Blusukan (2): Coban Pelangi & Coban Jahe

Yups, masih kelanjutan dari tulisan sebelumnya, kali ini saya akan menulis tentang Coban Pelangi dan Coban Jahe.

Lokasi

Coban Pelangi terletak di Desa Gubuk Klakah, Poncokusumo, Malang. Mengapa namanya Coban Pelangi? Ya, karena air terjun bisa membiaskan (lebih dari satu lengkungan) pelangi. Karena terletak di kaki Gunung Semeru, air terjun ini sering juga menjadi tujuan sampingan para pendaki Semeru. Dari Pasar Tumpang, kita bisa langsung menuju Desa Gubug Klakah. Jika mengendarai sepeda motor, kita bisa merasakan sejuknya udara dan perkebunan apel yang ada di sisi kanan dan kiri kita. Untuk menuju lokasi air terjun, dari lokasi parkir, kami harus menyusuri jalan setapak yang menurun. Kita harus menempuh sekitar 1,5 km untuk menuju lokasi air terjun.

Sedangkan Coban Jahe terletak di Dusun Begawan, Pandansari Lor, Jabung, Malang. Namanya memang cukup unik, Coban Jahe? Apakah karena lokasi air terjun ini dikelilingi tanaman jahe? Ternyata nama Jahe itu diambil dari bahasa Jawa “Pejahe” yang artinya meninggal dunia. Dinamakan begitu karena pernah ada satu regu tentara yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Tampaknya ada yang gugur/meninggal dunia dalam perlawanan itu. Seiring dengan perkembangan waktu, nama Pejahe pun lebih familiar dikenal menjadi Jahe saja. Saya juga sempat melihat ada makam pahlawan Kali Jahe ketika akan memasuki lokasi air terjun.

Berburu Pelangi

Perjalanan menuju lokasi air terjun sangat menyenangkan, apalagi jika beramai-ramai. Kami melewati jalan setapak dan juga sebuah jembatan. Karena kami tiba di saat musim hujan, sudah dipastikan jalan dan bebatuan yang kami pijak cukup licin. Tujuan kami memang berburu pelangi. Karena jika terlalu siang, kabut akan turun dan dengan begitu tidak ada pelangi yang muncul, jadi ketika tiba pada tengah hari itu, kami langsung berburu pelangi.

melewati jembatan menuju air terjun
melewati jembatan menuju air terjun
4
pelangi yang ada di aliran sungai, hihi, lumayan lah
ada beberapa lengkungan pelangi di belakang foto teman saya ini, can you see it?
ada beberapa lengkungan pelangi di belakang foto teman saya ini, can you see it?
ini dia Coban Pelangi
ini dia Coban Pelangi

Tidak lengkap rasanya jika tidak bermain-main air sebelum kembali pulang. Saat itu, baju saya cukup basah kuyup karena nyemplung ke sungai dan foto-foto di bawah air terjun. Waktu sampai rumah, baju saya sudah kembali kering karena kena angin dan terik matahari ketika naik sepeda motor hehe.

3
warna-warni di coban pelangi

Pertigaan, Belok Kiri!

Suatu hari saya dan Fitri mencari informasi tentang air terjun yang sekiranya jarang dikunjungi yang ada di Malang. Dan, kami pun menemukan tentang Coban Jahe ini.

Kami sama sekali tidak tahu arah jalan untuk ke sana. Katanya sih tidak jauh dari Coban Pelangi. Akhirnya kami pun nekat berangkat. Intinya ketika sampai di Tumpang, kami langsung belok kiri ke Desa Pandansari Lor. Setelah itu? Tanya penduduk setempat. Kami sempat tersesat beberapa kali dan bahkan hampir putus asa.
“Nanti ada pertigaan, belok kiri,” begitu jawaban orang-orang yang kami tanya tentang lokasi Coban Jahe. “Ini nanti terus, pertigaan, lalu belok kiri,” lagi-lagi belok kiri. Haish!

Saat itu kami tidak menemukan petunjuk arah yang jelas tentang lokasi air terjun. Setelah tanya sana-sini, kami pun mengikut jalan yang cukup parah karena berupa tanah dan melewati pematang sawah. Dan, tak lama kemudian sampailah kami di lokasi parkir. Lokasi parkirnya hanya berupa hamparan kosong yang dijaga oleh seorang bapak. Si bapak itu bilang hanya menjaga pada hari libur atau Minggu saja. Saat itu kami membayar 10ribu rupiah untuk empat orang termasuk ongkos parkir dua sepeda motor. Dari lokasi parkir, kami langsung jalan sekitar 100 meter untuk menuju lokasi air terjun.

jalan menuju lokasi air terjun, kami sempat melintasi sebuah makam juga
ini dia Coban Jahe
menikmati suara air terjun

Saat itu Coban Jahe tidak ramai. Tampaknya tempat wisata ini belum terlalu populer. Ketika kami baru sampai di lokasi air terjun, eh ada sepasang remaja (anak-anak beranjak remaja tepatnya) yang lagi berduaan dan tampaknya mereka sedang berciuman, hadeh, mentang-mentang sepi ini. Ketika mereka mendengar langkah kami, mereka berdua langsung kebingungan dan pura-pura membersihkan diri, haha.

Butuh perjuangan keras untuk sampai ke Coban Jahe ini. Tapi, semua terbayar dengan bisa sebebasnya menikmati keindahan air terjun yang masih sangat alami ini tanpa diganggu banyak orang. Saat itu mungkin hanya ada sepuluh pengunjung saja.

^_^
seperti ada di pinggir tebing yack😀
^_^

Karena hujan turun, kami pun bergegas kembali ke lokasi parkir dan pulang. Kami pun kembali menyusuri jalan setapak dan bebatuan. Karena sudah masuk waktu Zuhur, kami shalat Zuhur di sebuah Mushola kecil. Tampak ada beberapa bapak yang sedang mengaji di sana, sepertinya ada syukuran atau entah apa. Ketika selesai shalat, eh, kami dapat suguhan pisang goreng dan buah pisang. Alhamdulillah bisa untuk mengganjal perut.

rejeki mah nggak kemana😀

Menulis postingan ini makin membuat saya rindu untuk ngebolang lagi, huhu.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

3 thoughts on “Blusukan (2): Coban Pelangi & Coban Jahe”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s