Bromo Tahun Lalu (2-Habis)

Tulisan sebelumnya di sini.

Pukul setengah 4 pagi kami semua berangkat menuju Penanjakan. Sempat terhambat karena ada salah satu pengendara yang membeli bensin. Ah, bikin jengkel saja. Menunggu dan menunggu.

Lautan Pasir
Kami menuruni jalan yang cukup curam sebelum mencapai Lautan Pasir. Benar-benar harus berhati-hari karena harus bisa menjaga keseimbangan dengan baik. Sesekali memang harus agak ngotot dan dipacu dengan cepat agar tidak terjebak ke dalam pasir. Baru saja lolos dari perjuangan melewati Lautan Pasir, kami pun mulai mengikuti jalan menanjak yang juga sama menantangnya.

Jalan, Berhenti, Jalan Lagi
Tak semua sepeda motor bisa melewati tanjakan dengan mulus. Terpaksa aku harus turun dan berjalan. Kupikir jalannya tidak terlalu menanjak. Ternyata, baru beberapa langkah, aku sudah kehabisan nafas. Oke, ini juga efek karena tidak pernah berolahraga dan juga kelelahan ditambah tidak tidur semalaman.

Aku harus sering berhenti untuk kembali mengatur nafasku. Teman-teman sudah hilang dari pandanganku. Sesekali harus melipir karena ada jeep atau sepeda motor yang lewat. Ada yang menyerah dan turun karena tidak kuat melewati jalan menanjak. Di sebuah titik, aku benar-benar sendirian. Sepi. Tidak ada penerangan. Tidak ada siapa-siapa. Yang bisa kulihat hanya kegelapan. Kelelahan.

Ingin berhenti dan berbalik turun. Tapi aku sudah telanjur berjalan, belum lagi ditunggu oleh Andik, Miftah, dan Nina di atas sana. Rasanya sudah tidak kuat untuk terus melangkah. Sekali lagi aku berhenti. Bersandar pada sebuah pembatas jalan. Berkali-kali dilewati jeep dan sepeda motor.

Aku sempat melihat beberapa teman yang lain bergandengan dan saling menyemangati untuk bisa terus jalan hingga ke atas. Ada yang menawariku minum air putih saat sedang berhenti mengambil nafas. Jujur ingin berhenti saja. Namun… satu langkah lagi, lagi, satu langkah lagi…

Mungkin seperti inilah yang namanya perjuangan. Kadang ada rasa pesimis untuk bisa melanjutkannya. Kadang sudah benar-benar ingin berhenti. Lelah. Tidak bisa bernafas. Kadang terasa ditinggalkan seorang diri. Kesepian. Saat tak ada lagi yang bisa membantu, hanya diri kita sendiri yang bisa menghidupkan semangat kita. Satu langkah lagi. Tak apa berhenti sesekali. Namun, terus melangkah ke depan.

Haish, gimana bisa mendaki Semeru kalau gampang lelah seperti ini. Sepertinya aku memang harus lebih banyak berolahraga. Di sebuah belokan, ada dua sepeda motor yang terguling. Pengendara dan orang yang diboncengnya sama-sama jatuh. Sepertinya mereka ada dalam satu rombongan denganku. Teman-teman yang lain langsung merubungi dan membantu. Aku sendiri tak bisa berbuat apa-apa karena masih kerepotan mengatur nafasku sendiri.

Miftah sempat turun lagi dan memboncengku ke atas. Andik dan Nina juga sudah di atas. Setidaknya mereka masih bersabar menungguku yang berjalan sangat lambat dan harus bolak-balik mengambil nafas.

Berada dekat dengan orang-orang yang selalu ada untuk kita menjadi sebuah hal berharga yang patut untuk disyukuri. Setidaknya ada orang yang akan membantu kita bangun saat terjatuh. Memberi semangat dan bersabar menunggu kita untuk berhasil.

Matahari Terbit
Kami masih belum sampai puncak. Gerimis datang. Kami semua berhenti pada sebuah tempat. Sambil menunggu beberapa kawan lainnya, kami melihat matahari yang perlahan beranjak naik. Meskipun terhalang kabut, aku merasa bersyukur bisa melihatnya. Tak ada satu kata pun yang kuucapkan. Aku memisahkan diri dari teman-teman yang lain. Entahlah, hanya ingin mengambil sebuah ruang tersendiri.

Sekitar pukul 5.15, kami melanjutkan perjalanan menuju ke atas. Kali ini tanjakannya agak bersahabat jadi perjalanan bisa berjalan cukup lancar. Sampailah kami pada sebuah tempat dekat dengan bukit yang menyediakan sebuah ruang dan pemandangan cantik. Meskipun matahari sudah meninggi, alhamdulillah kami masih bisa berkesempatan menikmati pemandangan yang tersaji saat itu.

semburat jingga di atas sini
bayang kabut
masih berkabut
ingin ke Semeru suatu hari nanti🙂
calm and beautiful
seeking the ambience
which angle did you take?😀
sunrise yang terlambat

Ada sebuah bukit yang bisa didaki. Dengan posisi yang lebih tinggi kami bisa melihat pemandangan yang lebih lapang. Saat itu tiba-tiba ada yang memanggilku. Suara Fitri. Akhirnya, kami bertemu kembali setelah terpisah dari rombongan. Rupanya dia mengambil jalur yang berbeda. Syukurlah masih bisa bertemu lagi.

