Tukar Kesehatan, Mau?

Sabtu siang, “Brak…brak…brak!!!” Ada seseorang yang menggebrak-gebrak pintu rumah (iya menggebrak, bukan mengetuk). Saya yang saat itu sedang cantik-cantiknya tidur siang langsung bangun.

“Budhe…budhe! Pakdhe ada?” Rupanya yang datang adalah Dimas, anak tetangga di komplek rumah saya. Oh iya, budhe adalah panggilan untuk ibu saya di komplek rumah ini dan pakdhe adalah panggilan untuk bapak saya. Hmm, karena kami sudah tinggal di sini lebih dari 20 tahun, jadinya orang tua saya termasuk yang ‘dituakan’, ya begitulah.

“Ada apa?” ibu yang saat itu membuka pintu langsung disuguhi wajah panik Dimas. “Mama, mama, budhe, mama…,” rupanya Mama Dimas sedang ada masalah. Ibu pun langsung ikut Dimas ke rumahnya. Bapak yang saat itu juga sedang tidur langsung bangun dan mengambil beberapa peralatan kesehatan. Bapak pun  menyusul ke rumah Dimas. Saya pun bertanya ke adik saya, “Ada apa?” “Nggak tahu, Dimas tadi keliatan panik banget, baru kali ini aku ngeliat Dimas sepanik itu,” jawab adik saya yang memang teman Dimas dari kecil.

Tampak beberapa tetangga ikut berlarian ke rumah Dimas. Mama Dimas pun langsung dibawa ke rumah sakit. Kata Ibu, Dimas menangis meraung-raung melihat kondisi Mamanya. Setelah dibawa ke rumah sakit, barulah saya tahu bahwa kondisi Mama Dimas tiba-tiba ngedrop dan hampir tidak sadarkan diri dan dari mulutnya keluar busa. Dari kabar yang saya dengar, Mama Dimas terkena penyakit yang berhubungan dengan syaraf, sepertinya karena sudah kecapekan juga banyak pikiran yang menekannya.

Kesehatan adalah salah satu harta yang tak bisa dinilai dengan uang. Kadang kita harus sakit dulu untuk sadar betapa selama ini kita sering lupa bersyukur atas kesehatan yang kita punya. Atau, kadang kita harus melihat orang terdekat kita jatuh sakit terlebih dahulu agar kita kembali tersadarkan bahwa betapa nikmatnya bisa bernapas dengan lega dan gratis. Melihat orang terdekat kita sakit, seperti ibu, bisa membuat kita rela untuk menukar kesehatan kita dengan beliau.

Saya bersyukur memiliki kedua orang tua yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. Keduanya memang bukan dokter, tapi keduanya adalah orang-orang terhebat dalam hidup saya. Ketika saya baru saja selesai operasi apendix, yang merawat dan melepas jahitan luka saya adalah ibu dan bapak sendiri. Jika ada tetangga yang sakit (yang sekiranya tidak terlalu berat), mereka akan datang ke rumah dan mencari bapak. Bahkan ada tetangga yang sedang hamil datang ke rumah untuk menemui ibu dan konsultasi tentang obat.

Melihat Dimas yang panik datang ke rumah kembali mengingatkan saya tentang Mama Dimas yang beberapa tahun lalu juga panik luar biasa karena penyakit ashtma Dimas yang kambuh. Ah, jika salah satu keluarga kita jatuh sakit, rasanya badan kita juga ikut sakit.

gambar dari sini

Seminggu yang lalu, saya menjenguk seorang kawan saya yang (lagi-lagi) masuk rumah sakit. Ketika saya menjenguknya, ia sedang ditemani oleh ibunya. Ibunya dengan sabar menyuapinya makanan, dengan hati yang tulus berdoa agar anaknya segera sembuh. Sang ibu rela berbuat apapun asalkan sang anak bisa kembali sehat.

Ketika saya di rumah sakit, ada seorang ibu yang juga dirawat karena kecelakaan sepeda motor. Anak laki-lakinya yang paling bungsu lah yang dengan rajin merawatnya. Mulai dari menyuapi makanan, mengipasi sang ibu yang kepanasan, membuang urin dari kateter sang ibu, bahkan hingga ikut tertidur di bawah kaki sang ibu.

Bersyukurlah bagi kita semua yang saat ini bisa bernapas dengan lega, masih bisa berjalan tanpa merasakan sakit, dan masih bisa tidur dengan sangat nyenyak. Bagi yang sedang sakit, semoga cepat sembuh. Kesehatan itu… sangat berharga, jenderal!

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

12 thoughts on “Tukar Kesehatan, Mau?”

  1. jadi inget Mommy yang selalu ada di sampingku pas aku sakit, sedangkan aku ? kalo Mommy sakit aku cuekin aja😦 anak durhaka *eehjadicurcol*

  2. ibu itu luar biasa. *ibu saya jauh di jawa timur, pas sakit beliau sampai bela-belain ke jakarta karena saya dirawat waktu itu. subhanallah. terimakasih buat keluargaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s