Bepergian Tanpa Tujuan

Bagi saya, hanya ada satu cara mengatasi rasa bosan dan jenuh: pergi keluar rumah. Bisa ke mana saja, asalkan bisa melihat hal-hal baru, merasakan udara yang berbeda, dan menjauhkan diri dari rutinitas yang ada sejenak. Beberapa saat yang lalu, saya merasa benar-benar jenuh dan ingin segera keluar, entah ke mana. Langsung saja saya mengirim sms ke Ika, salah satu sahabat terbaik saya. Saya utarakan keinginan saya untuk bisa mbolang.

Rupanya Ika juga ingin menghilangkan rasa suntuknya. Saat itu, kami langsung memutuskan untuk bertemu siang hari atau sore harinya (usai saya menyelesaikan pekerjaaan saya). Sayangnya, saat itu turun hujan yang lumayan deras. Baiklah, rencana berubah. Kami memutuskan untuk bertemu keesokan paginya. Saya putuskan baru akan menyelesaikan pekerjaan pada siang harinya saja.

Keesokan paginya sekitar pukul sembilan, saya pun bertemu Ika. Ingin pergi ke suatu tempat, tetapi tak tahu mau kemana. Hiyaaa… Akhirnya, saya pun hanya menuruti Ika yang memegang kendali penuh atas sepeda motornya (saya mah sebagai penumpang ya manut aja sama sopirnya, hehe).

Sebenarnya ada banyak tempat wisata di Batu yang bisa dikunjungi. Namun, kami lebih memilih untuk melintasi jalan kota Batu. Sebenarnya saya ingin ke Paralayang (belum pernah ke sana soalnya, hiks), tetapi apa mau dikata Ika tak menghendakinya. Salah satu cara terampuh saya untuk menghilangkan rasa suntuk dan jenuh sebenarnya adalah dengan menuju ke suatu tempat yang sejuk dan syukur-syukur kalau berada di ketinggian. Menikmati pemandangan kota dari ketinggian (gunung atau bukit) benar-benar melegakan.

Kami pun melanjutkan perjalanan dengan melewati daerah Pesanggrahan, Songgoriti, Wisata Payung, dan mengikuti jalan utama Pujon hingga Ngantang. Kami sempat melewati Waduk Selorejo dan Grojogan Sewu. Tapi hanya melintasinya saja, padahal mupeng banget bisa ke sana. Semakin lama jarak yang ditempuh semakin jauh hingga ke daerah Pare. Sempat berhenti sejenak hanya untuk mengambil beberapa foto di pinggir jalan.

Kami memutuskan untuk berhenti di Alfamart di daerah Pare. Saya hanya membeli sebuah es krim (hehe, kalau sudah ‘ngidam’ es krim begini tandanya saya memang ada titik terjenuh). Setelah berhenti sejenak, kami putuskan untuk kembali ke Batu. Begitu saja, menempuh perjalanan jauh hanya untuk mampir ke Alfamart dan kembali pulang. Saya belum menyentuh pekerjaan saya sama sekali jadi harus pulang secepatnya biar nggak mangkir dari deadline. Hehe.

Memang saat itu kami tak memiliki tujuan pasti akan pergi ke mana. Dan, ya, ternyata menyenangkan juga bisa melakukan sesuatu yang ‘tidak biasa’. Setidaknya bisa sedikit rehat dari rasa jenuh yang melanda.

Masih menantikan perjalanan-perjalanan yang berikutnya…

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

2 thoughts on “Bepergian Tanpa Tujuan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s