Payung dan Hujan

Sewaktu saya masih kerja kantoran, saya sering pulang petang atau malam. Saat itu sedang musim hujan, jadi tak jarang saya berjalan pulang ke kost dengan memakai payung sambil mendengarkan lagu dari earphone yang tersambung dengan music player di ponsel saya. Jalan yang saya lewati adalah komplek perumahan yang bisa dibilang cukup elit (menurut ukuran saya). Satu rumah bisa memiliki lebih dari tiga ekor anjing penjaga. Kalau malam, sudah bisa ditebak bahwa suasana sangat sepi. Kadang saya berjalan dengan iringan lagu yang saya dengar dan suara kecipak air dari langkah kaki saya.

Saat itu jarak kost dan kantor sekitar sepuluh menit dengan jalan kaki cepat. Kalau pulang dari kantor, saya suka memperlambat jalan saya. Dengan jalan lambat, saya pun merilekskan pikiran saya sejenak untuk merangkai beragam impian. Saya kembali mencoba menata apa yang saya inginkan dalam hidup, apa yang akan saya lakukan di sisa hidup saya, apa yang bisa saya berikan untuk ibu dan bapak, apa yang bisa saya berikan untuk orang-orang di sekitar saya, dan ke mana saja kaki ini akan melangkah selanjutnya.

Saya terbiasa memecahkan sebuah masalah dengan berjalan kaki. Rasanya dengan berjalan kaki, saya bisa kembali mengurai benang kusut yang ada di dalam otak saya. Jika saya merasa kesal terhadap sesuatu, saya suka pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki, jadi ketika kembali pulang, mood saya sudah bisa agak membaik. Atau ya setidaknya dengan berjalan kaki saya akan merasa lelah, dan ketika sampai di rumah saya bisa langsung tidur dengan lelap.

Berjalan di tengah hujan ketika malam memberikan kesan tersendiri. Mungkin saya memang terlalu melebih-lebihkan, tapi saya sangat menyukai momen ketika saya berjalan dengan tenang sambil memegang payung  di tengah rintik hujan (bukan hujan deras apalagi hujan badai pastinya).

credit

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

13 thoughts on “Payung dan Hujan”

  1. Tapi memang kalau lg sumpek, teteh jg suka keluar dan jalan kaki, duuuh itu berpayung di tengah turunnya salju… Jd ingat kebiasaan tteh jg, payung merah ditengah2 salju yg putih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s