Segelas Teh Tawar

Segelas teh hangat disajikan. Disesap sedikit, ah, tawar. Setelah sekian lama terbiasa minum teh manis, teh tawar ini rasanya tidak begitu bersahabat di lidah. Meskipun begitu ia tetap berusaha untuk menyesapnya sedikit demi sedikit. Agar si pembuat teh tidak tersinggung. Agar tidak ada minuman yang mubadzir. Juga, agar ia bisa memulai untuk beradaptasi hidup di kota ini.
gambar dari sini

Ia menamainya kota B. Salah satu ibu kota provinsi di Pulau Jawa yang, menurut salah seorang kawannya, paling nyaman untuk ditinggali. Udaranya sejuk, makanannya enak, tempat belanjanya meriah, tempat wisatanya beragam, dan menjadi salah satu kota incaran untuk menuntut ilmu. Ada juga yang menjulukinya Parijs van Java. Namun, ia lebih suka menjulukinya dengan kota B. Semoga tidak ada yang protes dengan caranya menyebut atau menjuluki sesuatu.

Setelah menempuh perjalanan selama 18 jam dengan kereta api ditambah dua kali naik angkot, ia kembali menyesap teh tawar yang dihidangkan di warung itu sembari menunggu makanan pesanannya datang. Sempat ada setitik keraguan dari keputusannya untuk tinggal di kota B—meski hanya untuk beberapa bulan saja. Akan tetapi, rasa penasaran yang dimilikinya lebih membunuh daripada keraguan yang ada di benaknya. Hingga tak ada pilihan lagi selain membuatnya benar-benar berangkat dan belajar hidup di kota B. Meninggalkan zona nyaman dan bertualang menemukan pengalaman-pengalaman baru dirasakannya cukup menantang.

Makanan yang dipesannya belum juga datang. Ia mendengar orang-orang di sekitarnya berbicara dengan menggunakan bahasa yang tidak ia pahami. Anehnya, ia mengerti apa yang sedang dibicarakan. Tidak paham dengan bahasa yang digunakan tetapi sangat mengerti maksud pembicaraan. “Hatur nuhun” yang didengarnya memiliki makna yang sama dengan “matur nuwun” yang sering diucapkannya, setidaknya itu pelajaran pertama yang ia dapat. Ingin bisa ikut berbincang, tetapi lidahnya kelu. Akhirnya, ia lebih memilih diam dengan tetap sabar menunggu makanan yang dipesannya datang.

Ada keramaian di depannya. Rupanya seorang pedagang yang baru saja menggelar dagangannya telah menarik perhatian banyak orang. Ia beranjak dan ikut melongok. Sang pedagang menawarkan barang dagangannya dengan sangat atraktif. Di tempat tinggalnya, orang-orang kota B dikenal sebagai pedagang-pedagang yang handal. Sepertinya memang tak sepenuhnya salah, dia melihat langsung betapa perdagangan sangat ramai di kota B. Ada kesan dinamis yang dirasakannya. Ia berkeliling sebentar. Beragam barang tampak diperjualbelikan. Setiap pedagang melakukan beragam cara menarik untuk mengundang pembeli. Riuh bersahutan. Tak ada yang diam.

Beberapa tahun sebelumnya ia sangat penasaran dengan kota B. Sebagian orang bilang bahwa kota B sangat mirip dengan kota kelahirannya. Diperhatikannya lagi beberapa kemiripan antara kota B dengan kota kelahirannya: kota yang dipenuhi angkot; makanan yang lezat dengan banyak pilihan; dan tempat yang seru untuk menghabiskan akhir pekan. Mungkin ada dua perbedaan yang terasa. Lalu lintas kota B lebih padat dibandingkan kota kelahirannya dan tidak ada moda transportasi bus Damri di kota asalnya. Oh, satu lagi. Di kota B tidak dijumpai deretan toko buah yang dipenuhi gundukan buah apel seperti yang sering ditemuinya di kota kelahirannya.

Setelah berjalan beberapa saat, ia kembali lagi ke warung yang tadi ditinggalkannya. Kembali duduk di tempatnya tadi menyesap teh tawar. Rasanya masih tawar dan sudah dingin. Makanan pesanannya belum juga diantar. Ia menunggu lagi.

Segelas teh hangat kembali diberikan. Rupanya makanan yang dipesannya butuh waktu memasak yang lebih lama dari biasanya. Disesapnya lagi teh tawar hangat itu. Berbeda. Kali ini lidahnya sudah mulai terbiasa dengan rasa teh yang tawar itu. Mungkin kota B masih akan terasa asing baginya, tetapi ia percaya bahwa semua pengalaman yang akan didapatkannya di kota ini akan memperkaya hidupnya.

Dihabiskannya teh tawar yang tersisa di gelasnya dalam sekali teguk. “Boleh minta satu gelas lagi?” pintanya.

NB: Tulisan ini saya repost dari blog lama saya🙂

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

10 thoughts on “Segelas Teh Tawar”

    1. kalau dibandingkan dg ibukota provinsi yg lain seperti semarang,surabaya,jakarta, kota bandung msh lebih sejuk🙂
      tulisan ini saya buat setahun yg lalu ketika saya msh kerja di bandung, eyang & emang kalo weekend macetnya ampun deh hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s