Penulis, Penyunting, atau Penerjemah

Meskipun pengalaman saya belum banyak, tetapi setidaknya saya sudah mencicipi rasanya menjadi menjadi penulis, penyunting, dan penerjemah. Setelah lulus ujian skripsi, saya pernah berdoa ingin bekerja menjadi penulis, penyunting, atau penerjemah, yang penting masih dekat dengan buku dan berbau-bau buku, hehe.

photo credit here

Alhamdulillah sebelum wisuda, saya diterima bekerja di salah satu penerbit di Bandung sebagai penyunting. Saat itu saya sama sekali tak punya pengalaman menjadi penyunting. Sempat kelabakan juga dengan beberapa pekerjaan dan bingung harus melakukan apa dan bagaimana. Berdasarkan pengalaman saya, menjadi penyunting itu ibarat menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan penulis dan penerbit. Dari pengalaman menjadi penyunting itu lah, saya pun tahu betapa riweuhnya bekerja di “dapur buku”. Banyak tantangan dan pengalaman baru yang saya dapat.

Saya bekerja di kantor itu hanya enam bulan saja. Sempat ditawari untuk memperpanjang kontrak. Namun, sebuah mimpi yang lebih besar telah membuat saya mantap untuk tidak melanjutkan bekerja di kantor itu (meskipun sudah ditawari kenaikan gaji juga, hehe). Beberapa rekan sempat menyayangkan keputusan saya. Keputusan saya sudah bulat, meskipun berat. “Nanti mau kerja jadi apa setelah keluar dari sini?” tanya atasan saya. Saya pun menjawab, “Ya, nanti pasti ada lah.” Hehe, bukan jawaban yang bagus memang, tapi ya mau bagaimana lagi.

Tepat sehari setelah saya resign dan pulang ke rumah, saya mendapat telepon. Saya ditawari untuk menjadi penulis konten dan langsung bekerja keesokan harinya. Alhamdulillah. Pekerjaan itu saya dapat tanpa harus mengirimkan CV atau wawancara formal. Intinya pekerjaan itu saya dapat dari jejaring silaturahim dengan sahabat kuliah saya, hehe. Yang saya sukai dari bekerja menjadi penulis konten ini adalah saya bisa bekerja di mana saja karena pekerjaan dikirim via email. Dengan begitu saya bisa lebih leluasa untuk mengatur beberapa keperluan lainnya dan tentunya bisa meluangkan lebih  banyak waktu dengan keluarga.

Bekerja menjadi penulis konten kadang memang menyenangkan tetapi bisa sangat menjenuhkan. Kalau sedang jenuh, saya biasanya mencari lokasi menulis yang lain, biasanya di perpustakaan kota. Sehari-hari saya menulis artikel, review, dan beberapa tulisan pendek lainnya. Rutinitas harian setelah bangun pagi (eh bangun kesiangan tepatnya), saya langsung menyalakan komputer dan mengecek e-mail. Jika pekerjaan sudah dikirim, saya bisa langsung mengerjakannya dengan diselingi nyapu, ngepel rumah, mandi, sarapan, nonton tivi, dsb.

Secara fisik saya memang bekerja di rumah. Kadang agak bingung juga menjawab pertanyaan orang, “Kerja di mana sekarang?” dan saya menjawab sambil tersenyum (paksa), “Kerja di rumah.” Mereka pun sering mengerutkan kening dan langsung mengira bahwa saya menganggur. Selain itu, karena memang saya lebih banyak bekerja di rumah dan jarang keluar rumah, tetangga sering tanya, “Kok nggak pernah keliatan?” Hehe, ya mau gimana lagi, lha wong saya memang kerja di rumah.

Selama menjadi penulis konten, saya juga menyempatkan diri menulis sebuah buku biografi. Niat awalnya memang diikutkan lomba, hehe, sayangnya tidak menang. Akhirnya, teman saya mengambil inisiatif untuk menerbitkannya. Ya, meskipun hasilnya jauh dari sempurna, alhamdulillah saya bisa mendapatkan pengalaman berharga menjadi penulis sebuah buku. Teman saya bilang responnya positif dan 200 eksemplar yang dicetak itu pun sudah habis.

Kantor tempat saya bekerja dulu  juga pernah menawari saya menyunting sebuah novel. Saya langsung mengiyakan, bahkan saya tak peduli akan dibayar berapa, hehe. Menyenangkan bisa menyunting novel tanpa harus terikat jam kantor. Saya bisa mengerjakannya di sela-sela pekerjaan saya sebagai penulis konten. Ketika semua penghuni rumah sudah terlelap, saya masih bisa duduk manis di depan layar komputer dan bersenang-senang dengan kata-kata.

Saya sempat melamar untuk bekerja menjadi penerjemah lepas, sayangnya melamar dua kali dan gagal semuanya, hehe. Hingga akhirnya saya mendapat tawaran untuk menerjemahkan sebuah buku bertema Islam. Sebenarnya cukup berat juga karena saya belum pernah punya pengalaman menerjemahkan satu buku secara langsung, dengan tema Islam pula. Akhirnya, saya putuskan untuk mengerjakan proyek terjemahan ini dengan dua teman kuliah saya dulu. Meskipun molor dari deadline yang ditentukan, alhamdullillah selesai juga.

Menjadi penerjemah memang bukan semata-mata mengartikan satu per satu kata dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Pekerjaan yang benar-benar memeras otak. Hehe, kadang malu juga lulusan jurusan bahasa Inggris tetapi masih butuh waktu berjam-jam untuk menerjemahkan sebuah paragraf dan itu pun masih harus diulang-ulang lagi. Saya pribadi sangat kagum dengan orang-orang yang bekerja menjadi penerjemah. Semoga suatu hari nanti saya juga bisa menjadi penerjemah yang hebat.

photo credit here

Hingga saat ini saya masih bertahan bekerja menjadi penulis konten. Meskipun kadang saya “dipaksa” menulis tentang tema-tema yang tidak saya sukai, saya mengambil hikmahnya dengan menjadikannya sebuah pengalaman sekaligus mengasah kemampuan menulis saya khususnya menulis dalam bahasa Inggris.

Kalau ditanya lebih suka bekerja menjadi penulis, penyunting, atau penerjemah, saya mungkin akan menjawab lebih suka bekerja menjadi penulis. Eh, tetapi kalau diselingi dengan menyunting atau menerjemah juga sepertinya akan lebih menyenangkan, hehe.

Advertisements

15 thoughts on “Penulis, Penyunting, atau Penerjemah

  1. diah indri

    Pekerjaan yg menyenangkan bisa kemana saja kapan saja.
    Kayak di film yg pernah saya tonton deh tapi lupa judulnya. Interesting life 🙂 yang pasti no pressure yah

    Salam kenal ya mbak
    *salaman*

  2. Salam kenal, endah. Lagi blogwalking, eh ketemu blog ini. Aku juga kerja di rumah, kadang aku juga bingung menghadapi orang-orang yang nggak ngerti pekerjaan kita, padahal kita mah enjoy aja 😀

  3. jokeray

    salam kenal mbak endah, salam kenal dari orang yanglagi galau mau melanjutkan mimpi setelah resign dari pekerjaan yang sekarang dan kebetulan menemukan tulisan mbak yang kurang lebih satu irama dengan mimpi ini. kalau boleh saya mau minta email , soalnya mau nanya beberapa hal. makasih mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s