Mengobrol untuk Menemukan

“Jawabnya alhamdulillah luar biasa gitu dong?” protes sahabat saya ketika saya menjawab pertanyaannya.

Setelah beberapa minggu tak bertemu, akhirnya kami menyempatkan untuk makan siang bersama hari Sabtu lalu. Dia menjemput saya di gang rumah saya. Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya dia datang juga. Ah, sahabat saya ini memang sudah sering tak tepat waktu, hehe. Mau marah tetapi ya percuma juga.

Dia pun menanyakan kabar saya. Saya jawab, “Yo ngene iki (ya gini-gini aja),” dia pun langsung menimpali, “Lho? Kok gitu? Jawabnya alhamdulillah luar biasa gitu dong?” Hehe, saya hanya tersenyum. Jika sudah memutuskan untuk bertemu dengan sahabat saya ini berarti kami sedang lagi di tengah kejenuhan dan masalah. Intinya butuh teman untuk bisa mendengarkan keluhan masing-masing.

Saya akui saya memang tak banyak bicara dengan orang yang baru saya kenal. Namun, jika saya sudah merasa nyaman dengan seseorang, saya bisa mengobrol panjang lebar dan sulit untuk berhenti. Hmm, malah mungkin ada orang yang menganggap saya terlalu misterius saking ‘pilih-pilihnya’ saya dalam mengobrol, hehe.

Saya dan sahabat saya memutuskan untuk ke Warung Spesial Sambal. Meskipun saya memang bukan penggemar masakan pedas, setidaknya saat itu, di sana lah saya bisa mengobrol dengan nyaman bersama sahabat saya. Kami pun mulai menceritakan beberapa kejadian terakhir yang kami alami. Masalah-masalah yang ada serta hal-hal yang tak mungkin dibicarakan dengan orang lain atau bahkan orang tua sendiri.

Sahabat saya tampak lelah dengan semua kegiatan yang dilakukannya di sekolah tempat ia mengajar. Ia ingin berhenti mengajar, tetapi ia sudah telanjur sayang dengan anak-anak didiknya. Masalah dan konflik dengan guru yang ada, perbedaan pendapat hingga membuatnya sakit hati dan tak dihargai. “Apa yang kamu lakukan kalau kamu ada di posisiku?” tanyanya. “Hmmm, berhenti kerja di sana,” jawab saya singkat, hehe, ya saya sudah punya pengalaman berhenti bekerja jadi saat ditanya seperti itu, langsung saja saya menyarankan untuk berhenti bekerja. Tapi ya bagaimana pun juga tidak semua hal bisa diselesaikan dengan berhenti begitu saja.

Saya pun menceritakan beberapa hal yang sering mengganjal pikiran saya. Salah satunya adalah tentang keyakinan saya terhadap sebuah mimpi saya. “Gimana ya, kadang aku tuh rasanya udah yakin, pasti bisa! Tapi kadang-kadang rasanya takut dan nggak percaya diri,” kata saya. “Bisa, bisa! Kamu pasti bisa,” katanya meyakinkan saya. Saya pun menambahkan beberapa hal yang tampaknya akan menghentikan langkah saya. Dia pun menambahkan, “Aku yakin kamu pasti bisa. Udah yakin aja.”

Usai menyantap makanan, kami malah semakin asyik ngobrol. Dengan mengobrol seperti ini, saya seperti bisa kembali menemukan sisi positif dari sesuatu. Berbagi sudut pandang dan menceritakan hal-hal yang tak bisa kami bagi dengan orang lain.

It is such a bless having a best friend after all🙂

photo credit here
photo credit here

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

3 thoughts on “Mengobrol untuk Menemukan”

  1. Senangnya bisa berbagi hal yang tidak bisa dibagi dengan yg lain.
    Saya juga termasuk yang seperti ini.

    Meski sama yg sudah dekat kadang. Pake pengaliasan untuk menutupi bahwa itu sebenarnya saya sendiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s