Hidup (Tak) Baik-Baik Saja

Target yang meleset. Kegagalan yang datang padahal sudah banyak yang dikorbankan. Cita-cita yang harus ditunda. Keinginan yang harus ditahan. Masalah yang datang bertumpuk-tumpuk. Lelah tanpa tahu sebab yang pasti. Merasa ada yang salah dengan hidup tetapi tidak tahu apa. Bingung harus membuat keputusan yang seperti apa. Terlalu banyak pertanyaan yang butuh jawaban.

Aku tidak datang untuk mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi untuk memintamu sejenak mengabaikan hal-hal yang belakangan ini barangkali membuat pikiranmu jadi berat. Berhentilah berpikir bahwa segalanya mesti berjalan baik-baik saja, dan sempurna, dan tanpa kesalahan: Sebab kita memang diberi ruang dan kesempatan untuk membuat segalanya tidak baik-baik saja, kan? Dan bersyukurlah jika segalanya berjalan tidak sebagaimana mestinya, sebab itu artinya kita diberi kesempatan lain untuk memperbaikinya. (halaman 86)
-Perjalanan Rasa, Fahd Djibran

Seorang sahabat pernah mengirim saya sebuah sms. Dia hanya bilang bahwa ia ingin menangis. Waktu saya tanya alasannya, dia hanya bilang hidup ini berat dan bla bla bla. Alasannya abstrak, hehe. Sepertinya dia sendiri tidak tahu kenapa dia ingin menangis. Saran saya? Ya sudah kalau ingin menangis ya menangis saja, biar lega, biar plong. Sahabat yang lain pernah sms juga tentang kegalauannya karena… hampir semua teman sekolahnya sudah menikah. Lha? Masalah panjenengan sama saja dengan masalah saya, mbakyu, batin saya ketika menerima smsnya, hehe. Sepertinya hidupnya akan tetap “tidak baik-baik saja” sebelum ia bisa menemukan pujaan hatinya dan menikah. Saran saya? Err… ya udah lah ya nggak usah dijadiin beban, toh teman kita yang nikah juga nggak mikiran kita, jadi ngapain mikirin dia, hoho. He will come at the right time.

gambar dari sini

Pikiran yang terasa sangat berat. Masalah yang tampaknya belum juga menemukan jalan keluar. Mungkin kita memang harus berhenti sejenak, menekan tombol pause. Bagi muslim, kita bisa mengambil air wudlu dengan lebih khusyuk dan bersujud lebih lama lagi. Bagaimana pun juga kita hanya manusia. Jika segalanya terasa “terlalu berlebihan” itu berarti kita akan “segera naik kelas”. Hidup hanya sekali, jadi kalau dihabiskan dengan hanya berkeluh kesah, kok ya eman-eman (sayang banget).

Hal yang “tidak baik-baik saja” itu sebenarnya adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk menjadi seorang manusia yang lebih baik lagi, what do you think?

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

14 thoughts on “Hidup (Tak) Baik-Baik Saja”

  1. setuju~~
    kalo lagi galau, sedih, frustasi ingatlah bahwa ketika kita sedang galau dan sedih, frustasi dunia masih baik-baik saja…. dunia tidak runtuh ketika kita sedang sedih, hanya kita saja yg merasa jatuh.
    Jadi jangan mau berlama2 sedih sendirian, karena dunia masih baik2 sajah, karena mereka juga masih baik2 sajah
    hehehehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s