“Rantau 1 Muara” untuk Para Pencari

Setelah “Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)” dan “Man Shabara Zhafira (siapa yang bersabar akan beruntung)”, novel terakhir dari Trilogi Negeri 5 Menara ini mengusung pesan “Man Saara Ala Darbi Washala (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan)”. Berbeda dengan kedua novel A. Fuadi sebelumnya, Rantau 1 Muara (R1M) ini menceritakan perjalanan Alif yang sudah dewasa, tentang pencarian makna hidup yang lebih dalam, tentang pencarian jati diri yang sesungguhnya.

Rantau 1 Muara. Penulis: A. Fuadi

Saya merasa novel ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang sedang mencari. Khususnya mencari tujuan dari hidup yang sesungguhnya. Hayo, para galauers, novel ini bisa menjadi salah satu obat kegalauan kalian, hehe. Satu garis merah yang bisa ditarik dari ketiga novel A. Fuadi ini adalah tentang usaha keras untuk mewujudkan sebuah impian, jika satu impian sudah terwujud maka berusaha lagi untuk meraih impian yang lebih besar. Well, pastinya ada banyak suka duka untuk bisa mendapatkan impian itu.

Setelah pulang dari Kanada, Alif berkesempatan belajar satu semester di Singapura dengan beasiswa sebagai visiting student. Saat itu tampaknya masa depan Alif sudah akan terang benderang. Sayangnya, ketika Alif lulus, Indonesia sedang bergejolak, Krisis Moneter. Beberapa kali ia melayangkan surat lamaran pekerjaan, tetapi kabar baik tak datang dengan mudahnya.

Randai yang sudah menjadi rival Alif sejak kecil pun semakin sering memanas-manasi Alif. Setelah Randai “memenangkan” hati Raisa, Alif jadi semakin menggebu-gebu untuk bisa mengungguli Randai. Randai menantang Alif untuk kuliah di luar negeri. Alif pun dengan mantap menyatakan bahwa ia yang akan kuliah ke luar negeri duluan, yaitu ke Amerika.

Mungkin malah Randai yang memaknai salah satu “mantra” yang diajarkan di Pondok Madani: Man saara ala darbi washal, siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai di tujuan. Jalan apa yang aku tempuh? Jalur mana yang aku ambil? Sambil ke mana tujuan yang ingin aku capai? Entahlah, semuanya terasa kabur. (hal. 29)

Setelah melayangkan banyak surat lamaran pekerjaan, akhirnya Alif diterima untuk menjadi reporter. Ia banyak belajar tentang dunia jurnalisme dan terus mengasah keahlian menulisnya. Ketika menjadi reporter itulah, ia bertemu dengan Dinara. Jatuh cinta pada pandangan pertama, itulah yang dirasakan Alif. Alif pun mulai berusaha untuk bisa mengenal Dinara lebih jauh. Hingga akhirnya Alif berhasil lolos beasiswa untuk mendapatkan gelar master di George Washington University, Amerika.

Ketika di Amerika itulah, banyak pengalaman  baru dan menakjubkan yang didapatkan Alif. Bertemu dengan Mas Garuda, lelahnya kuliah sambil kerja, peristiwa 9/11, kehilangan seseorang yang sangat dekat dengannya, pengalaman mewawancarai orang-orang hebat, dan tak lupa pengalamannya mengarungi hidup bersama seseorang yang sangat dicintainya.

Seperti biasa, jika membaca sebuah novel, saya suka menandai beberapa kalimat “ajaib” yang ada di dalamnya. Inilah beberapa kalimat “ajaib” yang saya temukan di R1M… (maaf, kalau agak random, hehe).

Menulislah!

Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah. (hal. 9)

Apa Artinya Hidup ?

Hidup itu seni menjadi. Menjadi hamba Tuhan, sekaligus menjadi penguasa alam. Kita awal mulanya makhluk rohani yang kemudian diberi jasad fisik oleh Tuhan dengan tugas menghamba kepada Dia dan menjadi khalifah untuk kebaikan alam semesta. Kalau kedua peran ini bisa kita jalankan, aku yakin manusia dalam puncak bahagia. Berbakti dan bermanfaat. Hamba tapi khalifah. (hal. 139)

Tentang Konsistensi

Berusahalah untuk mecapai sesuatu yang luar biasa dalam hidup kalian serta tiga sampai lima tahun. Konsistenlah selama itu, maka insya Allah akan ada terobosan prestasi yang tercapai.” (hal. 29)

Aku tahu jika aku terus berjuang dalam sunyi, aku menuju sebuah tempat yang tidak semua orang akan sampai. Ke tempat orang-orang terpilih saja. Ornag-orang yang kerap dianggap aneh oleh orang kebanyakan. Tuhan ini Mah Melihat siapa yang paling bekerja keras. Dan Dia adalah sebaik-baiknya penilai. Tidak akan pernah Dia menyia-nyiakan usaha manusia. (hal. 154)

Perjuangan tidak boleh berakhir, bahkan ketika semua tampaknya akan gagal. Sebelum titik darah penghabisan dan peluit panjang, tidak ada kata menyerah. Terus berjalan, terus maju, sampai ujung tujuan. Man saara ala darbi washala. Sebuah konsistensi mengalahkan ketidakmungkinan. (hal. 185)

Tentang Ehm… Jodoh

Mungkin teman-teman banyak yang sudah berusaha di sini, tapi belum juga mendapatkan jodoh. Saya punya lima tips yang akan kita diskusikan hari ini. Yaitu: evaluasi dan memperbaiki diri, berusaha dan doa, memperluas pergaulan, meminta bantuan orang lain, dan menyatakan perasaan secara langsung… (hal. 227)

Kematian, Kehilangan, dan Kelahiran

Kehilangan memang memilukan. Tapi  kehilangan hanya ada ketika kita sudah merasa memiliki. Tapi kehilangan hanya ada ketika kita sudah merasa memiliki. Bagaimana kalau kita tidak pernah merasa memiliki? Dan sebaiknya kita jangan terlalu merasa memiliki. Sebaliknya, kita malah yang harus merasa dimiliki. Oleh Sang Maha Pemilik. (hal. 357)

Jangan terlalu sedih dengan kematian. Jangan terlalu bahagia dengan kelahiran. Keduanya pintu wajib buat manusia. Manusia datang dan pergi. Melalui pintu lahir dan pintu ajal. Saat ajal tiba, sesungguhnya kita pulang ke asal… (hal. 358)

Setelah membaca novel ini, saya semakin ingin merantau, hehe. Menjadi perantau untuk menjadi pencari, pencari makna tentang kehidupan. Agar hidup tak sia-sia, agar nanti jika sudah waktu menutup mata, tak ada lagi kekecewaan karena sudah pernah melihat bumi-Nya. Merantau untuk menemukan lebih banyak pengalaman, keluarga baru, pelajaran baru, dan pastinya bisa berbagi lebih banyak dengan orang-orang baru. Semoga, kesempatan merantau itu akan datang sebentar lagi, aamiin.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

31 thoughts on ““Rantau 1 Muara” untuk Para Pencari”

  1. Aku bukan anak raja dan bukan pula anak ulama, jadi ngeblog aja.. hehehe
    kebetulan belum baca nih karya fuadi yang satu ini, bisa dimasukan dalam daftar buku akhir pekan nih…

      1. asmie juga bukan siapa2, tapi sangat menyenangkan nge blog, jadi yuuuk nge blog saja..
        eehh mbak endah, pinjam dunk koleksi bukunya he he he😀 *dilemparklepon*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s