Rencana B

Saya termasuk salah satu orang yang jarang menyiapkan rencana B untuk setiap hal yang saya lakukan. Simpelnya, jika bikin rencana, ya rencana itu harus terlaksana dan tidak boleh gagal.

Salah satu contohnya adalah ketika lulus dari SMA beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya hanya mengikuti tes SPMB saja. Beberapa teman yang lain ada yang mencoba PMDK dan tes-tes yang lain. Dengan kata lain, saat itu saya hanya menggantungkan nasib saya pada SPMB. Baru deh pas ada yang tanya gimana kalau saya nggak lolos SPMB, saya sempat bingung menjawab. Saya berpikir ya nanti saja dipikirnya, yang penting fokus di SPMB ini saja dulu. Alhamdullillah saya lolos SPMB waktu itu, kalau tidak?

Menurut saya dengan hanya memiliki satu rencana, saya bisa memfokuskan energi saya padanya. Jadi, kemungkinan untuk rencana itu bisa berhasil dan berjalan dengan baik bisa lebih besar. Memang ada rasa takut dan khawatir jika rencana itu tak akan berhasil. Namun, saya pikir gagal dan berhasil memang risiko dari sebuah rencana.

Kadang saya seolah berprinsip harus berhasil pada percobaan pertama. Hehe, mungkin memang terdengar agak berlebihan dan muluk-muluk. Akan tetapi sekali lagi, dengan begitu saya bisa berjuang mati-matian di percobaan pertama saya. Setidaknya dengan berjuang mati-matian, kemungkinan untuk berhasil tidak lagi fifty fifty tetapi ya setidaknya sixty forty. 

Saya juga sadar bahwa tidak memiliki rencana B memang kadang sangat berisiko. Tidak memiliki cadangan rencana bisa membuat segalanya berantakan. Ah, mungkin saya memang perlu menyiapkan rencana B tetapi tetap memfokuskan energi ke rencana A. Sounds better?

Well, setidaknya dengan hanya memiliki satu rencana, saya bisa fokus berdoa pada Sang Eksekutor Rencana, “Tuhan, saya tak punya rencana cadangan atau rencana B. Jadi, ya, tolong berhasilkan rencana A saya ini. Titik.”
Eh, kok jadi mekso… Hehe.

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

8 thoughts on “Rencana B”

  1. Hehe.. saya juga kalo diinget-inget sering nggak nyiapin rencana B. Waktu masuk SMA, cuma daftar 1 sekolah aja, tanpa mempertimbangkan bakal nggak lolos😀.. Waktu masuk kuliah, milih jalur PMDK juga cuma milih satu jurusan, tanpa milih jurusan lain sebagai cadangan.. Untungnya lolos hihihi

  2. dari fifty fifty jadi sixty fifty mba??
    Bukan sixty fourty??:mrgreen:

    doanya mantep itu mba.
    Aku pernah baca tulisan, intinya tentang “Alloh tidak akan menguji hamba-Nya diluar kemampuannya”.
    Waktu itu sih soal materi, jadi disitu disarankan untuk ngga menahan uang yang kita punya, sehingga meminimalisir pengeluaran yang tidak terduga. Kan sesuai kemampuan, kalau ada uang ditahan, berarti Alloh tau kalau dia masih mampu jika diberi “sedikit” ujian.

    Begitulah, jadi mirip2 gitu sama doa mba.
    “Ya Alloh, ngga ada cadangan nih, tolong usahakan yaa..”:mrgreen:

    1. ah iya, hihihi, saya salah, seharusnya sixty forty😀 tinkiyu koreksinya mbak…
      “Iya ya Allah, nggak ada rencana cadangan yang lain niy, jadi plis lancarkan dan berhasilkan satu2nya rencana yg saya punya ini” <— nambahin doanya lagi ^_^

  3. klo pas aku dulu, krn gak ada biaya utk daftar swasta. jdnya fokus spmb dulu br cari cadangan sekolah tinggi atau d3..
    tp utk adekku, skrg biayanya ada jd kebalikannya, cari aman dgn nyari swasta dan jd ‘kasur’ klo gak dpt negeri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s