Kerja Tanpa Kantor

Orang-orang cenderung bertanya sekarang saya kerja di mana daripada sekarang kerja jadi apa. Beberapa tetangga malah bertanya kenapa nggak balik lagi ke Bandung. Ah, sejujurnya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat saya jengkel.

Bapak dan Ibu pun tampaknya cukup kebingungan ketika ada kolega yang bertanya anak-perempuannya-yang-baru-lulus-kuliah-tahun-lalu ini sekarang kerja di mana. Ketika kolega tersebut diberitahu kalau saya sekarang bekerja di rumah, pasti akan timbul pertanyaan lebih lanjut, kerja apa? serius bekerja di rumah bukan nganggur di rumah? kerja online? apa itu? Yah, seperti itulah. Ketika seorang ibu teman saya bertanya saya sekarang bekerja di mana, saya dengan ringan menjawab, “Bekerja di rumah,” dan ibu teman saya itu langsung mengerutkan dahi, “Kerja apa?” tanyanya lagi, ouwch! Bahkan ada seorang kawan ibu yang berkunjung ke rumah dan dengan seenaknya masuk ke dalam kamar saya dan melihat apa yang sedang saya kerjakan. Tidak bosan? tanyanya. Memangnya kalau saya bosan, anda mau apa? Begitu batin saya saat itu (entah kenapa saya merasa jengkel).

Sebagian besar orang yang saya kenal tidak begitu familiar dengan pekerjaan saya saat ini. Kadang saya harus berbusa-busa menjelaskan deskripsi dari pekerjaan saya saat ini. Dan, tidak semua mengerti. Well, I do not ask all people to understand it.

Kalau membandingkan gaji, saat ini gaji saya (dalam artian yang bisa ditabung dalam sebulan) lebih banyak dibandingkan gaji yang saya dapat ketika bekerja di kantor. Tapi, buat saya pribadi gaji bukanlah tujuan paling utama ketika saya bekerja. Yang terpenting buat saya adalah bagaimana saya bisa menggunakan kemampuan saya dengan sebaik-baiknya dan bagaimana saya menikmati pekerjaan saya.

Saat ini “kantor” saya adalah kamar saya sendiri. Di pagi hari, tidak perlu terburu-buru mandi dan dandan untuk pergi ke  kantor. Cukup dengan bangkit dari kubur  tidur lalu menyalakan komputer yang terletak hanya satu langkah dari tempat tidur saya, saya sudah bisa mulai bekerja. Menyenangkan? Tentu saja. Tetapi tetap saja ada dukanya. Karena pekerjaan utama saya menulis untuk konten web atau blog, jadi kadang ada rasa jenuh juga menulis topik yang sama berulang-ulang. Sampai-sampai ditegur “bos” karena artikel-artikel yang saya buat masih berputar-putar di itu itu saja, hanya kata-katanya saja yang dimanipulasi, hehe.

“Kerjo kok gak ono kantore (kerja kok nggak ada kantornya),” begitu kata bapak saya ketika menanggapi seorang kawan yang bertanya saya sekarang kerja di mana dan apa yang saya kerjakan di rumah. Kadang saya merasa tidak enak hati juga sama bapak dan ibu yang kelihatannya “tidak bangga” ketika menyebutkan kepada orang lain bahwa saya sekarang bekerja di rumah. Kadang ada keinginan untuk kembali bekerja di kantor, tetapi ada banyak hal yang ingin saya wujudkan dengan cara bekerja di rumah ini.

Seminggu yang lalu, saya memutuskan untuk kembali mengajar. Ada tawaran dari seorang teman untuk menggantikan tentor bahasa Inggris yang sedang absen. Saya pun berpikir, tidak ada salahnya juga diambil apalagi karena mengajar di tempat les itu juga ada di sore hari. Jadi, ya saya tetap bisa mengerjakan pekerjaan saya (menulis) dan sore harinya keluar sebentar untuk mengajar 1 jam kemudian balik ke rumah. Saya merasa dengan menyelingi kegiatan saya dengan mengajar, saya bisa sedikit merilekskan pikiran. Juga, agar tetap bisa menjaga kemampuan sosialisasi saya. Kemudian ada tawaran lagi dari sebuah Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) lain untuk menjadi tentor bahasa Inggris dan mengajar hanya seminggu sekali. Saya pun langsung menerimanya, ya hitung-hitung biar bisa berbagi apa yang pernah saya pelajari. Dengan “kelihatan” keluar rumah di sore hari, saya pun bisa sedikit membuat ibu dan bapak tidak kerepotan menjawab ketika ditanya saya bekerja di mana, “Jadi guru di LBB anu,” setidaknya ada keterangan tempat tentang “kantor” saya.

Bagaimana pun juga saya tetap berkomitmen untuk bekerja tanpa kantor, karena saya menyukainya dan menikmatinya. In the future, I want to build a home-based business in social media field. Jadi, ya karena impian masa depan saya adalah tetap bekerja dari rumah, biarlah saat ini saya cuek saja (meski telinga saya panas, hehe) dengan tanggapan miring atau cibiran tentang keputusan saya untuk ngantor di rumah. Tak apalah dikira menganggur, yang penting masih ada pemasukan ke dalam rekening saya setiap bulan🙂

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

6 thoughts on “Kerja Tanpa Kantor”

  1. Nice to read🙂

    Paradigma lama selalu dekat dg pertanyaan: “Kerja dimana?”
    Jarang sekali ada pertanyaan: “Gimana bisnismu?”

    BTW, kalo hobby kerja di rumah, udah pernah dengar telecommuting?

      1. Okey, silakan googling, dan semoga bisa menjadi bahan untuk artikel barumu.
        Perusahaanku juga menerapkan telecommuting untuk sebagian business unit-nya.

        Salah satu yg bagus dan terpercaya mengelola telecommuting adalah: https://www.odesk.com/
        Para pekerjanya tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

  2. huuuaaaaah… masalah yang sama.. bingung menjelaskan ke orang-orang sekitar.. Sempat berpikir cari kerja formal lagi, tapi tampaknya mulai besok malah balik nulis di rumah lagi😀

    Sebenarnya cukup menyenangkan, tapi masalahnya memang di sisi kebutuhan sosialisasi dan juga…. merasa kurang membanggakan orang tua.. karena ketika ditanya anaknya kerja di mana, merekapun agak bingung menjelaskan ;)) Nggak seperti orang tua lainnya yang langsung sigap menjawab, menyebutkan nama sebuah perusahaan dengan jelas.

    Kepikiran juga mau cari kerja formal sebagai side job.. kerjaan utamanya ya tetap nulis di rumah :))

    1. bener banget mbak (sepertinya kita berada di dalam kondisi yang sama, hehe).
      mbak kerja di bidang apa?
      saya juga kepikiran ngejadiin kerjaan kantoran sebagai side job dengan kerja di rumah sebagai kerjaan utama, hehe, seru kayaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s