Kunang-Kunang dalam Gelas

Beberapa hari yang lalu sekitar pukul 8 malam, hampir satu komplek rumah mati lampu (bahkan kabarnya hampir seluruh kota mati lampu). Semua tetangga keluar rumah, saya juga dong ya. Waktu lagi main-main sama salah satu anak tetangga, Izza namanya, saya melihat ada dua (entah tiga atau berapa) kunang-kunang yang sedang terbang. Ada satu kunang-kunang yang tidak terbang, ia hanya diam berkedip-kedip di pinggir lapangan.

image credit here

“Eh, itu ada kunang-kunang,” kata saya pada Izza.
“Tunggu sini, tak ambilin,” saya pun langsung mendekati kunang-kunang itu dan mengambilnya. Izza tampak senang sekali melihat makhluk kecil bercahaya yang ada dalam genggaman saya. Saya pun berlari ke dapur untuk mengambil gelas kaca bening dan tutup gelas. Hehe, dasar saya iseng, saya pun memasukkan kunang-kunang itu ke dalam gelas kaca bening dan menutupnya.

Izza langsung membawa gelas kaca berisi kunang-kunang itu dan memamerkannya pada ibunya. Ia bawa kesana-kemari, terlihat gembira.
“Kalau kunang-kunang stres, cahayanya nggak akan nyala lagi,” kata adek saya. Eh? Emang bener gitu ya?
Dulu waktu SD, saya pernah mendengar kawan saya bercerita bahwa kunang-kunang itu terbuat dari kuku orang mati. Percayakah saya waktu itu? Hehe, kayaknya sih iya.

ada seekor kunang-kunang di dalam gelas itu, hehe nggak keliatan yack
ada seekor kunang-kunang di dalam gelas itu, hehe nggak keliatan yack

Melihat kunang-kunang itu terkungkung di dalam gelas rasanya kok ya kasihan. Akhirnya setelah merayu Izza untuk memberikan gelas itu pada saya, saya pun langsung melepasnya (tentu saja Izza tidak tahu kalau kunang-kuang itu saya lepas, kalau tahu, mungkin dia akan nangis uring-uringan, hehe).

Kunang-kunang dengan cahayanya yang kecil saja bisa membuat orang lain bahagia. Ketika saya kuliah, saya pernah mengikuti training nasional kepemimpinan. Semua yang sudah menyelesaikan training itu telah dianggap menjadi bagian dari Keluarga Kunang-Kunang. Kalau saya tak salah ingat, filosofi dari keluarga kunang-kunang itu begini. Kunang-kunang jika hanya sendiri, ia mungkin tak bisa memberi pencerahan ke banyak orang. Namun, jika ia bersama-sama, cahaya yang dihasilkan akan lebih besar dan pastinya bisa memberikan pencerahan kepada lebih banyak orang.

Selama beberapa tahun terakhir, saya seperti kunang-kunang yang ada di dalam gelas tertutup. Tidak kemana-mana, berkedip-kedip sendirian. Kalau nanti makin stres, jangan-jangan cahaya ini benar-benar akan mati. A firefly in me must fly, now!

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

2 thoughts on “Kunang-Kunang dalam Gelas”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s