Ia yang Inspiratif

Jika kamu seorang perempuan, mungkin kamu ingin menjadikannya pendamping hidup. Jika kamu seorang laki-laki, mungkin kamu ingin menjadi kakak atau adik kandungnya. Ia yang disukai banyak orang, laki-laki dan perempuan. Hmm… jika anda adalah orang tua, mungkin anda juga ingin menjadikannya anak kandung, atau mungkin menantu? Hehe.

Bagi saya, setiap pertemuan pasti ada maksudnya. Setiap kali saya bertemu dan berkenalan dengan orang baru, saya yakin semuanya sudah diatur. Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah tertata dengan begitu apiknya, termasuk pertemuan saya dengan beberapa teman baru semasa kuliah. Salah satunya adalah dia.

kita semua punya mimpi
live our life

Saya bertemu dengannya ketika mengikuti sebuah forum di Bandung. Saat itu ia adalah panitia acara dan saya peserta. Perkenalan yang sangat singkat, namun sangat berkesan apalagi karena kami kuliah di jurusan yang sama dan angkatan yang sama (hanya beda kampus, hoho). Kemudian, saya tetap berkomunikasi dengannya melalui Facebook, email, dan Twitter. Ketika saya kembali ke Bandung, saya menghubunginya dan kami pun kembali bertemu. Sesungguhnya tidak sekadar bertemu, tetapi mengerjakan sebuah “proyek” bersama. Mengobrol selama berjam-jam di sebuah restoran cepat saji. Terakhir kali saya bertemu dengannya adalah Desember akhir tahun lalu.

Ketika saya ke Jakarta akhir tahun lalu, saya menyempatkan diri ke Bandung. Sekalian bertemu teman lama dan juga bertemu dengannya. Ketika itu ia baru pulang dari Cina karena mengikuti sebuah forum, dan ya, bisa ditebak, saya minta dibawakan oleh-oleh. Hehe. Eh, ternyata dia benar-benar membawakan saya oleh-oleh.

“Saya tunggu di tempat biasa ya,” katanya.
Saya sempat bingung juga mau bertemu dengan dia atau tidak. Pertama, karena saat itu sudah malam. Kedua, angkot malam itu sudah agak jarang. Tapi kapan lagi saya bisa bertemu dengannya, apalagi ia sebentar lagi juga akan berangkat ke Amerika. “Baiklah,” jawab saya.

Saya pun langsung naik angkot menuju ‘tempat biasa’ yang dimaksud, yakni sebuah restoran cepat saji. Saat itu sekitar pukul 9 malam, ketika saya masuk ke dalam restoran, hanya tinggal ia sendirian yang menunggu di sana. “Yuk, makan dulu,” katanya mempersilakan saya duduk sementara ia masih menghabiskan makanannya. Dia juga sudah memesankan makanan untuk saya. Kami pun mengobrol tentang akhir “proyek” kami disambung dengan cerita banyak hal.

Dia kembali menceritakan banyak pengalamannya. Yang terbaru tentu saja tentang perjalanan ke Cina. “Waktu itu saya nggak tidur sampe jam 6 pagi, habis itu langsung berangkat ke Cina. Pas ikut konferensi, udah nggak konsen saking ngantuknya, hehe.” Dia membawakan saya oleh-oleh dari Cina, hihi lumayan lah. Dia juga sempat curhat tentang keberangkatannya ke Amerika yang masih belum jelas. Seharusnya dia sudah berangkat sekitar bulan Agustus, tetapi sampai Desember belum juga berangkat. “Malu euy tiap kali ditanya kapan berangkat.” “Sudah nggak pernah ngajar lagi di kampus?” tanya saya. “Nah itu, saya ‘kabur’ dari kampus, malu ditanya-tanya terus kapan berangkat ke Amerika, hehe”. Masalahnya saat itu adalah pencairan dana beasiswa yang tersendat. “Janji-janji mulu tapi nggak ditepatin,” sungutnya kesal.

“Sekarang jadi makin kurus kan,” katanya mengomentari dirinya sendiri.
“Haha, iya makin kurus.”
“Udah kurus jadi makin kurus aja nih. Hehe.”
Iya, kamu terlalu sibuk sih, batin saya dalam hati.

Sekitar pukul setengah 9 malam, restoran tampaknya akan tutup. Kami pun segera pulang. Ia menangkap raut wajah saya yang khawatir. Saya khawatir nggak bisa balik ke kosan tempat saya menginap ketika di Bandung saat itu, karena sudah malam dan nggak ada angkot, heu. Ia kemudian menjejeri langkah saya dan menemani saya untuk menunggu angkot.

