Perjalanan Kereta

Tiba-tiba saja saya rindu menikmati pemandangan dari balik jendela kereta.

Pertama kali saya naik kereta itu pada tahun 2009. Pengalaman yang tak terlupakan, pertama kalinya naik kereta, saya langsung naik kereta Matarmaja (Malang-Jakarta). Semalaman penuh saya tak bisa tidur. Para pedagang asongan hilir mudik menjajakan dagangannya setiap beberapa menit sekali (atau malah setiap menit?).

Kemudian ke Yogyakarta bersama tiga teman kuliah. Saat itu kami backpacking mengisi waktu liburan semester. Dari Malang, kami naik kereta Penataran hingga ke Stasiun Gubeng Surabaya. Kemudian, lanjut naik kereta Logawa hingga Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Saking lamanya menghabiskan waktu di dalam kereta, kami sampai kehabisan bahan obrolan sambil tetap sesekali mengomentari pemandangan yang kami lihat dari balik jendela.

Waktu pertama kali ke Bandung tahun 2010, saya juga naik kereta sendirian. Kereta yang saya naiki adalah Malabar (Malang-Bandung). Menghabiskan waktu sekitar 17 jam di dalam kereta. Membosankan? Saya rasa tidak juga. Saya sangat menikmati setiap hal yang saya lihat dan rasakan. Saya sudah beberapa kali naik kereta Malabar, dan entah mengapa saya tiba-tiba rindu ingin naik kereta ini lagi.

Malang-Bandung 17 jam

Pernah suatu kali, saya memilih untuk naik kereta ekonomi sebanyak tiga kali dari Bandung ke Malang seorang diri. Sekitar pukul 20.30 saya naik kereta Kahuripan dan turun di Stasiun Lempuyan Yogyakarta pada pukul 06.00. Kemudian, saya membeli tiket kereta Sri Tanjung untuk menuju Surabaya yang berangkat pukul 07.30. Sembari menunggu kereta, saya sempatkan untuk mandi (kamar mandinya lumayan bersih dan gratis pula) dan sarapan dahulu. Kemudian, sekitar pukul 14.00 saya turun di Stasiun Wonokromo Surabaya. Menunggu sekitar 1,5 jam untuk lanjut ke Malang naik kereta Penataran. Tiba di Malang sekitar pukul 18.00. Melelahkan? Jangan tanya lagi, hehe.

what’s your next destination?

Saya pernah merasakan “terdampar” di Stasiun Tugu Yogyakarta hingga pukul 02.00 dini hari. Saat itu kereta datang terlambat. Rasa kantuk benar-benar tak tertahankan. Begitu saya sudah berada di dalam kereta, saya langsung tidur hingga sampai di Malang.

Stasiun Tugu Yogyakarta pukul 02.05 dini hari
Stasiun Tugu Yogya

Apa yang saya cari dengan melakukan perjalanan menggunakan kereta? Sebenarnya, ada banyak hal. Duduk di dalam kereta sambil melihat kilasan-kilasan tempat yang saya lewati dari balik jendela menimbulkan sebuah memori tersendiri. Seolah saya sedang berjalan mundur, padahal kereta yang saya naiki berjalan maju.

Adakah yang mau mengajak saya bertualang menjelajah kota dengan naik kereta?🙂

 

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

12 thoughts on “Perjalanan Kereta”

  1. Kalo saya naik kereta hanya jarak dekat saja, solo-jogja naik prameks, prambanan express… asyik juga walau penumpangnya sering penuh dan kadang lesehan. Salam kenal dari kota solo

  2. klo tidur di kereta/stasiun sendirian gt serem ga sih mbak?
    aku juga dr jogja mw ke bandung sendirian, mw naik malabar,
    dr jogja malem sampe sana pagi bgt..

      1. klo di stasiun tugu menurut mbak gmn? cz sampe sana jam 2an dini hari,, mw tidur dulu sampe subuh trus baru pulang skitar jam 5..

      2. wah, saya belum pernah tidur di stasiun hehe. cuman dulu pernah dari jam setengah 4 sampe pagi di sana (tapi nggak tidur), cukup rame dan sepertinya aman juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s