My English Ain’t Good Enough

Kemampuan bahasa Inggris saya masih jauh dari sempurna. Menghabiskan waktu 4 tahun kuliah di jurusan bahasa Inggris tidak serta merta membuat saya bisa lancar jaya berbicara atau menulis dengan menggunakan bahasa Inggris. Saya akui saya kurang maksimal memanfaatkan waktu kuliah saya. Yeah, penyesalan selalu datang terlambat, kawan.

I admit my English is not good enough…

gambar dari sini

Terkadang ketika memberi les bahasa Inggris, saya tidak bisa memberikan jawaban yang tepat ketika anak les menanyakan penjelasan sebuah soal. Masih sering pula saya tidak tahu  beberapa arti kata yang sebenarnya sudah umum, hadeuh. Malu rasanya, huhu. Dalam menulis pun, saya masih kikuk menggunakan aturan grammar. Kadang juga “terlalu mikir”, jadinya tulisan yang saya buat dalam bahasa Inggris amat sangat kaku.

Saya kadang ngerasa “nggak rela” ketika teman saya yang kuliah di jurusan non-bahasa Inggris ternyata bisa menulis dalam bahasa Inggris dengan sangat luwes dan sempurna. Hehe, ini mah saya aja yang iri. Apalagi ketika ada tulisan adek kelas yang bisa masuk di harian the Jakarta Post, saya cuman bisa gigit jari. Hahaha, bukannya makin meningkatkan kemampuan saya, saya malah sibuk meratapi diri sendiri.

Belajar bahasa asing sangat menarik bagi saya. Selain bahasa Inggris, dulu waktu SMA saya pernah belajar bahasa Jerman selama setahun dan bahasa Jepang selama setahun juga. Hmmm… sayangnya, karena sudah tidak pernah latihan jadinya ya bahasa Jerman yang diingat paling cuma Guten Morgen atau Ich Liebe Dich. Sedangkan bahasa Jepang mungkin ya sebatas Ganbatte, Ohayo Gozaimasu, dan Aishiteru. Haiyah… parah banget kan.

Mungkin satu-satunya cara bisa menguasai bahasa Inggris dengan lebih baik dan lebih luwes adalah dengan tinggal langsung di negara yang masyarakatnya menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi sehari-hari. Yaps, belajar bahasa di tempat aslinya. Waktu sempat tinggal di Bandung, saya cukup cepat memahami bahasa Sunda yang dipakai oleh teman-teman. Bahkan, logat bahasa Indonesia saya bisa sangat mirip dengan logat orang Sunda ketika berbicara bahasa Indonesia, hehe. Teman-teman kantor dulu di Bandung pernah juga bilang bahwa ketika saya bicara, logat medhok saya (ya secara Arema sejati gitu, hehe) sama sekali tidak terlihat. Namun, pas kembali ke rumah, saya kembali medhok, hehe.

Bisa menguasai banyak bahasa pasti sangat menyenangkan. Saya masih ingin belajar banyak bahasa lagi, seperti bahasa Arab, bahasa Perancis, dan banyaaaak lagi. Eh, tapi belajar bahasa daerah di Indonesia juga tampaknya sangat menarik. Entah ada berapa ratus bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Well, I have to keep learning after all.

Eniwei, bahasa apa saja yang sudah kawan-kawan blogger kuasai hingga saat ini?

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

19 thoughts on “My English Ain’t Good Enough”

  1. Teteh itu ngga bisa bahasa Inggris, terus pindah kesini, dipaksa belajar bahasa Jerman, naah paling malu kalau sudah baca yg pake bhs Inggris, dibacanya kaya bhs Jerman semua dibaca jelas…. ujung2nya kaya orang oon yang sok pengen berbahasa Inggris hehehe

  2. jaman SMA dulu malah saya suka nyipta2in sistem alfabet sendiri buat tuker2an “pesan rahasia” sama temen. tapi sekarang saya sendiri udah lupa. belajar bahasa memang menyenangkan. seperti memecahkan kode-kode rahasia halah2..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s