Repost: Borobudur Heritage Camp 2009

Tahun 2009 lalu, saya mengikuti Borobudur Heritage Camp yang diselenggarakan oleh IIWC. Waktu itu saya ikut karena penasaran seperti apa sih rasanya ikut work camp bareng sama peserta dari luar negeri. Selain itu hitung-hitung buat sekalian ngisi waktu liburan semester kuliah. Waktu itu, untuk peserta dari Indonesia dikenakan biaya 400.000 rupiah sedangkan peserta asing dikenakan biaya kalau tidak salah 2.100.000 rupiah. Saat itu yang jadi leader dan co.leader ada Mbak Luluk sama Mbak Vidya. Pesertanya Indonesia hanya ada saya dan Rini. Sedangkan yang dari luar negeri ada Shintaro (Jepang), Faustine (Prancis), Audrey (Belgia), Andrea (Belanda), Yvone dan Ramona (kakak adik dari Jerman), sama ada lima peserta lagi.

sudah 3 tahun berlalu sejak hari itu

Selama dua minggu kami tinggal di rumah Pak Maladi. Ada beberapa program yang dikerjakan seperti training Young Guardian, kampanye langsung di Borobudur, bikin poster, bagi-bagi leaflets, cari orang buat ngisi kuesioner, dan seru-seruan bareng sama anak-anak SMA yang ada di Magelang. Namanya ngumpul dan kerja bareng, ya ada saja konflik yang terjadi. Dari kebiasaan, selera makan, dan sebagainya.

Saat itu saya cukup dekat dengan Shintaro (tapi sepertinya Shintaro memang mudah dekat dengan siapa saja, bahkan anak-anak SMA yang ada di sana suka memanggilnya Shin Chan). Kami mengobrolkan banyak hal. Salah satu yang saya ingat adalah pada malam hari sepulang dari acara Opening Ceremony Borobudur International Festival, saya dan Shintaro berjalan bersama. Lalu dia bilang, “In Japan, we cannot see stars on the sky like this. Saat itu langit malam sedang cerah bertabur bintang-bintang. “Why?” tanyaku. “Because there are many lights from the buildings,” jawabnya. Kemudian dia bergumam, “It’s beautiful.”

Sewaktu berbelanja ke pasar tradisional, Shin sempat ditawari seorang ibu untuk membeli cobeknya. Waktu aku menerjemahkan maksud si ibu kepada Shin, Shin hanya tertawa.  Satu lagi yang paling saya ingat. Waktu itu saya dan Shin akan menuju pintu keluar Borobudur, lalu ada seorang remaja laki-laki yang menawarkan barang dagangannya yang berupa wayang kepada Shin. Remaja itu fasih berbahasa Jepang. Waktu saya tanya kenapa dia bisa lancar berbahasa Jepang, dia bilang karena sering latihan dan ketemu orang Jepang saja.

Salah satu yang paling berkesan lagi adalah berkesempatan tampil di panggung di acara Borobudur International Festival dan bernyanyi bersama. Saat itu ada sebuah lagu yang diciptakan oleh Mas Medy (semoga saya tak salah menyebut nama). Dia bisa dibilang seorang musisi juga. Kami dan beberapa anak SMA tampil bersama dan menyanyikan lagu yang berjudul Borobudur ini.

It finally opened my eyes
The beauty of history
It is destiny…for me to be right here
Hope it’ll never fade away
Forever it will stay
Borobudur…the wonder of the world
Suddenly, a whisper comes to me
Make me sing, a joyful melody
That’s why we’re here
To keep all the harmony…and treasure that will keep

Borobudur
Terbuka mataku, dengan bijak sinarnya
Janji mentari dan indahnya pagi
Tatapan bersahabat, senyum sapa hangat
Sehangat tungku tanah, warga desa ramah
Merdu….terdengar suara
Senandung langgam tembang jawa
Cerita tentang kejayaan manusia
Peradaban insan di masa lalu

It finally opened my eyes
The beauty of history
It is destiny…for me to be right here
Hope it’ll never fade away
Forever it will stay
Borobudur…the wonder of the world
Suddenly, a whisper comes to me
Make me sing, a joyful melody
That’s why we’re here
To keep all the harmony…and treasure that will keep
One-two-three-four! Borobuduuuuur…!!!

Opening Ceremony BIF 2009

Waktu itu saya sempat sakit bertepatan di free days. Jadi, saya harus tinggal di home stay sendirian, sedangkan peserta yang lain pada liburan, hiks. Sempat jalan-jalan ke Desa Maitan naik dokar, keliling desa melihat aktivitas penduduk setempat. Bagi saya sih sebenarnya biasa saja, hehe, seperti berkeliling di kampung nenek saya. Main-main juga ke Rumah Seni di dekat Kali Eloprogo.

Rasanya ingin kembali ikut work camp dan menemukan pengalaman-pengalaman baru lagi.

miss you all🙂

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s