Pengalaman Suntik Vaksin (Lagi)

Masih lanjutan tentang rangkaian medical check up, saya harus suntik vaksin MMR (Measles, Mumps, dan Rubella) serta vaksin DPT. Berhubung di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang tidak menyediakan vaksin ini, saya pun disarankan untuk pergi ke rumah sakit ibu dan anak. Pilihan pun jatuh ke Rumah Sakit Hermina.

Datang ke RS Hermina dan tanya apakah ada vaksin ini. Ternyata ada, alhamdulillah. Sayangnya, yang bisa menyuntikkan vaksin MMR dan DPT ini adalah dokter spesialis penyakit dalam yang baru ada pukul 3 sore (saya datang sekitar pukul 10). Akhirnya, saya pulang ke rumah terlebih dahulu dan baru kembali pukul 3 sore.

Pukul 3 pas saya tiba dan dokternya masih belum datang. Jadilah, saya menunggu sekitar satu jam sebelum akhirnya dokter datang. Yang mengantri kebanyakan memang anak-anak dan ibu-ibu hamil. Hehe, saya jadi merasa canggung sendiri. Kemudian nama saya dipanggil. Dokter seperti akan menanyakan keluhan penyakit saya, dan saya pun bilang kalau saya hanya mau suntik vaksin MMR dan DPT.

Dokter langsung memeriksa kesehatan saya terlebih dahulu. Vaksin tidak bisa diberikan jika kondisi tubuh sedang sakit. Alhamdulillah, saat itu saya sedang dalam keadaan sehat. Karena saya memang mudah grogi kalau sudah masuk ke ruang dokter atau rumah sakit, jantung saya berdetak dengan cepat. Dokter yang memeriksa jantung saya dengan stetoskop pun jadi ketawa, “Nggak perlu grogi,” dan saya membuat alasan, “Nggak dok, tadi aja habis jalan cukup lama (jadinya detak jantung saya cepat).” Hehe, cuma alasan aja sih.

“Vaksin nggak bisa diberikan langsung berbarengan. Minimal harus ada jeda satu minggu.” Glek! Saya sempat panik, bagaimana ini, padahal semua medical check up dan suntik vaksin harus selesai dalam waktu tiga hari ini. Saya pun bilang kalau saya harus segera suntik vaksin MMR dan DPT dalam waktu tiga hari ini. Akhirnya, dokter bilang kalau memang tidak ada keluhan atau sakit setelah vaksin pertama maka vaksin kedua bisa langsung diberikan.

Hari Rabu sore itu saya minta vaksin MMR terlebih dahulu. Saya benar-benar berusaha menjaga kesehatan agar tidak sakit, alhamdulillah hari Jumat saya tidak sakit apalagi demam. Saya pun langsung mengirim sms ke dokter tersebut dan menyatakan kalau saya tidak sakit. Hari Jumat sore pun saya datang lagi ke RS Hermina untuk minta suntik DPT. Ketika suster sedang mencarikan vaksinnya, saya malah mengobrol dengan dokternya tentang bahasa Inggris, tes toefl, dsb. Hehe.

Ketika saya meminta surat keterangan bahwa saya sudah vaksin, saya disuruh langsung ke bagian informasinya. Suster yang ada bilang butuh waktu beberapa hari lagi untuk membuat surat itu. Lalu suster itu bilang bahwa dokter (yang menyuntikkan vaksin) baru ada lagi masih hari Rabu depan. Lho? Bukannya sekarang ini dokternya juga masih ada di ruangannya? Haiyah! Saya pun bilang kalau saya sudah harus mendapatkan surat keterangan hari itu juga, surat keterangan sementara pun tak apa. Suster sepertinya langsung bete begitu mendengar penjelasan saya. Saya pun menunggu.

Susternya mulai membuatkan sebuah surat dan mondar-mandir sambil bilang ke rekan susternya yang lain bahwa ia lapar dan belum sempat makan. Ia juga meminta tak diganggu dulu (karena sibuk membuat surat keterangan untuk saya itu). Ah, kenapa saya yang jadi merasa tak enak. Karena mungkin ia melihat saya mulai nggak sabaran menunggu, suster itu bilang ke rekannya untuk segera mempercepat menuliskan keterangan di surat karena “Sudah ditunggu pasien (aka saya),” katanya dengan suara yang cukup keras.

Akhirnya, surat keterangan vaksin (sementara) itu jadi. “Terima kasih ya mbak. Maaf merepotkan,” kata saya. Cukup lega juga karena akhirnya saya sudah suntik vaksin MMR dan DPT. Terakhir kali vaksin DPT sekitar tahun 90an waktu masih bayi dan tentu saja saya tak bisa mengingatnya sama sekali. Waktu SD juga pernah, dan samar-samar memang agak menyeramkan jika mengingat ada dokter yang masuk ke dalam kelas dan memanggil nama setiap murid untuk maju ke depan dan disuntik, hiiii.

Keesokan harinya, dokter sempat mengirim sms kepada saya menanyakan apakah ada keluhan setelah vaksin dua kali, saya menjawab tidak. Alhamdulillah saya tidak mengalami demam, paling cuma merasa sedikit cepat lelah saja. Dari pengalaman saya, suntik vaksin DPT lebih terasa nyeri/ngilu daripada suntik vaksin MMR. Selama tiga hari usai suntik DPT, lengan saya masih terasa ngilu.

Jujur saja saya memang masih takut dengan jarum suntik. Namun, sekali lagi saya mengatasinya dengan melihat langsung jarum suntik itu disuntikkan ke lengan saya. Hmm…sepertinya memang untuk mengatasi rasa takut itu sendiri adalah dengan menghadapi dan menerimanya secara langsung.

 

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

5 thoughts on “Pengalaman Suntik Vaksin (Lagi)”

  1. Wahhh di hermina ada ya. Kebetulan saya juga lagi cari vaksin MMR,VARICELLA, tetanus kira2 ada gk ya?? Btw bayar brapa kemaren bwt vaksin nya..

    Trimakasih🙂

  2. Mohon maaf kak,mau tanya. Saya juga mau vaksin MMR. Kalau boleh tau nama dokternya apakah dr Syifa Mustika ya? Biaya vaksin MMR berapa dulu? Mohon informasinya,terimakasih banyak

    1. iya dr. syifa :))
      wah, saya lupa ya berapa biayanya waktu itu. seingat saya ditambah biaya dokter & vitamin nyampe 300 ribu lebih. tapi itu taun 2013, jadi mungkin sekarang sudah berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s