kami sekelas di kelas XII IPA 3, dibilang dekat ya nggak terlalu dekat, jauh ya nggak terlalu jauh, hehe. Dulu di kelas dia duduk pas di depan saya, jadi kami kadang suka mengobrol bareng atau kerja kelompok bareng.

Awalnya saya tidak berencana untuk datang. Tapi, setelah mengingat saya sudah beberapa kali tidak memenuhi undangan pernikahan kawan-kawan SMA, akhirnya saya putuskan untuk datang saja. Teman-teman XII IPA 3 berencana untuk berangkat bersama. “Nanti kalau kalian sudah berangkat, kabari ya, biar nanti kita ketemu di sana (gedung acara pernikahan),” sebuah message via What’s App saya kirim untuk salah seorang kawan, Ayu namanya. “Ok,” jawabnya.

Baru pertama kali saya datang ke acara pernikahan seorang diri. Memang sih sudah janjian dengan kawan-kawan lain, tapi yah agak nggak nyaman juga masuk ke dalam gedung seorang diri dan… celingak-celinguk mencari wajah-wajah yang sekiranya saya kenal. Setelah mengisi buku tamu, saya masuk ke dalam gedung. Zing! Saya merasa asing. Saya mencari kawan-kawan saya, nihil! Akhirnya, saya pun ikut masuk dalam antrian untuk bersalaman dengan mempelai.

Ketika bersalaman dengan kawan saya, bukannya mengucapkan selamat atas pernikahannya, saya malah  bertanya, “Anak-anak (teman-teman XII IPA 3) sudah ada yang datang?” tanya saya. “Kayaknya belum,” jawabnya. “Tadi aku di-sms Ayu, katanya udah pada dateng.” “Hmm… kayaknya belum pada dateng deh.” Hehe, saat itu barulah saya sadar bahwa di belakang saya masih banyak yang antri. “Eh… oh, selamat ya, hehe,” kata saya sekaligus berpamitan padanya, dia pun tersenyum.

Lalu, saya pun ikut antri mengambil makanan. Cuek saja lah. Setelah mengisi penuh piring (iya, saya mengisi piring dengan semua lauk yang ada, hehe), saya kembali celingak-celinguk mencari kursi kosong. Ah, itu ada satu kursi yang kosong. Ketika saya berjalan, barulah saya disapa Ayu. Ternyata ada beberapa kawan XII IPA 3 juga di sana. Mereka rupanya sudah selesai makan. Setelah menyapa Ayu sebentar, saya menghabiskan makan dalam diam, tidak banyak mengobrol karena letak mereka cukup jauh. So lonely, haha.

“Duluan ya!” “Ayo, Ndah, kita duluan ya.” “Duluan ya…” Heu… mereka pun kemudian malah pamitan. Tinggal lah saya seorang diri, mengapa oh mengapa? Makanan di piring tinggal sedikit, langsung saja saya habiskan. Ambil minum sebentar, dan langsung ngacir ke luar gedung.

souvenir pernikahan yg saya bawa pulang, seorang diri...
souvenir pernikahan yg saya bawa pulang, seorang diri…

Sebenarnya saya sudah diajak seorang teman untuk datang ke acara kondangan bersama. Tapi saya tidak langsung menerimanya karena dia akan berangkat dengan suaminya, hehe. Jadi ya sudah, datang sendirian saja. Hahaha, kok kesannya jadi melas gini yack!

Sudah beberapa sahabat, kawan SMA, kawan kuliah yang menikah. Tiap kali ada sms atau posting di grup Facebook, biasanya tentang undangan pernikahan. Seorang kawan lama yang tak pernah menyapa, tiba-tiba mengirim sms dan mengundang ke acara pernikahan. So, when will be my turn? *lalala*

Happy Wedding, my dearest friends!

 

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

18 thoughts on “Sendiri di Kondangan”

  1. aku juga pernah dateng ke kondangan sendirian…. hohohohohohoho *kita senasib… berpelukann!!*😀
    tp gak pake makan dan duduk2, dateng langsung ke pengantinnya, bersalaman ke mempelai, mengucapkan selamat terus langsung ngacir pulang. huehuehuehue~

  2. Semoga saat indah itu akan segera menyapa ya🙂

    kebayang dulu saat masih sendiri suka kondangan bareng ibu ibu tetangga, hihihi aku yg msh single dan muda sendiri, tapi nggak nikahan teman sih jd beda ya suasananya

  3. Waktu masih single, aku sering banget ke kondangan sendiri. Malah lebih doyan datang sendirian ketimbang sama teman. Lebih bebas kapan mau datang, ga mesti janjian2. Hahaha… Jadi kadang pas teman curhat dia malas ke kondangan sendiri, aku malah bingung sendiri. Karena buatku ga masalah🙂
    Pas udah nikah malah jarang dapat undangan ke kondangan. Setahun nikah bisa diitung dengan jari satu tangan deh kami ke kondangan kawina.

    Moga segera dipertemukan ya dengan jodohnya. Dia ga datang kecepatan atau telat. Tapi tepat waktu🙂

    1. iya mbak, sepertinya juga karena ini pengalaman pertama datang ke kondangan sendirian jadinya agak kikuk hehe.
      aamiin… “ia” akan datang tepat pada waktunya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s