Manusia Pagi

Setiap pagi, kita dihadapkan pada dua pilihan.

Bergembira bersama sinar pagi. Atau, semakin  bergelung bersembunyi dari matahari.

Rasanya malu pada diri sendiri. Masih (terlalu) sering kembali menutup pintu-pintu mimpi di pagi hari. Kembali berjanji-janji pada waktu. Menggumam bahwa masih akan ada sinar yang sama esok pagi. Esok akan masih sama. Berjumpa dengan matahari yang sama.

Mungkin memang masih akan (selalu) bersama sinar yang sama. Sayangnya, sama tapi berbeda.

Detik tak akan terulang. Kita bisa saja memutar balik jarum jam.

Tapi, berada di masa pagi yang sama seperti pagi ini? Menjadi manusia pagi yang sama seperti kita di pagi ini?

 

 

Author: Endah Wijayanti

word carver | web content editor | life traveler | librocubicularist | blogger penulisonline.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s