Blusukan (3): Coban Dlundung & Putuk Truno

Sekarang kita jalan-jalan ke lokasi air terjun yang lain. Setelah sebelumnya kita jalan-jalan ke Coban Pelangi dan Coban Jahe, kali ini kita ke Coban Dlundung dan Coban Putuk Truno 😀

Saya mengungjungi Coban Dlundung dan Coban Putuk Truno dalam waktu sehari. Hal ini karena lokasi keduanya cukup berdekatan dan mudah dijangkau dengan mengendarai sepeda motor. Coban Dlundung terletak di kawasan Trawas, Mojokerto. Tepatnya di kaki Gunung Welirang. Sedangkan Coban Putuk Truno terletak di daerah Rekesan, Prigen. Dari Malang, kami mengendarai sepeda motor ke arah Pandaan. Tidak terlalu sulit untuk mencapai kedua lokasi air terjun tersebut asalkan tak sungkan-sungkan tanya pada penduduk sekitar, hehe.

Air Terjun yang Rintik-Rintik

Ketika kami tiba di lokasi parkir Coban Dlundung, kami hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit saja untuk menuju lokasi air terjun. Saat itu karena hari libur, lokasi air terjun sangat ramai. Bahkan air yang ada di bawah air terjun itu jadi sangat keruh. Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 60 meter ini tidak terlalu deras. Malah hanya seperti rintik-rintik gerimis. Aliran airnya juga lembut dengan hempasan yang tidak terlalu keras.

aliran air yang mirip rintik hujan
Coban Dlundung

Kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto sejenak. Sebenarnya kurang bisa menikmati dengan puas karena terlalu ramai dan banyak orang yang nyebur di sungai. Saya sempat memanjat sisi tebing air terjun ini, ya, hanya di bagian bawahnya saja sih, hehe.

airnya terasa halus
melipir untuk sesi foto sebentar

Seandainya Bisa Membangun Rumah di Dekat Air Terjun

Dari lokasi Coban Dlundung, kami pun melanjutkan ke lokasi Coban Putuk Truno. Sempat nyasar sedikit karena kami tak memperhatikan panah penunjuk lokasi Coban Puthuk Truno yang ada di sisi kanan kami.

Nama Putuk Truno konon diambil dari sebuah kisah seseorang yang bernama Joko Truno. Joko Truno ada lah seorang pertapa di lokasi air terjun hingga akhirnya ia menjelma menjadi ular (putuk).

Saya sangat menyukai Coban Puthuk Truno ini. Dari lokasi parkir, kami tinggal mengikuti jalan yang sudah dipaving. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk mencapai lokasi air terjun dengan pemandangan yang sangat indah. Melihat tebing yang mengelilingi lokasi air terjun membuat pikiran kita terasa lebih lapang, hehe cocok sebagai tempat untuk menghilangkan jenuh dan penat.

Coban Putuk Truno
breath-taking
saya sempat turun ke bawah sana dan main air 😀

Seandainya saya bisa membangun rumah dekat air terjun, saya akan memilih lokasi Coban Putuk Truno ini. Air terjun yang berada di ketinggian sekitar 45 meter ini dapat dinikmati dengan duduk di tempat duduk yang sudah disediakan dengan menghadap ke “badan si air terjun”. Kalau ingin merasakan dinginnya air terjun, kita bisa turun ke bawah melewati anak tangga. Namun, kita harus hati-hati karena ada peringatan bisa terjadi banjir mendadak di lokasi air terjun.

sejuk 🙂
so refreshing
ingin kembali ke sana

Sekitar pukul 4 sore kami langsung kembali ke Malang. Kami juga sempat makan dahulu di Taman Ndayu sebelum pulang ke rumah dan kos masing-masing. Jadi kangen lagi deh bisa ngebolang sama teman-teman kuliah…

Advertisements

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

7 thoughts on “Blusukan (3): Coban Dlundung & Putuk Truno”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s