Mengingat Dunia Anak

Masih adakah kepingan memori masa kanak-kanak kita yang kita ingat sampai sekarang?

Saya sendiri memiliki beberap kilasan memori tentang masa kecil saya. Ketika TK, saya ingat bahwa saya pernah membuat sebuah karya di dalam kelas. Ketika karya itu sudah selesai, saya mendekat ke jendela. Kemudian saya mencari-cari wajah ibu saya. Ketika ibu melihat saya, saya pun menunjukkan karya tersebut ke ibu. Ibu pun tersenyum dan mengangguk. Saya juga masih ingat bahwa saya pernah bermain menjadi Pai Su Chen bersama teman-teman kecil saya kala itu. Di era 90-an drama seri siluman ular putih itu memang sangat marak. Saya pun ikut menggemari drama tersebut dan sering bermain peran bersama teman-teman saya dengan memakai nama karakter-karakter yang ada dalam drama itu, hehe.

Ketika SD, saya sangat menyukai beberapa acara anak yang ada di TV. Beberapa acara yang ada di TV ketika itu, antara lain Tralala Trilili, Pesta Ceria, dan Cilukba. Kadang juga saya ikut bernyanyi menirukan gaya Trio Kwek Kwek, Maisyi, Enno Lerian, bahkan juga Joshua. Beruntung saya masih bisa merasakan dunia anak-anak yang memang untuk anak-anak.

Permainan yang saya lakukan ketika SD pun masih bermain bola bekel, kempyeng (bermain dengan tutup botol minuman soda), lompat tali, gobak sodor, dan main raja-ratu. Setiap istirahat sekolah, saya dan teman-teman akan duduk di lantai depan kelas dan bermain bersama. Saya masih bisa merasakan betapa menyenangkannya bisa bermain bersama teman-teman saat itu, meski kadang masih juga suka ngambek kalau ada yang terlihat curang.

Baru beberapa bulan terakhir, saya mencoba untuk mengajar anak-anak. Dunia anak memang penuh warna. Satu perbedaan mencolok antara dunia anak era saya dengan dunia anak era saat ini adalah penggunaan gadget. Zaman saya dulu, mana ada handphone, telepon rumah saja masih beberapa orang saja yang punya. Permainan yang kami mainkan pun masih seputar permainan tradisional.

Ketika saya mengajar, saya merasa cukup kesal jika ada anak yang memainkan gadgetnya di dalam kelas. Kadang saya sampai harus merampas gadget mereka agar bisa fokus ke pelajaran. Hal-hal yang mereka obrolkan pun sekitaran aplikasi atau game terbaru. Penggunaan gadget pada anak-anak memang memiliki sisi positif dan negatif. Positif karena anak-anak bisa lebih tanggap teknologi, akses untuk belajar lebih mudah, dan pastinya bisa berkomunikasi dengan lebih mudah. Negatif karena banyaknya hiburan yang tersedia membuat anak-anak terlena dan tidak menghiraukan orang lain yang ada di sekitarnya.

Saat ini saya memang tidak lagi mengajar anak-anak di dalam kelas. Ah, kadang saya jadi merindukan suasana riuh bersama anak-anak. Setidaknya pengalaman mengajar anak-anak selama sekitar dua bulan ini menjadikan saya lebih mengenal diri saya. Dan, saya jadi mensyukuri telah memiliki dunia saya sendiri ketika masih anak-anak–dunia tanpa gadget canggih, tetapi penuh dengan keceriaan bermain bersama teman-teman.

photo credit here
photo credit here

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s