Salahmu, Sulung

Siapa suruh jadi anak sulung?

Semalam, Loni dan ibunya datang ke rumah. Si ibu menangis dan panik. Rupanya pelipis Loni terantuk sudut meja. Jadi, ada luka seperti lubang kecil di pelipis kanannya. Bapak pun langsung mengobati lukanya. Bapak bilang tidak perlu dijahit, tapi kalau mau dijahit juga terserah. Berhubung bapak tidak punya benang untuk jahit luka yang ada di wajah, jadinya bapak nggak bisa ngejahit. Akhirnya, Ibu  Loni pun membawa Loni ke rumah sakit terdekat. Well, di rumah sakit pun, lukanya juga nggak dijahit, karena memang nggak terlalu dalam.

Ya, namanya ibu, pasti panik kalau anaknya terluka. Meski hanya luka kecil, tapi kalau luka itu ada di kepala juga bikin panik. Jadi, apa hubungannya dengan si sulung?

Loni ini punya kakak bernama Fahan. Fahan ini juga salah satu anak yang les di rumah saya. Jadi, menurut cerita ibu mereka, Loni dan Fahan bermain-main, ya biasalah anak kecil. Loni dan Fahan kejar-kejaran di ruang tamu, dan Loni terjatuh hingga pelipisnya terantuk sudut meja di ruang  tamu. Si ibu pun langsung marah kepada Fahan. Menurut si ibu gara-gara Fahan yang mengajak adiknya main-main, jadilah si adik terluka.

“Aku lho mbak, nggak ngapa-ngapain. Adek jatuh sendiri. Tapi, pasti aku juga yang dimarahi,” curhat Fahan ketika les di rumah.
“Lha gimana ceritanya?”
“Ya, dia kan lari-lari. Aku ya ikut lari-lari. Habis itu dia tersandung dan jatuh sendiri,” katanya.
“Tapi, gitu ya aku yang dimarahi. Padahal aku nggak salah apa-apa,” katanya lagi.
“Ya iyalah, karena kamu kan mas-nya,” kata saya. Hehe, entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulut saya.

gambar dari sini

Nasib menjadi si sulung. Kadang-kadang kalau si adek nangis, orang tua biasanya “minta pertanggung jawaban” ke si kakak. Eh, tapi nggak selalu gitu juga sih, contohnya saya. Saya juga anak sulung, hmm… tapi seumur-umur saya tidak pernah merasa ibu dan bapak pilih kasih.

“Dulu aku pernah dikaplok dan dilempar setrika juga, mbak,” si Fahan cerita lagi. Rupanya kalau sang ayah marah, Fahan sering juga dipukul bahkan sampai pernah dilempar setrika.
“Tapi kepalaku nggak apa-apa sih, malah gagang setrikanya yang patah,” lanjutnya.
“Huwooo, berarti kepalamu kuat, jangan-jangan kepalamu terbuat dari besi ya,” canda saya. Dia pun hanya tertawa-tawa.

Anak sulung biasanya “dituntut untuk lebih bertanggung jawab” oleh orang tua. Setidaknya orang tua ingin memastikan bahwa sang kakak bisa diandalkan untuk menjaga si adek. Cuma kadang ada juga orang tua yang masih suka pilih kasih dan menyalahkan sang kakak tanpa tanya dulu apa yang sebenarnya terjadi. Ya, pokoknya salahmu, sulung.

Saya sebagai anak sulung, hmm… sepertinya saya tidak pernah merasa orang tua saya pilih kasih. Atau mungkin karena saya selalu bisa menjaga adek dengan baik, jadi saya tidak pernah kena marah? Hehe, ini mah saya aja yang ge-er.

“Tadi kenapa kamu nangis?” tanya saya pada Fahan. Sewaktu bapak saya mengobati luka Loni adiknya, saya sempat melihat Fahan ikut menangis.
“Kasihan ngeliat adek,” jawabnya. Seorang sulung (yang baik) pasti  juga akan merasa terluka jika adeknya terluka.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

6 thoughts on “Salahmu, Sulung”

    1. ehsama.. hidup anak sulung..
      ehtapi daku ga pernah tuh berasa tanggungjawab sebagai anak sulung waktu kecil.. setelah gede iya.. kakatua dah..

      kasian fahan, dilemperin setrika boh.. sadis amat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s