dari atas bukit
bertemu kembali

Sempat berfoto bersama teman-teman lain (diantara mereka semua, hanya 5 orang yang kukenal, heu). Setelah puas berfoto-foto, sempat ada rencana untuk lanjut ke Air Terjun Mardakari Pura. Tapi, batal. Hiks, padahal aku pengen banget bisa ke sana. Huhu. Akhirnya sebagian besar memutuskan untuk pulang. Banyak yang kelelahan, termasuk aku juga yang tidak tidur semalaman.

tak semuanya kukenal,hehe

Kami berenam (aku, Fitri, Sani, Andik, Miftah, dan Nina) memutuskan untuk ke Kawah Bromo. Kami turun lagi ke Lautan Pasir. Saat itu aku baru tahu alasan kenapa aku bisa begitu kelelahan saat berjalan mendaki. Rupanya tanjakannya cukup curam, sepertinya sekitar 50-60 derajat, entahlah, aku tak tahu pastinya. Hmm, jika semalam aku bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa tanjakannya mungkin aku tak akan mau berjalan kaki.

Kadang kita hanya harus mencoba dan menjalaninya. Itu saja.

kaki yang akan terus melangkah
jalur awal Penanjakan

Sempat terlihat bunga edelweis di sepanjang jalan. Ingin memetik, tapi cukup diambil fotonya saja🙂

edelweis…edelweis….

Tadinya kami berencana untuk ke Kawah Bromo. Namun, aku sendiri sudah kelelahan dan beberapa teman lain juga ada yang tidak mau naik. Akhirnya, batal lah rencana untuk ke Kawah Bromo. Kami hanya menghabiskan waktu di sekitaran Gunung Batok dan Lautan Pasir.

memotret yg sedang (saling) memotret
sarapan…sarapan
kelelahan, tidur beralas jas hujan
kuda satu
kuda dua
kuda tiga

Sebagian orang rela bersusah payah untuk menyaksikan keindahan matahari terbit. Orang yang mendaki gunung mungkin tak akan puas sebelum bisa menyaksikan matahari terbit di puncaknya. Ada juga yang rela berpeluh hanya untuk bisa mengejar waktu yang tepat menyaksikan keindahan matahari terbit. Kita semua bisa menyaksikan matahari terbit di mana saja. Namun, kadang kita rela untuk bekerja keras untuk melihat matahari terbit di tempat tertentu. Matahari itu masih satu dan sama. Kenapa kita rela bekerja keras untuk pergi ke tempat yang tinggi itu?

Kita terlahir dengan bekal yang sama. Namun, beberapa diantara kita bisa bersinar di sebuah “ruang” tertentu. Beberapa diantara kita tahu di mana kita seharusnya berada sehingga banyak orang yang mengagumi kita, banyak orang yang rela bersusah payah untuk melihat keanggunan kita. Kita masih manusia yang sama, terlahir dengan pencipta yang sama. Namun, diri kita sendiri lah yang bisa memutuskan di mana kita bisa memberi manfaat bagi orang lain. Memberikan sinar dan cahaya terbaik kita.

Sekitar pukul setengah 10, kami langsung pulang kembali ke Malang. Rasa lelah sudah tak tertahankan lagi. Salah satu penyebabnya adalah tidak tidur semalaman. Aku melihat Fitri yang dibonceng Sani tampak terantuk-antuk. Mata memerah. Capek tiada tara, hoahm! Tapi, tetep ngebut jaya!

Beristirahat sebentar di Pasuruan untuk membeli seporsi mie ayam dan segelas es jeruk dengan membayar 5 ribu rupiah per orang. Setelah itu langsung ngebut sampai Malang. Jam 2 siang aku sampai rumah. Langsung mandi, shalat zuhur, dan tidur, sempet bangun lagi jam 5. Habis shalat isya’ langsung terkapar membayar jatah malam sebelumnya yang tidak sempat tidur semenit pun.

Meskipun melelahkan, aku banyak belajar dari ikut rombongan ini. Saling bahu membahu (meski kadang masih juga saling memaki kalau kesal), tidak meninggalkan satu orang pun (meskipun sempet ada yang nyasar), dan kebersamaan. Namun, buatku cukup. Lain kali kalau ke Bromo lagi, aku ingin bersama dengan orang-orang menyenangkan yang kukenal dan tidak dengan rombongan yang terlalu banyak, hehe.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

7 thoughts on “Bromo Tahun Lalu (2-Habis)”

  1. “Mungkin seperti inilah yang namanya perjuangan. Kadang ada rasa pesimis untuk bisa melanjutkannya. Kadang sudah benar-benar ingin berhenti. Lelah. Tidak bisa bernafas. Kadang terasa ditinggalkan seorang diri. Kesepian. Saat tak ada lagi yang bisa membantu, hanya diri kita sendiri yang bisa menghidupkan semangat kita. Satu langkah lagi. Tak apa berhenti sesekali. Namun, terus melangkah ke depan.” ——-> syyuukkaaa banget sama inii!!!! ketika membacanya langsung bisa merasakan, #curcol# heheheee😀

      1. tapi emang bner kooqq~~
        jalan sendiri di tempat yg sepi terus gak nyampe2, capek, lelah, tapi gak ingin lama-lama di jalan yg sepi jadi harus tetap bergerak… ffuuhh capek bgt yahh???
        #kenapa jadi curcol??# hehehe

        hehe, sama-sama~~😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s