Ketika di Rumah Sakit

Tepat seminggu yang lalu saya operasi dan menginap semalam di rumah sakit. Dasar saya yang emang suka mengamati perilaku orang, jadilah selama di rumah sakit mata saya tak henti-hentinya mengamati orang-orang yang hilir mudik di sana. Mulai dari pasien, dokter, keluarga pasien, petugas rumah sakit, hingga penjaga toilet, hehe.

picture credit here

Operasi Katarak Massal

Saat itu rumah sakit sedang menyelenggarakan operasi katarak massal gratis. Jadilah saya ikut antre dengan orang-orang yang sebagian besar adalah orang tua untuk mendapat giliran operasi, hehe. “Sehari bisa berapa orang yang operasi, pak?” tanya saya ke salah satu petugas ketika saya berada di “ruang tunggu operasi”. “Kalau kemarin sekitar 150an, hari ini 112 orang,” jawab beliau. “Wah, banyak juga ya pak, sampai jam berapa itu pak?” “Kemaren aja sampe jam 9 malem.”

Salah satu hal yang saya amati adalah ketika mereka sudah selesai operasi katarak. Dengan masih memakai baju operasi, mereka akan difoto terlebih dahulu oleh petugas. Mungkin untuk dokumentasi. Setelah itu, keluarga si pasien dipanggil dengan pengeras suara. Kemudian, petugas memberikan obat dan arahan.

“Bisa minum obat dengan air putih?” tanya si petugas.
Saget (bisa),” jawab si pasien.
“Ini obatnya…diminum, bla…bla…bla.”
Pasien mengangguk-angguk.
“Selama satu minggu ini, tidak boleh menunduk, bersin, batuk, angkat yang berat-berat, tidur harus terlentang, pokoknya harus istirahat total. Panduan lengkapnya bisa dibaca di sini,” jelas si petugas sambil menyodorkan pamflet.
Biasanya setelah si petugas bilang, “Tidak boleh menunduk,” si pasien langsung duduk tegak seketika, hehe.
“Lha kalau mau bersin gimana?” Petugas pun menjawab, “Ya sebisa mungkin ditahan.” Kadang saya tersenyum geli melihat para orang tua yang bingung harus berjalan ke mana (karena sebelah matanya yang ditutup perban). Suster juga harus berhati-hati menuntun mereka. Meski mungkin sakit, tapi ada raut bahagia di wajah mereka… akhirnya mereka bisa melihat indahnya dunia lagi.

Dengan Pasien “di Ruang Tunggu”

Ada beberapa bed yang ada di “ruang tunggu” itu. Satu persatu pasien masuk ke dalam ruang operasi. Hanya saya saja yang saat itu duduk di kursi biasa, karena memang saya belum diinfus dan belum bermalam di rumah sakit.

“Mbak, operasi apa?” seorang perempuan menyapa saya. Ia berbaring dan sudah diinfus. Wajahnya tampak pucat dan lemas.”Appendix, mbaknya?”
“Sama,” jawabnya. “Tapi kok mbak keliatan sehat-sehat aja ya,” lanjutnya lagi. Saya hanya tersenyum, hehe, padahal nih perut ada yang udah cenut-cenut dari beberapa hari yang lalu.

Kami pun mengobrol beberapa kali sambil menunggu giliran operasi. “Lama banget ya, mbak, jadi makin takut.” “Hehe, iya, aku juga udah laper,” sahut saya karena memang sudah harus puasa dari jam 10 malam kemarin. “Sebentar lagi azan zuhur, kita buka puasa aja yuk,” candanya. Meski kami sama-sama takut karena saat itu adalah pengalaman operasi pertama kami, kami mencoba untuk mencairkan suasana dengan saling mengobrol.

“Sekarang kuliah jurusan apa?” tanya saya.
“Akuntansi mbak. Tapi ayah pengennya saya masuk ke akper atau akbid tahun ini, padahal aku nggak suka. Tapi ya udah lah terserah ayah aja,” jawabnya dengan nada kecewa.

Selama di ruang tunggu itu, saya juga sempat ngerasa ngeri. Tiap pasien yang masuk ke ruang operasi, setiap keluar pasti dalam keadaan berbaring dan tidak sadar (ya iyalah namanya juga operasi, hehe). Ada satu pasien yang sudah mengantri lama bahkan lebih lama dari saya, tampaknya karena butuh penanganan khusus, dia sudah mulai tampak bete, hehe.

Harus Antri

Waktu saya baru ganti dengan baju operasi, dokter sudah sempat menggiring saya untuk langsung operasi. Namun, pas sudah masuk ternyata belum ada ruang kosong. Lha? Akhirnya saya digiring kembali ke ruang tunggu. “Nggak jadi mbak?” tanya seorang bapak. “Hehe, masih harus antri,” jawab saya.

Pas akhirnya giliran saya untuk operasi, dokternya bilang, “Ini yang tadi mau langsung operasi nggak jadi itu ya?” Saya hanya ber-hehe saja.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

6 thoughts on “Ketika di Rumah Sakit”

  1. itu gambar rs-nya resik ya dan terbuka..
    cepat sembuh ya usus buntunya.. abis ini bisa makan pedes suka hati deh ga kawatir usus buntu lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s