Mengganti Belajar dengan Bermain

photo credit here

Jika anak-anak disuruh belajar biasanya mereka akan mengeluarkan seribu satu alasan untuk menolak. Tapi kalau diajak bermain, hayuk-hayuk aja. 

Itulah alasannya ketika saya memberi les anak-anak di rumah, saya tidak lagi menggunakan kata belajar. Tidak lagi, “Yuk, belajar!” tetapi “Yuk, main game!” Dan biasanya mereka langsung antusias. Bagi sebagian anak, belajar bahasa Inggris itu terasa sangat sulit. Bahkan pernah suatu kali saya bertanya ke salah satu anak, “Ini artinya apa?” Anak itu pun menjawab dengan ekspresi datar dan malas-malasan, “Mboh mbak, aku duduk wong Enggres (Tau deh mbak, aku bukan orang Inggris)” Grrr… rasanya saya ingin melempar anak itu ke planet Mars (eh?) hehe.

Alih-alih memberi mereka lembaran soal, saya pun hanya berusaha untuk memperkaya kosakata mereka. Memberi pengertian tentang aturan-aturan grammar juga rasanya masih belum waktunya. Jadi, saya lebih fokus untuk memperkaya kosakata mereka dengan bermain game sederhana.

Salah satunya adalah dengan bermain “ABC lima dasar”. Membuat kata dengan huruf awalan tertentu. Yang bisa menjawab atau menemukan kata yang tepat akan diberi poin (anak-anak paling suka jika diberi poin). Kemudian, saya membuat potongan-potongan kertas kecil. Satu kertas berisi satu kata. Saya membuat sekitar lebih dari 200 potongan kertas. Aturan permainannya cukup sederhana. Kami duduk melingkari sebuah meja. Potongan-potongan kertas itu saya sebar di meja dan saya balik semuanya (halaman yang berisi tulisan/kata menghadap ke bawah). Secara bergiliran, anak-anak mengambil satu kertas. Setelah membuka kertas dan melihat kata yang ada di kertas itu, anak-anak harus menebak artinya. Jika tidak bisa menjawab, maka dilempar ke anak lain. Dan tentu saja ada poin untuk setiap kata yang berhasil ditebak dengan benar.

Namanya anak-anak, kadang ada yang bertengkar, ngambek, dan ngeyel. Saya kadang bingung harus bagaimana, hehe. Ya, setidaknya ada minimal satu kata baru yang mereka kenal setiap bermain. Hmm, setelah ini harus cari ide game yang lain.

Jadi, mau belajar atau bermain?

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

4 thoughts on “Mengganti Belajar dengan Bermain”

  1. hayo hayoooo.. sering-sering share metode mengajar😀
    saya gak punya basic keguruan sih, kadang malah jadi agak takut kalo ngajar anak-anak.. padahal kepingin. Selama ini cari aman dengan ngajar anak SMP atau SMA

    1. hahaha, aslinya mah nggak sayang, luwih akeh ngamuk’e aku nang arek2 iki😀
      klo scrabble blm pernah (belum bikin medianya, mau beli juga belum sempet), sementara ini masih suka main fun riddle atau tebak kata2 aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s