Hantu dan Gravitasi

Hantu dan gravitasi, apa hubungannya?
Simak cerita seorang anak kelas 4 SD berikut ini, Bayu namanya.

“Kenapa hantu itu nggak jalan (menapak bumi) tapi melayang? Kayak kuntilanak, dia jalannya melayang karena nggak ada gravitasi bumi kan,” kata Bayu dengan wajah serius.

Saya, ibu, dan dua anak lainnya yang masih berkumpul di rumah hingga pukul 10 malam butuh beberapa detik untuk mencerna ceritanya. Kok bisa?

“Iya kan. Kalau nggak ada gravitasi bumi kan nggak bisa jalan, jadinya ya melayang. Kayak di bulan itu kan,” jelasnya lagi.

Saya pun langsung menyela, “Lha itu kan di bulan, sedangkan kuntilanak kan adanya di bumi dan di bumi ada gravitasi kan?” Hahaha, saya jadi ikutan ngeyel.

“Oooo… Iya ya, hehe,” katanya sambil garuk-garuk kepala. Gubrak!!! Kami pun langsung terpingkal-pingkal. Logikanya sangat menggelitik. Dia menggabungkan dua hal yang berbeda untuk membuat sebuah kesimpulan.

Dia menggabungkan imajinasi tentang astronot yang melayang-layang ketika berada di bulan (seperti membayangkan Neil Amstrong) kemudian mengasosiasikannya dengan karakter hantu di film yang sering ditampilkan tak menapak bumi. Kesimpulannya? Hantu nggak bisa menapak bumi karena nggak ada gravitasi, oh yeah!

Malam itu, anak-anak tinggal lebih lama di rumah setelah les. Saat itu saya sempat marah besar dan bahkan “mengusir” mereka karena mereka sudah melanggar janji. Janji untuk benar-benar niat belajar dan mengurangi obrolan tak berguna ketika belajar. Children are just children anyway. Intinya saya mengungkapkan kekesalan saya pada mereka karena tidak menepati janji. Ah, sebenarnya sih kasihan juga melihatnya, hehe, saya saja sampai merasa tidak tega melihat mereka terdiam dan menunduk.

“Janji nggak rame lagi deh,” kata Bayu. “Nggak percaya,” jawab saya ketus.
“Ada satu kesempatan lagi nggak?” kali ini Johan yang angkat suara. “Ya udah nanti hari Rabu saja ke sini lagi, sekarang pulang saja semua dulu,” jawab saya masih (sedikit) jutek.
“Ngerjain LKS ya,” Bayu pun mulai ‘merayu’ saya. Ah, mukanya sok manis berlagak sok rajin, padahal sebelumnya ngoceh nggak karuan.
“Besok juga ada bahasa Inggris, aku kerjain sekarang juga ya,” Johan ikut ‘merayu’ juga, padahal tadinya suaranya yang paling keras mengobrol. Huwaa… saya pun luluh juga. “Iya deh.”

Anak-anak tetaplah anak-anak. Beberapa menit kemudian pun kami bisa becanda dan tertawa-tawa lagi. Setelah mulai agak rajin mengerjakan beberapa soal di LKS, kami (saya, Johan, Fahan, dan Igo) terlibat obrolan serius: mengobrolkan tentang dunia hantu. Mulai dari cerita pengalaman pernah melihat hantu (entah beneran atau bohongan), para penunggu rumah, hantu di sekolah, dsb.

“Di sekolah di kelas 2 yang ada di pojokan ada tetesan darah. Terus, Bu guru datang dan ngelap darahnya. Habis itu di kantor ditanya guru lain sambil bawa kafan, itu darah darimana? Terus ada ndas glundung (kepala yang menggelinding) juga,” cerita Igo tentang hantu ini jelas hanya rekayasa belaka, nggak nyambung!

“Aku pernah lihat ada bayangan di rumah. Bayangannya besar dan lewat gitu, wusss!” kali ini Fahan yang bercerita.
“Bayangannya warna apa?” tanya saya.
“Ya, hitam lah mbak, bayangan kan warna hitam,” jawabnya dengan nada tinggi.
“Oh, iya, ya, hahaha,” saya sadar dengan pertanyaan konyol saya.

“Aku pernah di rumah main game, sama kamu juga kan, Go,” Bayu bercerita dan menunjuk Igo.
“Waktu itu ada Bude Zul mengintip di jendela sambil makan kucing,” imbuh Bayu.
“Hah! Bude Zul ngintip sambil makan kucing?” saya menyela ceritanya.
“Oh, anu, maksudnya, sambil ngasih makan kucing,” koreksi Bayu.
“Oooo…” Hehe, kirain si Bude ngintip dari balik jendela sambil ngegigitin kucing yang masih hidup.

Sampai malam mengobrolkan tentang hantu, jenis-jenis hantu, dan gosip tentang hantu. Mereka sok-sok berani bercerita tentang hantu, eh ujung-ujungnya pada takut pulang ke rumah sendiri. Saya sih senyum-senyum saja mendengar cerita mereka. Terpingkal-pingkal juga dengan cerita konyol mereka.

Jadi, kenapa kuntilanak tak menjejakkan kakinya ke tanah (bumi)?

You have already known the answer, right 😆

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

11 thoughts on “Hantu dan Gravitasi”

  1. jadi teringat murid muridku dulu suka juga cerita hal serupa, bikin aku dna shbtku senyum senyum nih🙂

    sampai ketemu ntar malam ya sis, tak tunggu di blogku ya thanks 🙂

  2. wahaha emang seru kalo cerita2 horor. katanya hantu itu terdiri dari ion2 negatif (mbohlah nggak ngerti juga saya) makanya nggak bisa nyentuh bumi yang berion positif. saya pernah pas smp temen2 ada di rumah lagi kerja kelompok. mereka cerita2 horor sementara saya nyiapin minuman. trus sambil jalan saya bilang kalo dulu di tanah kami ada sumur tua. “…disitu.” kata saya sambil nunjuk ke belakang mereka. langsung gegerrr pada bangkit.😆 padahal saya cuma nunjuk doang lokasi bekas sumur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s