“Rencananya sih ingin lanjut S2 langsung sekalian S3 di Amerika. Habis itu baru balik ke Indonesia.” Entah kenapa setiap  kali saya bertemu dengannya, seperti ikut merasakan ada energi positif darinya. Energi untuk berani bermimpi besar, berani berjuang, dan meraihnya. Intinya: pokoknya nggak mau tahu, impian ini harus terwujud, entah bagaimana caranya. “Selama ini banyak orang yang cuma tahu kesuksesan saya, padahal di balik itu…ada banyak perjuangan dan usaha,” ia memang sudah menjejakkan kaki tidak hanya di Benua Amerika tetapi juga Benua Eropa. Pengalamannya segudang, bahkan sudah kenal dekat dengan banyak tokoh terkenal di Indonesia.

Malam semakin larut, rupanya memang sudah tidak ada angkot. “Saya antar aja ya kalau gitu, saya ambil motor dulu, tapi kalau nanti sudah ada angkot ya endah tinggal naik aja.” Saya pun oke-oke aja, daripada nggak bisa balik pulang. Beberapa menit kemudian, dia datang dengan sepeda motornya.

“Ingat cerita tentang motor ini nggak?” tanyanya sambil mengemudikan sepeda motornya menembus jalan raya.
“Ah, ini motor yang kamu beli tanpa ngasih tahu orang tua dulu itu kan?” tebak saya.
“Hehe, iya.”
Selama di perjalanan, ia juga tak  henti-hentinya mengobrol ini itu. Saya hanya sesekali menyelanya untuk memberi arahan ke mana harus belok.
“Besok ada seminar di kampus saya. Saya jadi pembicaranya lho, kalau endah mau datang, datang aja.”
“Sayangnya, besok aku sudah harus pulang naik kereta jam setengah 4 sore,” jawab saya.
Ia memang sudah tidak sekadar menjadi sosok yang terkenal, tetapi juga seorang motivator. Ia sudah sering diundang ke beberapa kampus untuk menjadi pembicara, pengisi seminar, juga motivator.

“Selama ini saya selalu dibantu banyak orang, jadi ya saya ingin membantu sebanyak mungkin orang yang bisa saya bantu.” Kami memang sebaya, namun pengalaman dia sudah amat sangat banyak. Ia sangat aktif terlibat di beragam kegiatan kepemudaan, selalu menginspirasi, dan selalu mengucapkan kata-kata positif. Ah, kadang saya sangat iri dengannya. Tak heran banyak orang yang terinspirasi dari sosoknya. Salah satu hal yang sangat menonjol darinya adalah dia selalu membuat orang lain spesial.

“Eh, kelewatan, belok kiri, eh, tapi aku turun di sini juga nggak apa-apa kok,” kata saya mengarahkan jalan. Saking banyaknya obrolan, jadi sampai tidak fokus. Ia pun akhirnya tetap mengantarkan saya hingga sampai tepat di depan tempat kosan teman saya.
“Doakan saya biar cepet-cepet berangkat ke Amerika ya,” katanya.
“Aku juga, doain  biar bisa nyusul, hehe,” jawab saya.

Beberapa minggu setelah itu, ia sempat menelepon saya dan sedikit curhat melimpahkan kekesalannya tentang pencairan dana beasiswa yang masih terhambat. Ia kesal karena merasa dibohongi. Beberapa hari berselang, ia mengirimi saya sebuah sms. Akhirnya, dana beasiswa sudah turun dan ia jadi berangkat ke Amerika bulan Januari 2013. Beberapa jam sebelum ia berangkat ke Amerika, ia mengirimi saya sebuah sms lagi: malam itu ia akan terbang ke Amerika. Hanya doa yang bisa saya berikan untukmu, kawan.

Kata-kata yang masih saya ingat dari dia:
“Kalau jatuh ya bangkit lagi!”
“Saya ini orangnya gimana ya, ya intinya kalau sudah punya keinginan/impian, ya udah harus didapatkan, nggak mau tahu gimana caranya, pokoknya harus dapet, pasti ada jalannya.”
“Hal yang paling nikmat adalah berproses. Hal yang paling sulit adalah mempertahankan apa yang kita dapat.”

Sekarang ia sedang berjuang lagi kuliah di Amerika untuk mendapatkan gelar S2. Sangat beruntung bisa memiliki kawan seperti dia. Bisa ketularan semangatnya, dan semoga bisa ketularan juga suksesnya, hehe. Saya yakin tidak hanya saya saja yang tertular dengan aura positifnya. Banyak orang sudah “dipengaruhinya” agar selalu berjuang mewujudkan impian. Banyak anak muda yang termotivasi dengan kisah hidupnya.

Pernahkah kawan-kawan blogger bertemu seseorang yang inspiratif? Share your stories🙂

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

12 thoughts on “Ia yang Inspiratif”

      1. oh… kirain ambil pasca di The Robotics Institute at Carnegie Mellon University… semoga pulang nanti tidak jadi liberal.. arus pemikiran di sana dasyat….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s